alexa snippet

Kepemimpinan yang Kuat Efektif Cegah Perilaku Korupsi

Kepemimpinan yang Kuat Efektif Cegah Perilaku Korupsi
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto (kiri) menjadi narasumber dalam diskusi bertema Melawan Korupsi Melalui Pencegahan dan Pengendalian Konflik Kepentingan di Sektor Pendidikan dan Kesehatan di Binus University Jakarta, (29/11/2016). Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam upaya pemberantasan korupsi.

Pemberantasan korupsi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar, tapi juga berani melakukan perlawanan terhadap kejahatan tersebut.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertema Melawan Korupsi Melalui Pencegahan dan Pengendalian Konflik Kepentingan di Sektor Pendidikan dan Kesehatan di Binus University Jakarta, (29/11/2016).

Adapun narasumber dalam diskusi itu Wali Kota Makassar Mohammd Ramdhan Pomanto dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta, Putra Perdana Ahmad Saifulloh.

Ramdhan mengakui langsung mendapatkan perlawanan saat menjabat Wali Kota Makassar pada 2013. Berdasarkan pengalamannya meminpin Makassar, perlawanan para koruptor dilakukan dengan berbagai hal, bahkan dengan cara-cara yang intimidatif.

“Di awal menjabat, saya dahulu misalnya mengaudit truk sampah. Kalau dihitung mereka seakan mengisi bensin tiap jam dan mengganti oli tiap hari. Lalu kita bereskan hal ini. Namun kemudian ada perlawanan, mereka menumpahkan sampah di jalanan,” ujar pria yang biasa disapa Danny itu saat acara diskusi.

Dia juga melakukan upaya pembenahan di sektor pendidikan. Saat itu dia mendapatkan informasi untuk menduduki jabatan kepala sekolah perlu membayar Rp70 juta.

Tidak hanya itu, dia memiliki data sejumlah sekolah melakukan pungutan dan sejumlah penyimpangan lainnya. Untuk membenahi, dia mencopot banyak kepala sekolah, termasuk di sekolah-sekolah favorit di Makassar.
 
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta, Putra Perdana Ahmad Saifulloh menilai korupsi merupakan kejahatan yang terorganisir sehingga layak masuk kategori extra ordinary crime.

Menurut dia, ada empat indikator yang melekat pada extra ordinary crime, yaitu kejahatan dilakukan dengan teroganisasi dan sistematis, serta menggunakan modus canggih.

“Korupsi juga selalu terkait dengan kekuasaan serta berhubungan dengan nasib orang banyak karena selalu menggunakan dana yang seharusnya bisa memberi manfaat ke banyak orang,” ujar Putra.
 
Putra mengingatkan semua orang berhati-hati dengan korupsi karena semua orang bisa tersangkut kejahatan ini.

dibaca 3.557x
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top