Selesaikan Korupsi di Kejaksaan seperti Mengurai Benang Kusut

Jum'at, 16 Juni 2017 - 12:11 WIB
Selesaikan Korupsi di...
Selesaikan Korupsi di Kejaksaan seperti Mengurai Benang Kusut
A A A
JAKARTA - Operasi tangkap tangan (OTT) terhadap oknum Jaksa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa waktu lalu, menuai respons dari internal Kejaksaan.

Beberapa Jaksa menyebut KPK melakukan OTT recehan. Ada pula yang menyinggung soal keterbatasan anggaran yang dihadapi para Jaksa.

Koordinator Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Universitas Indonesia (UI), Choky Ramadhan mengatakan, penangkapan oknum Jaksa oleh KPK tentu mencuatkan kembali permasalahan korupsi di Kejaksaan yang belum selesai dibenahi.

Choky menjelaskan, ada banyak faktor yang harus diperbaiki di internal kejaksaan, mulai dari kualitas SDM, integritas, checks and balances, struktur organisasi, hingga masalah anggaran perkara.

"Menyelesaikan korupsi di Kejaksaan memang seperti mengurai benang kusut," kata Choky kepada SINDOnews, Jumat (16/6/2017).

Dia mengungkapkan, kurangnya anggaran penanganan perkara menjadi salah satu faktor utama Jaksa melakukan korupsi. Permasalahan anggaran ini, kata Choky, akan membuka potensi praktik korupsi untuk menutupi kekurangan anggaran.

(Baca juga: Banyak Jaksa Ditangkap, Penegakan Hukum Era Jokowi Tercoreng)

Akibat buruknya, kata Choky, adalah berupa potensi membuka celah ruang transaksi dengan pihak lain sekadar memenuhi kebutuhan untuk menangani perkara, berupa tidak memproses satu perkara atau memproses dengan rekayasa.

Permasalahan anggaran ini lanjut Choky, juga akan membuka potensi adanya kasus-kasus yang terbengkalai. Hal ini terjadi di beberapa Kejaksaan Negeri. Karena jumlah alokasi perkara tidak sesuai dengan realisasi perkara, maka Kejaksaan Negeri tidak menangani perkara yang akan masuk karena biaya operasional sudah habis.

Pada akhirnya, proses penegakan hukum menjadi terhambat. Karenanya, MaPPI mendesak agar rentetan kasus korupsi yang terjadi di dalam institusi Kejaksaan harus dijadikan momentum melakukan perubahan di internal Kejaksaan.

"Pemberantasan korupsi harus didukung dengan perbaikan sistem yang transparan dan akuntabel. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi Jaksa yang bermain perkara karena anggaran yang bermasalah," ucap Choky.
(maf)
Berita Terkait
Jaksa Agung Klaim Rombak...
Jaksa Agung Klaim Rombak dan Proses Pidana Oknum Jaksa Nakal
Berhentikan Jaksa yang...
Berhentikan Jaksa yang Kena OTT, Muhammadiyah: Bukti Keseriusan Kejagung Bersihkan Internal
Kejagung Tetapkan Kajari...
Kejagung Tetapkan Kajari Bangka Tengah Tersangka Korupsi, Terima Uang Rp840 Juta
Sikat Jaksa Nakal, Kejagung...
Sikat Jaksa Nakal, Kejagung Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggar Hukum
Komisi Kejaksaan: Satgas...
Komisi Kejaksaan: Satgas 53 Ampuh Tangani Jaksa Nakal
Jaksa Nakal Bakal Dipecat,...
Jaksa Nakal Bakal Dipecat, Kejagung Tak Toleransi Pelanggaran
Berita Terkini
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Abdullah Alkatiri Yakin...
Abdullah Alkatiri Yakin JPU Tidak Bakal Mendakwa Ulang Dokter Tifa
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Hadiri Harlah ke-28...
Hadiri Harlah ke-28 PKB, Partai Perindo Ajak Kolaborasi Bangun Ekonomi Kerakyatan
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved