Kiai Muda Cianjur Nilai Pelabelan Ulama Bagi Sandiaga Uno Hal Lucu
Kamis, 20 September 2018 - 22:12 WIB
Kiai Muda Cianjur Nilai Pelabelan Ulama Bagi Sandiaga Uno Hal Lucu
A
A
A
JAKARTA - Pemberian gelar ulama oleh Wakil Ketua Dewan Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid kepada bakal calon wakil presiden (Cawapres) Sandiaga Uno kembali mendapat reaksi keras dari sejumlah pihak.
Setelah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin yang juga bakal cawapres Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakan pemberian gelar ulama ini. 'Kaum sarungan' dari Cianjur, Jawa Barat juga menyebut pemberian gelar ini sebagai hal yang lucu.
"Pelabelan (ulama) ini terlalu lucu, kenapa bisa segampang itu. Pemberian gelar ulama itu butuh waktu cukup lama. Kami sebagai kaum sarungan saja tidak semudah itu dapat gelar ulama," ujar Ketua Forum Kiai Muda Cianjur (FKMC), Chevy Hibbatullah di sela-sela Istighosah dan Doa Kebangsaan serta Deklarasi Jokowi-Ma'ruf Amin di pesantren Miftahul Huda Al Musri, Cianjur, Kamis (20/9/2018).
Chevy pun tak setuju jika pemberian gelar ulama terhadap Sandiaga lebih didasarkan pada cawapres Prabowo Subianto ini lebih banyak mengaplikasikan ajaran Islam dalam setiap kegiatannya.
"Tetap ada proses panjang yang harus dilalui. Sebulan kemarin baru disebut sebagai santri. Masa sebulan kemudian sudah dilabeli ulama. Kami saja mondok di pesantren 15 tahun, saat kembali ke masyarakat tidak langsung disebut ulama, masih ustaz," tandasnya.
Dalam kesempatan ini, FKMC juga mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2019. Pihaknya mengklaim lebih dari 50% suara santri milenial di Cianjur akan mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf.
"FKMC menolak radikalisasi dan tagar #2019GantiPresiden, gerakan yang bertentangan dengan Pancasila serta UUD 1945 dan politisasi agama. Kita ingin siasah (politik) dijalankan dengan rahmatan lil alamin," tegas Chevy.
Setelah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin yang juga bakal cawapres Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakan pemberian gelar ulama ini. 'Kaum sarungan' dari Cianjur, Jawa Barat juga menyebut pemberian gelar ini sebagai hal yang lucu.
"Pelabelan (ulama) ini terlalu lucu, kenapa bisa segampang itu. Pemberian gelar ulama itu butuh waktu cukup lama. Kami sebagai kaum sarungan saja tidak semudah itu dapat gelar ulama," ujar Ketua Forum Kiai Muda Cianjur (FKMC), Chevy Hibbatullah di sela-sela Istighosah dan Doa Kebangsaan serta Deklarasi Jokowi-Ma'ruf Amin di pesantren Miftahul Huda Al Musri, Cianjur, Kamis (20/9/2018).
Chevy pun tak setuju jika pemberian gelar ulama terhadap Sandiaga lebih didasarkan pada cawapres Prabowo Subianto ini lebih banyak mengaplikasikan ajaran Islam dalam setiap kegiatannya.
"Tetap ada proses panjang yang harus dilalui. Sebulan kemarin baru disebut sebagai santri. Masa sebulan kemudian sudah dilabeli ulama. Kami saja mondok di pesantren 15 tahun, saat kembali ke masyarakat tidak langsung disebut ulama, masih ustaz," tandasnya.
Dalam kesempatan ini, FKMC juga mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2019. Pihaknya mengklaim lebih dari 50% suara santri milenial di Cianjur akan mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf.
"FKMC menolak radikalisasi dan tagar #2019GantiPresiden, gerakan yang bertentangan dengan Pancasila serta UUD 1945 dan politisasi agama. Kita ingin siasah (politik) dijalankan dengan rahmatan lil alamin," tegas Chevy.
(kri)