Merangkai Kembali Keindonesiaan Kita

loading...
A+ A-
Mohammad Jibriel Avessina
Antropolog politik pada Center for Regulation Policy and Governance

BEBERAPA minggu yang lalu, ratusan ribu jiwa massa yang tergabung dalam kelompok Islam turun ke jalan pada aksi 4 November 2016.

Mereka berdemonstrasi menyalurkan hak politiknya ke dalam koridor demokrasi, secara tertib, bertanggung jawab dan damai. Kelompok-kelompok sosial yang sama telah kembali turun ke jalan pada 2 Desember dan melakukan ibadah bersama dengan jumlah massa yang relatif jauh lebih besar. Demonstrasi tersebut telah berproses menjadi semacam pola gerakan sosial yang sama sekali baru.

Kelompok Islam, baik tua ataupun muda, secara sukarela meluangkan waktunya meninggalkan aktivitas sehari hari sejenak untuk berkumpul bersama menyampaikan aspirasi dan ekspresi dalam dua kesempatan tersebut yakni gerakan 411 dan gerakan 212. Dalam hal ini dimunculkan ada generalisasi tudingan yang muncul dalam arena publik, bahwa gerakan tersebut seakan-akan seluruhnya adalah kelompok yang bernuansa sektarian.



Dengan demikian, gerakan sosial ini dianggap berbahaya serta berpotensi merusak kebinekaan dalam publik. Pendapat semacam itu, sayangnya bersandar pada basis ketakutan yang bias dan data yang tidak jelas, hingga tulisan ini ditulis, wacana tersebut pun tidak pernah terbukti asas kebenarannya.

”Dua Wajah” Kebinekaan
Namun, saya dapat memahami bagaimana kecemasan tersebut terjadi. Ketegangan-ketegangan sosial yang hadir belakangan ini semakin sering kita menemukan penilaian penilaian yang bias dan cenderung irasional dalam wacana di tengah-tengah masyarakat. Telah sejak lama kita kehilangan jembatan dalam mewujudkan komitmen bagi rasa kebinekaan atau kemajemukan di sekitar kita, setidaknya ada dua hal yang menjadi penyebab memudarnya komitmen kebinekaan kita.

Pertama, belakangan masyarakat telah kehilangan ketulusan dalam menjalankan komitmen mewujudkan kebinekaan bersama. Kebinekaan di antara kita kerap dipraktikkan dengan standar ganda, dalam satu sisi kita menepuk dada berkomitmen masyarakat yang terbuka (Open Society) dengan prinsip menjunjung tinggi kesetaraan berbasis multiidentitas, penghargaan atas hak asasi universal bebas berekspresi, berpikir dan merdeka.



Tetapi kita kerap berlaku tidak adil. Kita kerap merendahkan pilihan sebagian elemen di masyarakat menjalankan ekspresi konservatif, baik sebagai konservatisme sosial dan agama.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top