Impor Bawang Dibuka

Selasa, 31 Mei 2016 - 09:40 WIB
Impor Bawang Dibuka
Impor Bawang Dibuka
A A A
POLEMIK internal sempat memanas di kalangan anggota Kabinet Kerja. Sejumlah pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) silang pendapat seputar rencana impor bawang merah. Wacana impor bawang merah mengemuka terutama setelah Presiden Jokowi memerintahkan agar harga bumbu dapur tersebut bisa berada di level Rp20.000 per kilo gram (kg) saat memasuki bulan puasa, dari harga Rp40.000 per kg saat ini. Jalan pintas memenuhi permintaan Presiden Jokowi adalah membuka keran impor bawang merah.

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution sudah membocorkan bahwa pemerintah hanya akan mengimpor 2.500 ton untuk stabilisasi harga pada Ramadan yang tinggal sepekan lagi. Sedangkan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman sempat menentang rencana impor tersebut dengan alasan bahwa produksi saat ini sedang surplus. Selama ini Amran membeberkan bahwa tidak sedikit pihak yang mendesak agar pemerintah membuka keran impor bawang merah.

Meski mentan mengklaim telah terjadi surplus bawang merah, fakta lapangan harga bawang merah tetap bertengger pada level Rp40.000 per kg dalam dua pekan terakhir ini. Belakangan Amran Sulaiman yang juga dikenal sebagai salah seorang pengusaha akhirnya melunak. Untuk merealisasikan importasi bawang merah tersebut pemerintah telah menunjuk tiga badan usaha milik negara (BUMN) yakni Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), PT Berdikari, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Hanya, pemerintah belum menyebutkan dari negara mana saja bawang merah itu didatangkan.

Di sisi lain, melambungnya harga bawang merah ditengarai karena Bulog belum berperan secara maksimal. Contohnya, salah satu peran yang harus dimainkan badan penyanggah komoditas pokok itu adalah membeli bawang merah di tingkat petani, tetapi peran tersebut ternyata tidak bisa dimainkan dengan bagus. Kabar yang berkembang, harga pembelian yang ditawarkan Bulog di tingkat petani tidak kompetitif.
Akibat itu, para petani tidak rela menjual bawang merahnya karena Bulog menawar dengan harga murah misalnya bawang merah petani di Bima dan Nganjuk. Seperti diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arif, hanya dihargai sebesar Rp18.000 per kg ke bawah, sedangkan harga wajar paling minim sebesar Rp20.000 per kg. Karena harga tidak cocok, petani menolak melepas barangnya.

Menanggapi kebijakan pemerintah yang akan mengimpor bawang merah dalam waktu dekat, Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI) Ngadiran sangat menyayangkan dan menilai itu sebagai langkah terburu-buru. Persoalan harga bawang merah yang melonjak bukan karena pasokan dalam negeri tidak mencukupi, melainkan masalah terkait tata niaga. Meski tak menunjuk terang-terangan siapa yang bermain di balik kenaikan harga bawang merah, APPI menilai bahwa masalahnya tidak terlepas dari tata niaga yang tidak benar. Dia meyakini penyebab naik-turun harga bawang merah ada yang mengendalikan, bukan dari pedagang pasar tradisional.

Jadi, bila pemerintah ingin menstabilkan harga bawang merah pada harga yang wajar, pemerintah harus membenahi dari segala aspek terutama rantai pasokan terkontrol dengan baik. Data produksi dan konsumsi yang masih kacau juga harus dibenahi. Sudah menjadi pengetahuan umum, persoalan data menyangkut produksi dan konsumsi di tingkat kementerian dan lembaga masih susah dijadikan patokan untuk sebuah pengambilan kebijakan. Karena itu, Presiden Jokowi sudah memutuskan bahwa data resmi yang menjadi dasar pembuatan kebijakan wajib berpatokan pada data Badan Pusat Statistik (BPS).

Palu sudah diketok, pemerintah sudah memutuskan untuk membuka keran impor bawang merah yang dimaksudkan menurunkan harga bumbu dapur tersebut sepanjang Ramadan. Karena itu, Mentan Amran Sulaiman meminta kepada pihak yang masih berpolemik dihentikan. Apalagi, besaran impor bawang merah sebesar 2.500 ton sangat kecil atau sekitar 0,025% dari total produksi yang mencapai sebesar 1 juta ton per tahun. Kita berharap besaran impor tersebut tidak akan membengkak dan hanya diperuntukkan untuk menstabilkan harga bawang merah sepanjang Ramadan.
(kri)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Nanik S Deyang Diangkat...
Nanik S Deyang Diangkat sebagai Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana, Dasco: Pilihan yang Tepat
Trimedya Panjaitan Sebut...
Trimedya Panjaitan Sebut RUU HPI Sejalan dengan Semangat Prabowo Perkuat Posisi Hukum Indonesia
Kepala BGN Diganti,...
Kepala BGN Diganti, Istana Pastikan Program MBG Tidak Terganggu
Pemeriksaan Lanjutan...
Pemeriksaan Lanjutan Kasus Kuota Haji, Pengacara Gus Yaqut Sebut Tak Ada Konfirmasi Aliran Dana
Dadan Hindayana Dicopot...
Dadan Hindayana Dicopot dari Kepala BGN, Dasco Puji Pemerintah Dengar Aspirasi Masyarakat
Profil Nanik S Deyang,...
Profil Nanik S Deyang, Kepala BGN Pengganti Dadan Hindayana
Infografis
Resmi Dibuka, Ini Formasi...
Resmi Dibuka, Ini Formasi Sekolah Kedinasan 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved