Pilpres dan Langkah Kuda Elite Parpol

Kamis, 26 April 2018 - 07:38 WIB
Pilpres dan Langkah...
Pilpres dan Langkah Kuda Elite Parpol
A A A
Adi Prayitno
Direktur Eksekutif Parameter Politik,
Dosen FISIP UIN Jakarta

AROMA Pemilihan Pre­­­siden (Pilpres) 2019 terasa mulai me­­­nyengat. Ma­nu­ver elite partai politik (par­pol) kian agresif dan intensif. Mer­­eka mu­­lai saling serang, be­re­but klaim, hingga berbalas sin­diran yang tampak vulgar. Iba­rat per­main­­­an catur, “lang­kah kuda” pun dilakukan, tidak ha­nya mo­no­­ton pada satu alur po­litik. Ber­ba­gai faksi ke­pen­ting­an sa­ling men­jajaki ke­mung­kinan koa­lisi. Ini­lah ton­tonan politik maha-elite (high po­litics) yang pe­­san p­o­li­t­iknya ke­rap tak men­je­jak bumi. Su­kar di­pahami kha­la­yak biasa.

Tak mudah memang mem­ba­ca pesan politik dari langkah k­u­da yang dilakukan elite par­pol. Semuanya serbateka-teki dan menyimpan ragam makna po­litik. Misalnya, soal Prabowo Su­bianto yang sudah didapuk ma­ju di pilpres, tapi tak me­nu­tup kemungkinan dia bakal ber­pasangan dengan Joko W­i­do­do (Jokowi). Pertemuan de­ngan Luhut Binsar Panjaitan tent­u bukan semata reuni biasa sa­ha­bat lama. Begitupun per­nya­ta­an Ketua Umum PPP Ro­ma­hur­muziy soal Partai Ge­rin­dra yang me­nyodorkan Pra­bo­wo se­bagai ca­wapres Jokowi me­nyi­ratkan ke­tidakpastian po­la koa­lisi. Kon­­figurasi pil­pres se­ma­kin ka­bur dan acak.

Pada ujung spektrum lain Ge­rindra juga tiada henti me­ma­merkan keintiman dengan PKS sebagai sekutu utama. PKS menyodorkan sem­bi­lan nama cawapres sebagai sya­rat koalisi. Di­lema bagi Pra­bo­wo karena elek­tabilitas ca­wa­­p­res PKS sa­ngat rendah di te­ngah upaya Pra­bowo men­ca­ri pendulum sua­ra guna m­e­mang­kas dis­pa­ri­tas elektoral de­­­ngan Jokowi. Be­la­kangan PKS juga mulai mem­bu­ka diri de­ngan Demokrat.

Di luar itu, ada pergerakan po­litik yang terus mencoba me­munculkan poros lain di luar Is­ta­na dan Hambalang. Dem­o­krat, PAN, dan PKB kerap ber­balas narasi soal kemungkinan ter­bentuknya poros alternatif. Apa­lagi, usaha Muhaimin Is­kan­dar, Agus Harimurti Yu­dho­yono, dan Zulkifli Hasan un­tuk menjadi cawapres J­o­ko­wi tak kunjung ada titik terang.

Skenario Pilpres
Meski penjajakan koalisi ma­sih acak, pilpres bisa ditakar de­ngan tiga skenario. Pertama, tan­ding ulang (revans) Jokowi dan Prabowo. Istilah revans ak­rab dalam du­nia olahraga tapi ke­rap dip­a­kai dalam dunia po­li­tik. Kali ini Pra­bowo merasa mam­pu m­e­nga­lahkah Jokowi.
Skenario tanding ulang bi­sa ter­wujud jika Prabowo ber­ha­sil me­ngantongi dukungan PKS gu­na menggenapi 20% sya­rat pen­capresan.

Meski kerap digoda ke­kua­sa­an, Gerindra dan PKS tetap mem­pertontonkan soliditas yang sukar dicerai. Perse­ku­tu­an keduanya ibarat dua sisi ma­ta uang yang tak bisa di­pi­sah­kan. Bagi Gerindra dan PKS, pe­milu bukan semata kalah me­nang, bukan pula soal ke­mu­dah­an mengakses jabatan po­li­tik, tapi lebih pada penegasan war­na ideologi, dignity, serta men­jaga marwah partai.

Kedua, munculnya capres al­­ter­natif yang dinakhodai De­mo­krat. Skenario kedua ini da­pat ter­wujud jika Susilo Bam­bang Yu­d­hoyono (SBY) se­pe­nuh hati me­rangkul dua parpol lain se­ba­gai tambahan amunisi meng­ge­napi 20% presidential thres­hold.

