Wajah Lingkungan Hidup Kita

Rabu, 10 Januari 2018 - 08:27 WIB
Wajah Lingkungan Hidup...
Wajah Lingkungan Hidup Kita
A A A
Jejen Musfah
Dosen Magister UIN Sayrif Hidayatullah,
Tim Ahli PB PGRI

Penduduk bumi terus ber­tambah, tak terkecuali di In­donesia. Seiring per­tum­buhan penduduk, ke­bu­tuh­an terhadap hunian, in­dus­tri, air, dan makanan pun akan ma­kin bertambah. Pem­ba­ngun­­­an tan­pa perencanaan ma­tang dan ti­dak peduli dampak ling­kung­an akan berakibat bu­ruk pada kua­litas hidup ma­nu­sia di da­lam­nya, cepat atau lambat.

Indonesia adalah satu con­toh negara gagal dalam pem­ba­ngun­an yang tidak peduli ling­kung­an hi­dup yang hijau, sehat, dan nya­man. Pertama, hutan se­ngaja di­ba­kar untuk pemba­ngun­an in­dus­tri. Luas hutan ki­t­a ber­ku­rang tiap tahun. Asap si­sa pem­ba­karan mencemari ling­kungan w­i­layah Indonesia, ju­ga negara tet­angga, seperti Si­nga­pura dan Ma­laysia.

Sekolah dan kampus pun diliburkan. Dam­pak pem­ba­kar­an hutan sa­ngat buruk bagi ling­k­ungan dan k­e­manusiaan, ta­pi pemerintah ti­dak bisa men­ce­gah ritual t­a­hun­an peng­usaha-pengusaha ra­kus. Mereka ti­dak pernah jera mes­ki hu­kum­annya tidak ringan.

Kedua, sawah-sawah beralih fungs­­i jadi perumahan, mal, apar­temen, dan industri. Hasil ga­bah dan beras kita berkurang banyak setiap tahun. Sebagai ne­geri agraris, tanah-tanah kita luas membentang dan subur.

Alih-alih swasembada pangan, kita malah memilih impor be­ras. Generasi milenial tak suka ja­di petani di sawah dan di ke­bun, tetapi memilih bekerja kan­­toran. Berbaju rapi, berdasi, dan wangi! Pembangunan demi pem­bangunan melanggar jalur hi­jau karena aparat bisa dibeli ru­­piah pengusaha.

Ketiga, gedung perkantoran, mal, hotel, apartemen, dan kam­pus dibangun bertingkat ka­­r­ena tanah langka dan mahal di kota-kota besar. Pem­ba­ngun­an dipu­sat­kan di kota-kota be­sar, ter­ma­suk kampus. Kon­sum­si lis­trik sangat tinggi ka­re­na gedung-gedung itu me­mer­lu­kan penerangan, komputer, lift, dan AC.

Bahan bakar mi­nyak bu­mi sebagai salah satu sum­ber ener­gi listrik lambat laun akan me­nipis, dan ak­hir­nya habis. Sin­g­katnya, ruang-ruang hijau ki­ta berubah jadi gedung-ge­dung tinggi pen­ca­kar langit. Bu­mi pun semakin panas.

Keempat, mal, toko, dan res­to­ran menggunakan plastik un­tuk tas belanja konsumen. Di­ban­dingkan tas kertas, sampah tas plastik sulit terurai, butuh wak­tu ratusan tahun. Gerakan tas plastik berbayar dua tahun la­lu tidak berhasil, padahal tu­ju­an­n­ya bagus agar masyarakat he­mat plastik karena merusak ling­kungan. Bukti bahwa ma­sya­rakat kita belum bisa dididik pe­duli lingkungan.

Kelima, sekolah, kampus, bank, kantor, tol, dan parkir, ti­dak (semua) menerapkan prog­ram paperless. Kertas sengaja di­ha­mbur-ham­bur­kan, jum­lah­­nya be­sar. Tidak ada upa­ya peng­­he­matan ker­tas dalam su­rat me­nyu­rat, pem­buat­an la­por­an, ma­ka­lah, skrip­si, tesis, dan di­­ser­tasi.

Iro­ni­s, bah­kan di du­nia pen­­didikan ti­dak ada upa­ya se­rius me­ngurangi ker­­tas. Bahan uta­ma ker­­t­as adalah ka­yu po­­hon. Semakin tinggi kon­­sum­si ker­tas, se­ma­kin ba­nyak pohon di­tebang. Se­ma­kin ba­nyak po­hon d­i­­te­bang, se­ma­kin ting­gi po­ten­si banjir dan s­e­ma­kin se­­d­i­kit pe­r­se­dia­an air di tanah.

Keenam, polusi udara se­ma­­kin besar karena tingginya peng­gunaan kendaraan roda dua dan empat. Kemacetan di kota-kota semakin menjadi-ja­di dan parah. Masyarakat me­mi­lih kendaraan pribadi karena mu­dahnya kredit, per­tum­buh­an kelas menengah, dan bu­ruk­nya transportasi massal di In­do­ne­sia.

Banyak mobil pribadi ha­nya diisi satu-dua penumpang. Pem­borosan massal yang di­biar­­kan. Mungkin penggunaan ken­daraan pribadi berkurang se­d­ikit karena telah ada taksi dan ojek daring (online).

Keenam masalah tersebut me­nunjukkan bahaya ling­kung­an hidup Indonesia yang ti­dak ringan. Semua pihak ber­tang­gung jawab dan harus ber­pe­ran untuk mengatasinya. Per­ta­ma, pemerintah tidak boleh ka­lah oleh pengusaha. Pem­ba­ngun­an pabrik, mal, apar­te­men, dan ho­tel tidak boleh me­lang­gar tata ruang dan jalur hijau.

Pabrik-pabrik yang merusak ling­kungan segera ditutup kar­e­na membahayakan masyarakat se­kitar. Orientasi pem­ba­n­gun­an bukan semata peningkatan pen­dapatan daerah tapi men­ja­ga lingkungan tetap sehat, nya­man, dan hijau. Pembangunan ti­dak dipusatkan di kota-kota be­s­ar tapi bergeser ke daerah-dae­r­ah pinggiran. Konsep se­tiap pembangunan juga harus go green dan pemerataan.

Kedua, ganti tas plastik de­­ngan tas kertas. Jika peng­usa­ha dan pemerintah mau ma­ka ma­sya­rakat akan terbiasa. ­Mem­­ba­ngun budaya me­mer­lu­kan pro­ses dan waktu yang pan­j­ang. He­mat air dan listrik. Ja­ngan biar­kan keran bocor (mes­ki kecil) dan AC menyala jika tidak dig­u­na­kan. Pengabaian hal-hal kecil me­rupakan awal mu­la ker­u­sak­an yang besar.

Ketiga, jalankan program pa­­per­less. Kampus, kantor swas­ta, dan pemerintah me­ngu­rangi peng­gunaan kertas. Gan­t­i de­ngan surat, laporan, dan kartu yang berbasis elek­tro­nik. Era di­gi­tal saat ini tidak akan sulit me­ne­rapkan prog­ram paperless. Ha­nya perlu ke­mauan yang kuat dari ­p­e­mim­pin. Selain m­e­ngu­rangi peng­gu­naan kertas, hal ini akan meng­hemat k­e­uang­an per­usa­haan dan kampus.

Keempat, gerakan sejuta po­­­­hon. Di rumah, kantor, se­ko­­l­ah, dan kampus, fungsi po­­h­on un­tuk kenyamanan dan ke­­­te­duh­an. Bekerja dan be­­la­jar me­ngu­ras energi dan emo­si se­­hingga mem­bu­tuh­kan re­lak­­sasi. Ling­kung­­an yang hi­jau akan me­ngem­­ba­li­kan k­e­bu­­gar­­an dan men­­da­tang­kan ide-ide baru.

De­mi­ki­an pula ru­­mah tempat kem­bali sele­pas be­kerja sehari p­e­­nuh akan benar-benar m­e­ngem­­ba­likan ener­gi yang hi­lang jika di se­ki­tarnya banyak po­­hon. Kampus-kampus negeri yang su­­dah ke­ha­bisan lahan hi­­jau se­­baik­nya se­gera di­­pin­­dah­­kan ke ping­­­­gir­an ko­­t­­a agar pu­­­nya taman-taman hi­jau yang me­­­­m­a­dai. Ma­­­­ha­­sis­wa dan do­­sen yang be­­la­­jar pun akan nya­man.

Ak­hir­nya, ling­kung­an buruk di be­be­­rapa ti­tik ne­ge­ri ini ter­ja­di karena ulah kita sendiri. Con­toh, air su­ngai dan laut yang ko­tor, sam­­pah ber­se­rak­­­an, sa­­lur­­an air mam­pat, per­kam­pung­an ku­muh, lang­kanya lahan hijau, da­n p­o­lusi udara. Peng­usa­ha yang ta­mak, pejabat yang ra­kus, pe­ne­gak hukum yang ter­beli, dan war­ga yang abai ­te­r­ha­dap isu-isu ling­­kung­­an adalah pa­­du­an lengkap ter­­wu­judnya lin­g­­kung­an In­do­ne­­sia yang bu­ruk saat ini.

Semua elemen bangsa ter­se­­but harus bergerak bersama dan se­­gera bertindak nyata un­tuk ling­­kungan yang lebih baik, i­n­­dah, dan nyaman. Ti­dak ada ka­­ta ter­lambat untuk me­mulai sua­­tu ke­baikan.

De­mi In­do­ne­sia yang le­bih baik ba­gi ge­ne­ra­si pe­nerus dan bagi du­nia. Mung­­kin bukan ki­ta yang akan me­­nik­mati ha­sil­nya, tapi ge­ne­ra­si
men­datang. De­­ngan d­­e­m­­ikian, ke­n­angan m­e­reka ten­tang kita ada­lah ke­nang­­an yang baik dan mem­bang­­ga­kan. Kita su­dah se­ha­rus­nya
me­wa­ris­kan bumi yang ny­a­man dan hi­jau, bukan bu­mi yang me­n­ji­jik­kan dan mematikan.
(nag)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
2 Alasan Buaya Hidup...
2 Alasan Buaya Hidup Berdampingan dan Tidak Mau Memakan Capybara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved