Rekontekstualisasi Istitho'ah dalam Berhaji
Rabu, 21 Desember 2022 - 09:59 WIB
loading...
M Arskal Salim GP, Kapuslitbang Lektur Kemenag RI dan Guru Besar UIN Jakarta.
A
A
A
M Arskal Salim GP
Kapuslitbang Lektur Kemenag RI dan Guru Besar UIN Jakarta
PADA akhir bulan November lalu Mudzakarah Perhajian Indonesia dilangsungkan di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Mudzakarah itu melahirkan sembilan rekomendasi. Dari semua butir rekomendasi itu, persoalan konseptual mengenai istitho'ah mencuat dan mengundang perhatian untuk didiskusikan lebih lanjut. Butir nomor tujuh dari rekomendasi Mudzakarah secara tegas menyatakan: "tidak menolerir dana talangan dan segala bentuk pembiayaan haji yang bertentangan dengan pemenuhan kaidah istitho'ah dan menjadikan daftar antrian haji semakin panjang".
Makna istitho’ah
Al-Qur’an menggariskan kewajiban haji bagi Muslim dengan kondisi bahwa ia memiliki kemampuan (istitho’ah). Pengertian mampu itu diuraikan dalam berbagai hadis yang intinya memiliki perbekalan yang cukup bagi seseorang untuk melakukan perjalanan dan juga bekal bagi keluarga yang ditinggalkannya di kampung halaman. Selain itu, pengertian mampu juga mencakup alat transportasi yang memadai untuk berangkat ke dan pulang dari Mekah.
Berbeda dengan ibadah puasa Ramadhan yang hanya mempersyaratkan kemampuan fisik, ibadah haji mensyaratkan dukungan fisik, mental serta finansial yang memadai. Hal ini karena ibadah haji hanya dapat ditunaikan di satu tempat di bumi, yaitu di Mekah. Bagi Muslim yang tinggal jauh dari Mekah, persyaratan kemampuan ibadah haji terasa lebih berat dibandingkan mereka yang tinggal dekat dengan Mekah. Calon jamaah haji dari seberang lautan harus menempuh perjalanan jauh dan lama, yang membutuhkan perbekalan yang mencukupi.
Sebuah karya tiga jilid tebal berjudul "Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji Tahun 1482-1964" diterbitkan ulang oleh Kementerian Agama tahun 2019. Buku yang disusun oleh Henri Chambert-Loir itu menyajikan cerita pengalaman individu Muslim maupun rombongan jamaah yang berangkat haji sejak abad ke-15. Buku tersebut menyiratkan betapa kompleks dan rumitnya persiapan sebelum haji, serta banyaknya tantangan yang dihadapi selama perjalanan haji.
Kapuslitbang Lektur Kemenag RI dan Guru Besar UIN Jakarta
PADA akhir bulan November lalu Mudzakarah Perhajian Indonesia dilangsungkan di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Mudzakarah itu melahirkan sembilan rekomendasi. Dari semua butir rekomendasi itu, persoalan konseptual mengenai istitho'ah mencuat dan mengundang perhatian untuk didiskusikan lebih lanjut. Butir nomor tujuh dari rekomendasi Mudzakarah secara tegas menyatakan: "tidak menolerir dana talangan dan segala bentuk pembiayaan haji yang bertentangan dengan pemenuhan kaidah istitho'ah dan menjadikan daftar antrian haji semakin panjang".
Makna istitho’ah
Al-Qur’an menggariskan kewajiban haji bagi Muslim dengan kondisi bahwa ia memiliki kemampuan (istitho’ah). Pengertian mampu itu diuraikan dalam berbagai hadis yang intinya memiliki perbekalan yang cukup bagi seseorang untuk melakukan perjalanan dan juga bekal bagi keluarga yang ditinggalkannya di kampung halaman. Selain itu, pengertian mampu juga mencakup alat transportasi yang memadai untuk berangkat ke dan pulang dari Mekah.
Berbeda dengan ibadah puasa Ramadhan yang hanya mempersyaratkan kemampuan fisik, ibadah haji mensyaratkan dukungan fisik, mental serta finansial yang memadai. Hal ini karena ibadah haji hanya dapat ditunaikan di satu tempat di bumi, yaitu di Mekah. Bagi Muslim yang tinggal jauh dari Mekah, persyaratan kemampuan ibadah haji terasa lebih berat dibandingkan mereka yang tinggal dekat dengan Mekah. Calon jamaah haji dari seberang lautan harus menempuh perjalanan jauh dan lama, yang membutuhkan perbekalan yang mencukupi.
Sebuah karya tiga jilid tebal berjudul "Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji Tahun 1482-1964" diterbitkan ulang oleh Kementerian Agama tahun 2019. Buku yang disusun oleh Henri Chambert-Loir itu menyajikan cerita pengalaman individu Muslim maupun rombongan jamaah yang berangkat haji sejak abad ke-15. Buku tersebut menyiratkan betapa kompleks dan rumitnya persiapan sebelum haji, serta banyaknya tantangan yang dihadapi selama perjalanan haji.
Lihat Juga :