PDIP dan ICMI Bangun Kerja Sama Perkuat Implementasi Pancasila
Rabu, 13 Desember 2017 - 18:31 WIB
PDIP dan ICMI Bangun Kerja Sama Perkuat Implementasi Pancasila
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melakukan pertemuan dengan jajaran Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Selasa (13/12/2017).
Dalam pertemuan di Kantor ICMI, Jalan Proklamasi, Jakarta itu dibahas tentang kerja sama yang erat untuk menegakkan implementasi Pancasila dalam praktik kehidupan bernegara.
Rombongan pengurus PDIP dipimpin Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto, didamping Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP PDIP Idham Samawi, Ketua DPP PDIP Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Andreas Hugo Pareira, serta sejumlah pengurus lainnya.
Mereka disambut Ketua Umum ICMI Jimly Ashiddiqie serta jajaran pengurus ICMI, seperti M Qodari, Priyo Budi Santoso, dan jajaran pengurus lainnya. "Terima kasih kami diterima dengan hangat, apalagi PDIP menjadi parpol pertama yang berkunjung ke ICMI secara resmi. Hubungan ini akan berjalan dengan baik dengan silaturahmi meletakkan dasar persahabatan sejati ICMI dan PDIP," tutur Hasto saat pertemuan.
Melalui silaturahmi dan kerja sama dengan ICMI, kata Hasto, PDIP ingin menggerakkan demokrasi dalam watak yang sebenarnya, yakni dengan prinsip kepaduan antara prinsip ketuhanan dan prinsip kebangsaan, termasuk juga dalam membangun ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.
"Kerja sama PDIP dan ICMI akan saling memperkuat dalan menentukan arah pembangunan Indonesia sebagai bangsa yang sesuai dengan ideologi Pancasila," tutur Hasto.
Dalam tradisi kepartaian, lanjut Hasto, PDIP merespons kritik dengan memperkuat fungsi parpol yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Baik dalam fungsi rekruitmen politik, artikulasi dan agregasi kepentingan rakyat, termasuk dalam memunculkan kepemimpinan.
"Kami melakukan kaderisasi dan sekolah partai dan sekolah Pancasila. Kami harap ICMI juga bisa mengirim pembicaranya. Sebab ruang kerja sama antara PDIP dan ICMI kita bangun sangat luas. Bahkan kami membangun ruang dialog dan ruang kerja sama yang harus kita perkuat demi kepentingan bangsa dan negara," lanjutnya.
Sementara itu, Jimly Ashiddiqie mengatakan sebagai Ketua umum ICMI, sejak awal sudah berkhidmat untuk inklusif dengan spirit keIslaman untuk keIndonesiaan.
Jimly menjelaskan ICMI beranggotakan tokoh dari berbagai kalangan karena ICMI sangat inklusif dengan semua kekuatan intelektual. Bahkan dalam silaturahmi nasional yang baru-baru ini digelar, kata dia, banyak tokoh lintas organisasi hadir
"Selama 27 tahun ICMI belum pernah menggelar Silatnas dibuka di Istana, baru kali ini di Istana. Bahkan dibuka oleh Presiden Jokowi dan ditutup Wapres Jusuf Kalla. Ini standing point untuk perkembangan," ujar Jimly.
Dia menegaskan kunjungan PDIP adalah bentuk nyata tentang politik kebangsaan dan berkepribadian Pancasila. "Inilah cara politik dan cara berpolitik yang benar seperti dilakukan PDIP. Komunikasi politik dijalankan dengan sungguh-sungguh," jelas Jimly.
Jimly menegaskan bahwa banyak kesamaan pandangan dan gugus perjuangan antara ICMI dan PDIP. Misalnya, soal kerukunan umat beragama. Antara keyakinan beragama dan kebangsaan adalah satu hal yang berjalan beriringan bagi bangsa Indonesia.
"PDIP dan ICMI dalam gagasan ekonomi pasar harus dikawal dengan Pancasila. Ekonomi pasar yang kapitalistik sebagai realitas jangan sampai membuat kita menjadi sangat pragmatis. Maka harus dikontrol dengan nilai-nilai Pancasila," katanya.
