Banyak Kadernya Kena Tangkap KPK, Begini Respons PDIP

Minggu, 10 Juni 2018 - 22:33 WIB
Banyak Kadernya Kena...
Banyak Kadernya Kena Tangkap KPK, Begini Respons PDIP
A A A
JAKARTA - DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengaku geram atas banyaknya kader Moncong Putih yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) kasus korupsi di berbagai daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terbaru, adalah OTT yang melibatkan dua kepala daerah di Jawa Timur, yakni Wali Kota Blitar Samanhudi dan Bupati Tulungagung Sahri Mulyo yang merupakan kader PDIP.

"PDI Perjuangan sungguh merasa geram dan marah atas berbagai tindak pidana korupsi yang merupakan kejahatan kemanusiaan," ungkap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Minggu (10/6/2018).

Hasto mengaku partainya sudah memberikan sanksi tertinggi kepada kader yang terlibat korupsi yaitu pemecatan seketika, tidak mendapat bantuan hukum dan mengakhiri karier politiknya.

"Tetapi kenapa masih terjadi? Begitu banyak kepala daerah yang sudah ditangkap, lalu apakah memang sudah begitu rusak karakter dan mentalitas kita, atau karena sistem pemilihan langsung yang mendorong sikap koruptif, atau pencegahan korupsi yang mandul? Dan pada kenyataannya apakah kita lebih asyik menikmati drama OTT tersebut?" urainya.

Hasto menegaskan, partainya mendukung sepenuhnya pemberantasan korupsi. Salah satu bentuk nyata dukungan itu adalah langsung memberikan sanksi maksimum bagi para koruptor.

"Saat ini saya sedang berada di Kota Blitar dan Tulungagung. Banyak yang bertanya, apakah OTT ini murni upaya pemberantasan hukum, atau sebaliknya, ada kepentingan politik yang memengaruhinya? Hal ini mengingat bahwa yang menjadi sasaran adalah mereka yang memiliki elektabilitas tertinggi dan merupakan pemimpin yang sangat mengakar. Samanhudi misalnya, terpilih kedua kalinya dengan suara lebih dari 92%," tuturnya.

Namun, dia menilai ada kesan kepentingan politik pada kasus “OTT” terhadap Wali Kota Blitar Samanhudi dan Sahri Mulyo yang menjadi calon bupati terkuat di Tulungagung.

"Mereka berdua tidak terkena OTT secara langsung. Namun mengapa beberapa media online tertentu di Jakarta dalam waktu yang sangat singkat memberitakan OTT kedua orang tersebut, seakan menggambarkan bahwa keduanya sudah menjadi target dan memang harus ditangkap baik melalui OTT langsung maupun tidak langsung," ungkapnya.

"Dan faktanya, yang ditangkap di Kota Blitar adalah seorang penjahit, dan bukan pejabat negara. Lalu di Kabupaten Tulungagung seorang kepala dinas dan perantara, bukan Sahri Mulyo. Kesemuanya lalu dikembangkan bahwa hal tersebut sebagai OTT terhadap Samanhudi dan Sahri Mulyo. Ada apa dibalik ini?" pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Hasto Tegaskan PDIP...
Hasto Tegaskan PDIP Tak Akan Bela Kader Tersangkut Kasus Korupsi
Dikritik Soal Rendahnya...
Dikritik Soal Rendahnya Tuntutan Terhadap Kader PDIP, Begini Reaksi KPK
Mardani Maming Buron,...
Mardani Maming Buron, PDIP Tak Akan Intervensi KPK
Kader PDIP Dituntut...
Kader PDIP Dituntut Ringan, ICW : Berimplikasi Serius Bagi Koruptor
Hasto Kristiyanto Dikabarkan...
Hasto Kristiyanto Dikabarkan Jadi Tersangka Kasus Harun Masiku, Ini Tanggapan PDIP
Mau Aman Selama Menjabat?...
Mau Aman Selama Menjabat? Ini Empat Kunci dari KPK untuk Cakada PDIP
Berita Terkini
Prabowo Lantik Kepala...
Prabowo Lantik Kepala dan Wakil BGN Baru pada Senin 8 Juni 2026
KPK Ungkap Silmy Karim...
KPK Ungkap Silmy Karim Masih Terima Aliran Uang Hasil Pemerasan saat Jabat Wamen Imipas
KPK Ungkap Anak Buah...
KPK Ungkap Anak Buah Silmy Karim Diduga Beli Rumah Pakai Emas
Presiden Prabowo Subianto...
Presiden Prabowo Subianto Copot Silmy Karim dari Wamen Imipas
DPR Minta Menteri Pariwisata...
DPR Minta Menteri Pariwisata Bangun Konektivitas Udara untuk Dongkrak Wisatawan
Bonjowi Minta PTUN Jakarta...
Bonjowi Minta PTUN Jakarta Tolak Gugatan UGM Soal Keberatan Putusan Komisi Informasi Pusat
Infografis
10 Perguruan Tinggi...
10 Perguruan Tinggi Paling Banyak Sumbang PNS, Kampus Negeri Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved