Respons Kiai Ma'ruf Atas Keberhasilan Pemerintah Kuasai Saham Freeport
Sabtu, 22 Desember 2018 - 21:16 WIB
Respons Kiai Ma'ruf Atas Keberhasilan Pemerintah Kuasai Saham Freeport
A
A
A
JAKARTA - Keberhasilan pemerintah Joko Widodo (Jokowi) yang berhasil menguasai 51,2 persen saham Freeport diapresiasi Cawapres nomor urut 01, KH. Ma'ruf Amin. Apresiasi itu disampaikan Kiai Ma'ruf di sela-sela silaturahmi dengan ulama NU di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/12/2018).
Kiai Ma'ruf memuji cara Presiden Jokowi yang mengambil saham Freeport dengan cara cantik dan tanpa menimbulkan kegaduhan.
"Kita harus memberi apresiasi tinggi karena kita sudah berhasil mengambil alih saham Freeport, dari 9 persen jadi 51 persen," kata Kiai Ma'ruf.
Calon Pendamping Jokowi pada pemilu presiden 2019 itu memandang kepemilikan Indonesia atas saham Freeport bukanlah sesuatu yang mudah. Karena selama 50 tahun lebih, kepemilikan Indonesia atas tambang di wilayah Papua itu hanyalah 9 persen.
"Perolehan 51 persen saham itu luar biasa. Beberapa presiden tak mampu ambil itu. Pak Jokowi luar biasa bisa mengambil porsi 51 persen," katanya.
Menurutnya, sebagai ulama senior berusia lebih dari 70 tahun, Kiai Ma'ruf mengetahui bahwa soal Freeport selalu mengundang kegaduhan. Maka itu, salah satu kehebatan Jokowi yang diakuinya adalah bagaimana proses pengambilalihan 51 persen saham Freeport terjadi tanpa ada kegaduhan.
"Sangat cantik caranya bisa memperoleh 51 persen saham ini. Pasti dilakukan dengan diplomasi dan pendekatan sehingga tak gaduh," kata Kiai Ma'ruf.
Sebelum Freeport, kata Ma'ruf, Jokowi juga dianggap berhasil mengembalikan Blok Mahakam dan Blok Rokan juga patut diapresiasi, Bagi Abah, sapaan akrabnya, semua itu merupakan keberhasilan luar biasa dalam membangun indonesia lebih baik.
Mantan Rais Aam PB NU itu juga meminta agar para pihak tidak nyinyir atas prestasi itu. Yang dimaksudnya adalah para lawan politik Jokowi. Dengan alasan pembelian saham itu didanai oleh utang.
Menurut Ma'ruf , utang dalam bisnis itu adalah hal biasa. Bahkan dalam kadar tertentu, bisnis mewajibkan adanya utang sebagai bagian dari aset. Yang penting, utang itu diambil untuk sesuatu yang bisa dikembangkan secara produktif, seperti tambang Freeport itu.
"Dalam bisnis itu, ambil utang, bisnis berjalan, utang dibayar, lalu utang lagi untuk mengembangkan bisnis. Itu biasa. Tak masalah sepanjang bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa dikembalikan lewat produksi," bebernya.
"Jadi saya kira pengambilalihan saham Freeport ini justru harus diberi penghargaan. Jangan dinyinyiri oleh isu-isu yang sebenarnya tak perlu," pungkasnya.
Kiai Ma'ruf memuji cara Presiden Jokowi yang mengambil saham Freeport dengan cara cantik dan tanpa menimbulkan kegaduhan.
"Kita harus memberi apresiasi tinggi karena kita sudah berhasil mengambil alih saham Freeport, dari 9 persen jadi 51 persen," kata Kiai Ma'ruf.
Calon Pendamping Jokowi pada pemilu presiden 2019 itu memandang kepemilikan Indonesia atas saham Freeport bukanlah sesuatu yang mudah. Karena selama 50 tahun lebih, kepemilikan Indonesia atas tambang di wilayah Papua itu hanyalah 9 persen.
"Perolehan 51 persen saham itu luar biasa. Beberapa presiden tak mampu ambil itu. Pak Jokowi luar biasa bisa mengambil porsi 51 persen," katanya.
Menurutnya, sebagai ulama senior berusia lebih dari 70 tahun, Kiai Ma'ruf mengetahui bahwa soal Freeport selalu mengundang kegaduhan. Maka itu, salah satu kehebatan Jokowi yang diakuinya adalah bagaimana proses pengambilalihan 51 persen saham Freeport terjadi tanpa ada kegaduhan.
"Sangat cantik caranya bisa memperoleh 51 persen saham ini. Pasti dilakukan dengan diplomasi dan pendekatan sehingga tak gaduh," kata Kiai Ma'ruf.
Sebelum Freeport, kata Ma'ruf, Jokowi juga dianggap berhasil mengembalikan Blok Mahakam dan Blok Rokan juga patut diapresiasi, Bagi Abah, sapaan akrabnya, semua itu merupakan keberhasilan luar biasa dalam membangun indonesia lebih baik.
Mantan Rais Aam PB NU itu juga meminta agar para pihak tidak nyinyir atas prestasi itu. Yang dimaksudnya adalah para lawan politik Jokowi. Dengan alasan pembelian saham itu didanai oleh utang.
Menurut Ma'ruf , utang dalam bisnis itu adalah hal biasa. Bahkan dalam kadar tertentu, bisnis mewajibkan adanya utang sebagai bagian dari aset. Yang penting, utang itu diambil untuk sesuatu yang bisa dikembangkan secara produktif, seperti tambang Freeport itu.
"Dalam bisnis itu, ambil utang, bisnis berjalan, utang dibayar, lalu utang lagi untuk mengembangkan bisnis. Itu biasa. Tak masalah sepanjang bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa dikembalikan lewat produksi," bebernya.
"Jadi saya kira pengambilalihan saham Freeport ini justru harus diberi penghargaan. Jangan dinyinyiri oleh isu-isu yang sebenarnya tak perlu," pungkasnya.
(pur)