Dalam pertemuan di Kantor ICMI, Jalan Proklamasi, Jakarta itu dibahas tentang kerja sama yang erat untuk menegakkan implementasi Pancasila dalam praktik kehidupan bernegara.
Rombongan pengurus PDIP dipimpin Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto, didamping Wakil Sekjen DPP PDIP Ahmad Basarah, Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP PDIP Idham Samawi, Ketua DPP PDIP Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Andreas Hugo Pareira, serta sejumlah pengurus lainnya.
Mereka disambut Ketua Umum ICMI Jimly Ashiddiqie serta jajaran pengurus ICMI, seperti M Qodari, Priyo Budi Santoso, dan jajaran pengurus lainnya. "Terima kasih kami diterima dengan hangat, apalagi PDIP menjadi parpol pertama yang berkunjung ke ICMI secara resmi. Hubungan ini akan berjalan dengan baik dengan silaturahmi meletakkan dasar persahabatan sejati ICMI dan PDIP," tutur Hasto saat pertemuan.
Melalui silaturahmi dan kerja sama dengan ICMI, kata Hasto, PDIP ingin menggerakkan demokrasi dalam watak yang sebenarnya, yakni dengan prinsip kepaduan antara prinsip ketuhanan dan prinsip kebangsaan, termasuk juga dalam membangun ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.
"Kerja sama PDIP dan ICMI akan saling memperkuat dalan menentukan arah pembangunan Indonesia sebagai bangsa yang sesuai dengan ideologi Pancasila," tutur Hasto.
Dalam tradisi kepartaian, lanjut Hasto, PDIP merespons kritik dengan memperkuat fungsi parpol yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Baik dalam fungsi rekruitmen politik, artikulasi dan agregasi kepentingan rakyat, termasuk dalam memunculkan kepemimpinan.
"Kami melakukan kaderisasi dan sekolah partai dan sekolah Pancasila. Kami harap ICMI juga bisa mengirim pembicaranya. Sebab ruang kerja sama antara PDIP dan ICMI kita bangun sangat luas. Bahkan kami membangun ruang dialog dan ruang kerja sama yang harus kita perkuat demi kepentingan bangsa dan negara," lanjutnya.
Sementara itu, Jimly Ashiddiqie mengatakan sebagai Ketua umum ICMI, sejak awal sudah berkhidmat untuk inklusif dengan spirit keIslaman untuk keIndonesiaan.
Jimly menjelaskan ICMI beranggotakan tokoh dari berbagai kalangan karena ICMI sangat inklusif dengan semua kekuatan intelektual. Bahkan dalam silaturahmi nasional yang baru-baru ini digelar, kata dia, banyak tokoh lintas organisasi hadir
"Selama 27 tahun ICMI belum pernah menggelar Silatnas dibuka di Istana, baru kali ini di Istana. Bahkan dibuka oleh Presiden Jokowi dan ditutup Wapres Jusuf Kalla. Ini standing point untuk perkembangan," ujar Jimly.
Dia menegaskan kunjungan PDIP adalah bentuk nyata tentang politik kebangsaan dan berkepribadian Pancasila. "Inilah cara politik dan cara berpolitik yang benar seperti dilakukan PDIP. Komunikasi politik dijalankan dengan sungguh-sungguh," jelas Jimly.
Jimly menegaskan bahwa banyak kesamaan pandangan dan gugus perjuangan antara ICMI dan PDIP. Misalnya, soal kerukunan umat beragama. Antara keyakinan beragama dan kebangsaan adalah satu hal yang berjalan beriringan bagi bangsa Indonesia.
"PDIP dan ICMI dalam gagasan ekonomi pasar harus dikawal dengan Pancasila. Ekonomi pasar yang kapitalistik sebagai realitas jangan sampai membuat kita menjadi sangat pragmatis. Maka harus dikontrol dengan nilai-nilai Pancasila," katanya.
(dam)