Bacaan realistisnya De­mokrat masih bisa mey­a­kin­kan PKB dan PAN sebagai tan­dem koalisi karena kedua par­pol itu be­lum menentukan si­kap po­li­tik apapun. SBY cukup li­hai me­ra­cik parpol yang ber­se­rakan de­ngan apik seperti yang per­nah dilakukan pada Pil­­kada DKI Jakarta 2017. Sementara PKB lebih prag­matis, yang penting bisa men­dapat teman koalisi untuk me­majukan Muhaimin Iskandar.

Ketiga, meski susah ter­wu­jud, kemungkinan muncul ca­pres tunggal masih terbuka ka­re­na mayoritas parpol ber­ha­s­rat ingin merapat ke Jokowi. Go­daan agar Prabowo ber­ke­nan menjadi cawapres Jokowi bu­kan pepesan kosong belaka. Ske­nario ketiga masih bisa te­r­wu­jud di tengah kec­en­de­rung­an karakter parpol yang ber­orien­tasi mengejar jabatan po­li­tik dalam berkoalisi.

Steven B Wolinetzs dalam Be­yond the Catch All Party (2002) menegaskan karakter par­pol turut menentukan arah koa­lisi. Par­pol yang bertujuan me­ngejar jab­­atan dalam koalisi di­sebut office seeking party. Par­pol sem­a­cam ini motivasi uta­ma­nya ada­lah kekuasaan serta abai ter­ha­dap komitmen kebijakan.

Di antara tiga skenario di atas, yang paling mungkin ter­jadinya adalah revans Jokowi ­dan Prabowo. Banyak temuan sur­vei mengonfirmasi bahwa ha­nya Prabowo yang bisa me­nyaingi Jokowi. Di sisi lain, pen­dukung kedua pihak sulit be­r­satu akibat perpecahan yang terjadi sejak empat tahun lalu.

Posisi Vital Cawapres
Banyak pihak menengarai pil­pres mudah ditebak hasilnya jika terjadi tanding ulang an­ta­ra Jokowi dan Prabowo. Jo­ko­wi diprediksi menang mudah ka­rena unggul di segala bidang. Mes­ki begitu, politik selalu me­nyu­guhkan hentakan tak ter­du­ga. Banyak anomali yang ke­rap terjadi di luar dugaan akal se­hat serta kejutan di luar per­ki­raan lembaga survei.

Versi survei, elektabilitas Jo­­kowi selalu unggul tapi be­lum menjamin kemenangan ka­rena perolehan suaranya sta­bil di angka 50%. Dalam logika sur­vei, elektabilitas petahana ha­rus meraup angka minimal 65% dengan tingkat kepuasan ter­hadap kinerja di atas 70% un­­tuk mengunci kemenangan. Ang­ka survei ini menunjukkan Jo­kowi belum aman.

Itu artinya Jokowi harus men­­cari cawapres yang bisa men­­dongkrak elektabilitas di te­­ngah kepungan isu po­pu­li­s­me Islam. Model koalisi trad­i­sio­­nal kombinasi Jawa dan luar Ja­wa maupun perkawinan si­­lang nasionalis dan islamis ma­­sih relevan dip­ert­imbang­kan di te­ngah menguatnya sen­timen agama.

Karena itu, bisa dipahami ji­ka Jokowi hingga saat ini be­lum bi­sa menentukan posisi ca­wa­pres karena belum ada sosok yang bisa memenuhi kriteria ideal yang diinginkan. Se­men­ta­ra duplikasi Jusuf Kalla (JK) yang memenuhi unsur ideal itu ma­sih sulit didapatkan.

Komposisi ideal langgam po­­litik lawas ini juga berlaku ba­­gi Prabowo jika ingin me­mang­­kas defisit elektabilitas de­­ngan Jokowi. Pada titik inilah posisi ca­wa­pres dirasa sangat vital untuk me­mastikan kemenangan.

Jika tujuannya hanya ingin me­nang, Jokowi dan Prabowo cu­kup merangkul cawapres de­ngan elektabilitas yang tinggi. Tak peduli nasionalis, Islam, Ja­wa, maupun luar Jawa. Akan te­tapi, pilpres bukan semata me­menangkan pertarungan elek­toral, melainkan lebih se­ba­gai upaya menjaga ke­se­im­bang­an entitas politik yang beragam.
(kri)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
KKP Tangkap Kapal Asing...
KKP Tangkap Kapal Asing Pengangkut 1,2 Ton Ikan Napoleon Ilegal
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved