Memperbaiki Arah Kampanye 4.0

Rabu, 17 Oktober 2018 - 07:31 WIB
Memperbaiki Arah Kampanye...
Memperbaiki Arah Kampanye 4.0
A A A
Bambang Arianto Peneliti LPPM dan Dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta

MENCIPTAKAN kampanye politik damai dalam jaringan (daring) tentu lebih sulit ketimbang luar jaringan. Pasalnya, model kampanye dalam jaringan terutama di media sosial kerap diwarnai caci maki dan pertunjukan banalitas hoaks. Dikatakan demikian karena kampanye politik digital yang lebih dominan memegang kendali dan menguasai percakapan adalah para tim cyber army yang terlatih, mulai dari buzzer, influencer, hingga para akun robot. Meski banyak pulainfluencer yang merupakan akun-akun tokoh politisi yang disegani, namun tetap saja yang bermain adalah para admin yang memang banyak berasal dari buzzerprofesional. Apalagi dalam konteks ranah digital sepak terjang para buzzer akan sangat sulit dicegah mengingat banyak dari mereka yang menggunakan akun-akun anomin. Hal itu bisa dilacak hingga saat ini perang antar-buzzermasih tetap menggunakan berbagai konten hoaks, berita bohong, hingga ujaran kebencian.

Apalagi, dalam langgam politik digital, pemanfaatan hoaks telah menjadi sebuah keniscayaan. Biasanya hoaks yang telah diracik oleh para konten kreator kemudian disebarluaskan oleh para buzzer anonim sesuai dengan kondisi geografis masing-masing. Itu mengapa, dalam leksikon buzzer politik, disebutkan ada relasi positif dan saling ketergantungan antara buzzer yang bermaterikan akun anomin dengan konten hoaks. Dikatakan demikian karena “konten utama” dari para buzzer adalah hoaks dan ujaran kebencian. Tujuannya adalah untuk menyerang, menjatuhkan lawan politik, hingga menjadi opini penekan dalam setiap kontestasi politik baik lokal maupun nasional.

Teatrikal Hoaks

Namun, yang lebih menarik adalah hoaks kian bertransformasi menjadi serpihan-serpihan yang berbentuk teatrikal atau sandiwara. Dalam teatrikal hoaks tentu ada yang dinamakan “sandiwara” yang telah didesain sedemikian rupa untuk mengganggu atau merusak konsentrasi lawan politik. Para pelaku tidak sebatas pemain tunggal, tapi melibatkan banyak orang dengan peran yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai tokoh yang dikorbankan hingga ada yang ditugasi sebagai konten kreator. Kemudian ada yang bertugas mendistribusikan hoaks melalui media sosial serta ada yang berperan mengagitasi dan memprovokasi publik dengan menggunakan trending topic. Terakhir ada pula sosok kunci yang dipersepsikan sebagai figur yang paling dibutuhkan untuk mengatasi kekacauan tersebut. Tujuan dari teatrikal ini adalah agar tercipta instabilitas guna menjatuhkan wibawa dan kredibilitas lawan politik.

Teatrikal itu sungguh berbahaya karena digunakan untuk memutarbalikkan fakta dan opini sekaligus upaya mendongkrak citra kandidat politik pilihannya. Jikalau serpihan teatrikal hoaks ini terus mengalir, bisa dipastikan akan membawa dampak buruk terhadap penguatan literasi digital kewargaan. Sebab, biasanya hoaks yang dilontarkan ke ruang publik tentu akan tersimpan dalam nalar kognisi warga yang bisa merusak akal sehat. Jika sudah demikian, maka akan diiringi oleh reproduksi hoaks secara organik. Artinya, ada kecenderungan hoaks tersebut akan dilanjutkan dengan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Apalagi, dengan minimnya literasi digital kewargaan membuat teatrikal hoaks cukup efektif menarik simpati publik. Sebab, publik masih memiliki kecenderungan untuk lebih menyukai isu-isu yang terkesan subjektif dan sederhana ketimbang informasi lain yang lebih substansial seperti ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, hingga politik pemerintahan.Artinya, hingga saat ini hoaks dengan berbagai variannya masih cukup efektif digunakan untuk menyerang lawan politik, terutama bagi pihak yang tidak memiliki rekam jejak yang bisa dibanggakan secara substansial.

Kampanye Kreatif

Sebab itu, untuk membenamkan sampah digital yang digulirkan oleh para buzzer harus ada komitmen bersama semua komponen anak bangsa untuk memperbaiki arah kampanye 4.0. Satu di antara alternatif yakni mengajak partisipasi aktif para warganet dan generasi milenial untuk menciptakan model kampanye kreatif 4.0. Dalam konteks ini kampanye kreatif merupakan proses yang dirancang sebagai komunikasi politik dengan cara-cara yang unik, jenaka, plesetan, dan humor. Konten kampanye bisa berbentuk musik, video, aplikasi game dan meme yang mengedepankan kreativitas humor dan seni. Dengan kata lain, kampanye kreatif 4.0 ini sejatinya bisa mengajak para kandidat politik, para relawan, hingga buzzerpolitik untuk bisa mengemas alat peraga kampanye dengan nilai-nilai kreativitas.

Tujuannya, agar kampanye dapat lebih efisien, efektif, menghibur, dan dapat diterima oleh para pemilih dengan baik sehingga model kampanye politik ini bisa turut mengidentifikasi masalah faktualyang dirasakan oleh rakyat secara langsung. Sebab, sudah bukan saatnya lagi kampanye menawarkansolusi imajiner yang abstrak,apalagi yang tidak memiliki basis pemecahanmasalah (problem solving). Tidak hanya itu, memperbaiki arah kampanye 4.0 tentu akan banyak memberikan manfaat di antaranya;

Pertama, sebagai sarana transformasi pengetahuan politik. Pengetahuan ini mengacu pada bentuk konsep, informasi, dan pertimbangan faktual mengenai sistem politik dan pemerintahan. Kedua, merupakan keterampilan intelektual terkait kepiawaian dalam menggambarkan, menginterpretasikan, dan menilai fenomena politik. Kepiawaian ini untuk membatasi terjadinya fanatisme yang berlebihan dari satu kesatuan politik. Ketiga, sarana untuk membangun partisipasi dan gotong-royong politik berbasis nilai-nilai kebangsaan. Partisipasi dan gotong-royong ini dapat menjadi bekal rakyat untuk memaksimalkan interaksi dengan orang lain dan kelompok sosial lain dalam menyusun keputusan-keputusan politik.

Dengan demikian, memperbaiki arah kampanye 4.0 dapat menjadi alternatif membenamkan sampah digital berupa hoaks dan sekaligus wahana edukasi politik kewargaan. Dengan begitu, kita telah berpartisipasi menggiring terciptanya kampanye damai yang kreatif dengan tetap berbasis literasi politik. Sebab, membangun kesadaran pemilih tanpa memperbaiki model kampanye politik sama artinya bermimpi di siang bolong.
(mhd)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Masa Pandemi Jadi Momentum...
Masa Pandemi Jadi Momentum Tepat Kampanye Pentingnya Cuci Tangan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved