Menyegarkan Kembali Kepemimpinan Muhammadiyah
Rabu, 16 November 2022 - 20:52 WIB
loading...
A
A
A
Karena itu, Muhammadiyah ke depan perlu lebih memperkuat peran kebangsaan dan peran di ranah internasional. Hal ini penting dan strategis karena sebagai pendiri bangsa (founders), Muhammadiyah harus ikut bertanggung jawab dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan Indonesia merdeka, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
Muhammadiyah perlu lebih hadir mewarnai berbagai kebijakan negara, terutama yang terkait langsung dengan dakwah dan amal usaha yang selama ini digeluti oleh Muhamamdiyah, seperti pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Selama ini peran tersebut belum berjalan dengan maksimal karena mobilitas pimpinan dan komunikasi eksternal Muhammadiyah yang terbatas.
Selama lima tahun terakhir ini, peran Muhammadiyah di dunia internasional jauh berkurang, bahkan nyaris tidak terdengar. Peran tersebut sekarang ini lebih banyak diambil oleh organisasi lain, khususnya Nahdlatul Ulama. Hal ini antara lain terkendala oleh mobilitas pimpinan yang terbatas karena kendala bahasa dan juga jaringan internasional.
Oleh karena itu, ke depan Muhammadiyah perlu untuk lebih proaktif bergerak di ranah dunia internasional dengan terus membuka dan memperkuat akses jaringan kerja sama yang saling menguntungkan. Hal ini guna untuk penguatan gerakan dakwah yang mencerahkan, pengembangan amal usaha dan kaderisasi bagi organisasi otonom Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul 'Aisyiyah (NA), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, maka dalam Muktamar Muhamamdiyah ke-48 ini perlu disiapkan tim untuk kepemimpinan Muhammadiyah periode 2022-2027. Pertama, muda. Rata-rata usia pimpinan saat ini di atas 60 tahun. Dengan besarnya amal usaha Muhammadiyah dan cakupan wilayah Muhammadiyah yang tersebar dari sabang sampai Merauke, maka Muhammadiyah perlu dipimpin oleh orang-orang muda yang punya semangat dan etos kerja yang tinggi. Darah segar dari kalangan muda akan mempercepat Gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Kedua, enerjik. Tak hanya muda tapi juga enerjik. Ini penting agar Gerakan Muhamamdiyah tidak mengalami kejumudan, baik dalam berpikir, bersikap maupun dalam bertindak yang lebih progresif dan berkemajuan, sehingga energi positif Muhammadiyah terus menyebar dan mengakar dimanapun eksistensinya akan diakui dunia.
Muhammadiyah perlu lebih hadir mewarnai berbagai kebijakan negara, terutama yang terkait langsung dengan dakwah dan amal usaha yang selama ini digeluti oleh Muhamamdiyah, seperti pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Selama ini peran tersebut belum berjalan dengan maksimal karena mobilitas pimpinan dan komunikasi eksternal Muhammadiyah yang terbatas.
Selama lima tahun terakhir ini, peran Muhammadiyah di dunia internasional jauh berkurang, bahkan nyaris tidak terdengar. Peran tersebut sekarang ini lebih banyak diambil oleh organisasi lain, khususnya Nahdlatul Ulama. Hal ini antara lain terkendala oleh mobilitas pimpinan yang terbatas karena kendala bahasa dan juga jaringan internasional.
Oleh karena itu, ke depan Muhammadiyah perlu untuk lebih proaktif bergerak di ranah dunia internasional dengan terus membuka dan memperkuat akses jaringan kerja sama yang saling menguntungkan. Hal ini guna untuk penguatan gerakan dakwah yang mencerahkan, pengembangan amal usaha dan kaderisasi bagi organisasi otonom Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul 'Aisyiyah (NA), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, maka dalam Muktamar Muhamamdiyah ke-48 ini perlu disiapkan tim untuk kepemimpinan Muhammadiyah periode 2022-2027. Pertama, muda. Rata-rata usia pimpinan saat ini di atas 60 tahun. Dengan besarnya amal usaha Muhammadiyah dan cakupan wilayah Muhammadiyah yang tersebar dari sabang sampai Merauke, maka Muhammadiyah perlu dipimpin oleh orang-orang muda yang punya semangat dan etos kerja yang tinggi. Darah segar dari kalangan muda akan mempercepat Gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Kedua, enerjik. Tak hanya muda tapi juga enerjik. Ini penting agar Gerakan Muhamamdiyah tidak mengalami kejumudan, baik dalam berpikir, bersikap maupun dalam bertindak yang lebih progresif dan berkemajuan, sehingga energi positif Muhammadiyah terus menyebar dan mengakar dimanapun eksistensinya akan diakui dunia.
Lihat Juga :