Pemilu 2019, Din Minta Politik Identitas Tak Tampilkan Kebencian
Selasa, 03 Juli 2018 - 17:11 WIB
Pemilu 2019, Din Minta Politik Identitas Tak Tampilkan Kebencian
A
A
A
JAKARTA - Gelaran Pilkada Serentak 2018 sukses digelar di 171 daerah. Pesta demokrasi di tingkat lokal ini berlangsung damai, bersih dari residu politik identitas yang sebelumnya sempat menjadi momok publik di Tanah Air.
Kini, Indonesia tengah menyongsong Pemilu 2019. Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP DKAAP), Din Syamsuddin berharap politik identitas tidak dipolitisasi untuk memecah belah masyarakat.
Bagi Din, identitas kekitaan atau SARA melekat pada diri manusia. Setiap agama, kata Din, memiliki identitas. Setiap partai politik, menampilkan identitas. Ia berharap identitas ditampilkan dalam bentuk kebaikan.
"Menurut hemat saya, politik identitas sah-sah saja selama ditampilkan untuk kebaikan bangsa, jangan untuk perpecahan, jangan untuk permusuhan dan kebencian," ujar Din di Kantor CDCC, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).
Din menambahkan, potensi konflik memang kerap terjadi karena dipicu politik identitas. Namun demikian, Din meyakini, masyarakat Indonesia akan semakin dewasa dalam menyikapi keberagaman identitas dan SARA.
"Identitas tak boleh ditinggalkan, agama tidak boleh ditinggalkan. Yang enggak benar adalah SARA ditampilkan dengan kebencian, ditampilkan dengan kekerasan, untuk permusuhan," ucap Din.
Kini, Indonesia tengah menyongsong Pemilu 2019. Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP DKAAP), Din Syamsuddin berharap politik identitas tidak dipolitisasi untuk memecah belah masyarakat.
Bagi Din, identitas kekitaan atau SARA melekat pada diri manusia. Setiap agama, kata Din, memiliki identitas. Setiap partai politik, menampilkan identitas. Ia berharap identitas ditampilkan dalam bentuk kebaikan.
"Menurut hemat saya, politik identitas sah-sah saja selama ditampilkan untuk kebaikan bangsa, jangan untuk perpecahan, jangan untuk permusuhan dan kebencian," ujar Din di Kantor CDCC, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Selasa (3/7/2018).
Din menambahkan, potensi konflik memang kerap terjadi karena dipicu politik identitas. Namun demikian, Din meyakini, masyarakat Indonesia akan semakin dewasa dalam menyikapi keberagaman identitas dan SARA.
"Identitas tak boleh ditinggalkan, agama tidak boleh ditinggalkan. Yang enggak benar adalah SARA ditampilkan dengan kebencian, ditampilkan dengan kekerasan, untuk permusuhan," ucap Din.
(kri)