Momen Ferdy Sambo Memukul Tembok dan Menangis saat Jelaskan Kematian Brigadir J

Senin, 21 November 2022 - 12:49 WIB
loading...
Momen Ferdy Sambo Memukul Tembok dan Menangis saat Jelaskan Kematian Brigadir J
Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan,. Foto/MPI
A A A
JAKARTA - Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo disebut memukul tembok saat menjelaskan insiden penembakan yang menyebabkan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J tewas.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit saat bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Senin (21/11/2022).

Mulanya, Ridwan Soplanit menjelaskan saat dirinya diminta untuk ke rumah dinas Sambo usai Brigadir J tewas tertembak. Saat itu, dirinya mulai melangkah masuk dan melihat jasad Brigadir J tertelungkup di samping tangga. Saat itu, ia langsung disambut Ferdy Sambo.

Baca juga: Eks Kasat Reskrim Polres Jaksel Ungkap Perintah Sambo: Jangan Ngomong ke Mana-mana

Kepada Ridwan, Sambo pun menjelaskan kronologi kematian Brigadir J yang dibuatnya sendiri. "FS menyampaikan bahwa ini tadi saya baru dapat informasi ada tembak-menembak antar anggota saya. Sambil berjalan, tidak berhenti, kemudian sampai di depan akses jalan pintu dapur. Kemudian dia tunjukan, tembak-menembak yang satu di atas tangga, yang satu di depan pintu kamar," tutur Ridwan menjelaskan kepada majelis hakim.

Baca juga: Uang Rp200 Juta Masuk ke Rekening Ricky Rizal dari Brigadir J Usai Tewas Ditembak

Mendapat penjelasan itu, Ridwan pun tak menanyakan apa pun kepada Sambo. Ia hanya fokus menyimak kronologi yang dibuat Sambo. Sambil melanjutkan jalan mengitari ruang tengah rumah dinasnya, Sambo pun menerangkan kejadian penembakan dipicu lantara perbuatan Brigadir J yang melecehkan istrinya, Putri Candrawathi.

"Kemudian saat dia menerangkan, dia menepok tembok agak keras, karena saya pas berdiri di depan pintu kamar itu dia tepok tembok agak keras. Saya sempat kaget juga yang mulia, karena lagi mengalir menceritakan, kemudian menepok tembok," tutur Ridwan.

"Kemudian kepalanya itu nunduk ke tembok, kemudian dia melihat saya dan menggeleng-gelengkan kepala, matanya agak berkaca-kaca, terus dia bilang 'kejadian ini sebelumnya terjadi di Magelang. ' Kemudian saya sampaikan 'mohon izin saya harus melaporkan ke atasan saya ke Kapolres, dan minta petunjuk karena harus melakukan olah TKP," tandas Ridwan.
(cip)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2456 seconds (11.252#12.26)