Refleksi KUPI 2: Mewujudkan Peradaban yang Berkeadilan
Selasa, 06 Desember 2022 - 17:57 WIB
loading...
A
A
A
Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari 2 malam ini disuguhkan dengan hospitality dari panitia dan santri-santri di Ponpes Hasyim Asy’ari yang baik dan ramah. Selain itu, panitia juga menyediakan akses penginapan di pondok pesantren yang disebut Akomodasi Dalam Pesantren (ADP) dan Akomodasi Luar Pesantren (ALP).
Bagi peserta yang mengisi ADP, mereka tinggal di kamar santri yang luas dan bersih. Bagi peserta yang mengisi ALP, panitia memberikan akses untuk berkomunikasi dengan warga yang menyediakan tempat tinggal di sekitar ponpes.
Saya memutuskan ALP agar bisa mengetahui sisi lain masyarakat sekitar ponpes. Alhamdulillah, ternyata hospitality dari warga sekitar juga sangat baik. Sambutan warga begitu hangat dan selalu menyediakan sarapan bagi kami.
Pada Jumat, 25 November 2022 pagi kami disuguhkan halaqoh secara panel dari para kiai berkaitan dengan tantangan ulama perempuan dan peluang gerakannya. Dari kelima pembicara, saya cukup tertarik dengan poin-poin yang disampaikan Ning Alissa Wahid.
Putri Gus Dur ini mengurai data hingga peluang yang bisa dilakukan menghadapi masyarakat umum, khususnya Gen Z yang menjadi the king of social media saat ini. Menarik memang jika mengikuti tantangan dakwah hari ini.
Digitalisasi dalam dakwah ini perlu ditingkatkan. Perlu lebih banyak orang yang menyuarakan keresahan masyarakat. Khususnya marginalisasi dan stereotip terhadap perempuan dalam perspektif islam.
Setelah jeda salat Jumat, agenda dilanjutkan dengan halaqoh-halaqoh. Ada lima pembahasan utama yang akan dimusyawarahkan dalam KUPI 2 ini.
Pertama, musyawarah keagamaan tentang pengelolaan sampah bagi keberlanjutan lingkungan hidup dan keselamatan perempuan. Kedua, musyawarah keagamaan tentang peran perempuan dalam melindungi NKRI dari bahaya ekstremisme beragama.
Ketiga, musyawarah keagamaan tentang perlindungan perempuan dari pemaksaan perkawinan. Keempat, musyawarah keagamaan tentang perlindungan jiwa perempuan dari bahaya kehamilan akibat perkosaan. Kelima, musyawarah keagamaan tentang perlindungan perempuan dari bahaya pemotongan dan pelukaan genetalia perempuan (P2GP) tanpa alasan medis.
Dari kelima isu musyawarah di atas, saya memilih nomor 2 dan 5. Meski kelima isu di atas semuanya relate dengan misi Islam dalam memanusiakan manusia, namun kedua isu yang saya pilih cukup relate dengan kondisi di masyarakat sekitar saya tinggal.
Dalam setiap sesi halaqoh, kami diberi waktu 90 menit untuk memberikan pendapat serta refleksi dari pengalaman yang berkaitan dengan isu di atas. Yang menarik pada halaqoh ekstremisme adalah keterlibatan dari delegasi mancanegara seperti Kenya dan Suriah yang memberikan pendapat serta refleksi yang berkaitan dengan kondisi di negaranya.
Sayangnya, halaqoh di hari pertama atau yang disebut dengan pramusyawarah ini hanya berlangsung 90 menit. Refleksi maupun pendapat dari seluruh atau minimal 50% peserta yang hadir tidak dapat didengarkan sama-sama.
Bagi peserta yang mengisi ADP, mereka tinggal di kamar santri yang luas dan bersih. Bagi peserta yang mengisi ALP, panitia memberikan akses untuk berkomunikasi dengan warga yang menyediakan tempat tinggal di sekitar ponpes.
Saya memutuskan ALP agar bisa mengetahui sisi lain masyarakat sekitar ponpes. Alhamdulillah, ternyata hospitality dari warga sekitar juga sangat baik. Sambutan warga begitu hangat dan selalu menyediakan sarapan bagi kami.
Pada Jumat, 25 November 2022 pagi kami disuguhkan halaqoh secara panel dari para kiai berkaitan dengan tantangan ulama perempuan dan peluang gerakannya. Dari kelima pembicara, saya cukup tertarik dengan poin-poin yang disampaikan Ning Alissa Wahid.
Putri Gus Dur ini mengurai data hingga peluang yang bisa dilakukan menghadapi masyarakat umum, khususnya Gen Z yang menjadi the king of social media saat ini. Menarik memang jika mengikuti tantangan dakwah hari ini.
Digitalisasi dalam dakwah ini perlu ditingkatkan. Perlu lebih banyak orang yang menyuarakan keresahan masyarakat. Khususnya marginalisasi dan stereotip terhadap perempuan dalam perspektif islam.
Setelah jeda salat Jumat, agenda dilanjutkan dengan halaqoh-halaqoh. Ada lima pembahasan utama yang akan dimusyawarahkan dalam KUPI 2 ini.
Pertama, musyawarah keagamaan tentang pengelolaan sampah bagi keberlanjutan lingkungan hidup dan keselamatan perempuan. Kedua, musyawarah keagamaan tentang peran perempuan dalam melindungi NKRI dari bahaya ekstremisme beragama.
Ketiga, musyawarah keagamaan tentang perlindungan perempuan dari pemaksaan perkawinan. Keempat, musyawarah keagamaan tentang perlindungan jiwa perempuan dari bahaya kehamilan akibat perkosaan. Kelima, musyawarah keagamaan tentang perlindungan perempuan dari bahaya pemotongan dan pelukaan genetalia perempuan (P2GP) tanpa alasan medis.
Dari kelima isu musyawarah di atas, saya memilih nomor 2 dan 5. Meski kelima isu di atas semuanya relate dengan misi Islam dalam memanusiakan manusia, namun kedua isu yang saya pilih cukup relate dengan kondisi di masyarakat sekitar saya tinggal.
Dalam setiap sesi halaqoh, kami diberi waktu 90 menit untuk memberikan pendapat serta refleksi dari pengalaman yang berkaitan dengan isu di atas. Yang menarik pada halaqoh ekstremisme adalah keterlibatan dari delegasi mancanegara seperti Kenya dan Suriah yang memberikan pendapat serta refleksi yang berkaitan dengan kondisi di negaranya.
Sayangnya, halaqoh di hari pertama atau yang disebut dengan pramusyawarah ini hanya berlangsung 90 menit. Refleksi maupun pendapat dari seluruh atau minimal 50% peserta yang hadir tidak dapat didengarkan sama-sama.
Lihat Juga :