Awas Brand Muhammadiyah Tenggelam!
Kamis, 17 November 2022 - 14:00 WIB
loading...
A
A
A
Brand lain yang masih terabaikan adalah brand politik. Muhammadiyah sepertinya cenderung ragu membangun brand politik karena sebagian merasa brand politik memiliki banyak mudaratnya, ketimbang positifnya. Dalam konteks brand politik ini, Muhammadiyah seharusnya bisa lebih jernih dan bisa melihat jauh ke depan. Brand politik yang dibangun ini bukan dalam konteks kepartaian tetapi membangun brand politik yang santun untuk penguatan brand-brand Muhammadiyah agar tetap berada di level atas karena memiliki akses yang luas di setiap struktur birokrasi kekuasaan.
Yang harus menjadi pertimbangan adalah brand Muhammadiyah tidak sendirian, kini banyak brand lain yang telah mengepung market Muhammadiyah. Jika tidak terjaga, brand Muhammadiyah bisa dalam himpitan brand-brand lain yang terus membangun brand awareness dan rebranding yang sangat gencar untuk menjadi market leader di setiap kelasnya.
Melihat berbagai fenomena brand di luar Muhammadiyah yang sangat agresif, super kreatif, bersamaan dengan momentum Muktamar Muhammadiyah di Solo, persyarikatan ini perlu memilih CEO/nakhoda yang bisa adaptif dengan kemajuan global agar Muhammadiyah bisa menjadi brand yang tidak hanya dominan di market lokal tetapi dominan di level nasional dan juga market global.
Dari kacamata luar Muhammadiyah, melihat ada dua figur yang sudah menjadi brand untuk bisa di-promote menjadi CEO Muhammadiyah; DR Haedar Nashir dan Prof Dr Abdul Mu'ti M.Ed. Keduanya memiliki kemampuan yang sudah teruji. Namun, tergantung goal yang akan disasar Muhammadiyah ke depan seperti apa; ingin bertahan sebagai brand lokal dan membiarkan dikepung brand-brand lain yang terus tumbuh, atau Muhammadiyah didorong menjadi brand lokal yang dominan secara nasional dan berkembang menjadi brand global.
Tentu warga Muhammadiyah yang cerdas bisa membanding-bandingkan kedua kandidat CEO Muhammadiyah tersebut dari berbagai perspektif yang luas untuk dipilih menjadi CEO Muhammadiyah yang definitif. Selamat bermuktamar.
Yang harus menjadi pertimbangan adalah brand Muhammadiyah tidak sendirian, kini banyak brand lain yang telah mengepung market Muhammadiyah. Jika tidak terjaga, brand Muhammadiyah bisa dalam himpitan brand-brand lain yang terus membangun brand awareness dan rebranding yang sangat gencar untuk menjadi market leader di setiap kelasnya.
Melihat berbagai fenomena brand di luar Muhammadiyah yang sangat agresif, super kreatif, bersamaan dengan momentum Muktamar Muhammadiyah di Solo, persyarikatan ini perlu memilih CEO/nakhoda yang bisa adaptif dengan kemajuan global agar Muhammadiyah bisa menjadi brand yang tidak hanya dominan di market lokal tetapi dominan di level nasional dan juga market global.
Dari kacamata luar Muhammadiyah, melihat ada dua figur yang sudah menjadi brand untuk bisa di-promote menjadi CEO Muhammadiyah; DR Haedar Nashir dan Prof Dr Abdul Mu'ti M.Ed. Keduanya memiliki kemampuan yang sudah teruji. Namun, tergantung goal yang akan disasar Muhammadiyah ke depan seperti apa; ingin bertahan sebagai brand lokal dan membiarkan dikepung brand-brand lain yang terus tumbuh, atau Muhammadiyah didorong menjadi brand lokal yang dominan secara nasional dan berkembang menjadi brand global.
Tentu warga Muhammadiyah yang cerdas bisa membanding-bandingkan kedua kandidat CEO Muhammadiyah tersebut dari berbagai perspektif yang luas untuk dipilih menjadi CEO Muhammadiyah yang definitif. Selamat bermuktamar.
(abd)
Lihat Juga :