Cerita Fahri Hamzah soal Capres Pilihan Bohir di Pilpres 2024

Selasa, 15 November 2022 - 16:21 WIB
loading...
Cerita Fahri Hamzah...
Fahri Hamzah mengatakan bohir atau penyandang dana yang menyatukan partai politik. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Politikus Partai Gelora Fahri Hamzah mengatakan bahwa penyandang dana atau biasa disebut bohir dalam pemilihan presiden umumnya akan mengambil keputusan final dukungannya menjelang penetapan. Hal tersebut ia sampaikan dalam webminar bertajuk 'Siapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024' pada Selasa (15/11/2022).

"Selama saya 15 tahun di dunia politik mengikuti Pemilu, yang menyatukan parpol itu memang bohir atau para pembayar karena kita tidak mengatur secara rigid tentang keuangan Pilpres," ujar Fahri.

Menurut Fahri, pada umumnya bohir baru akan mengambil keputusan jelang penetapan KPU. Sehingga hingga saat ini belum ada bohir yang 100 persen menentukan arah dukungannya.

"Bohir akan membuat pilihannya di September 2023. Enggak ada bohir menaruh kartunya sekarang, omong kosong. Ini seperti main catur, dia mau menggerakkan pion di mana," terang Fahri.



Ia menyebutkan ada dua alasan mengapa bohir dalam Pemilu dan Pilpres 2024 tidak akan menaruh dukungan saat ini. Pertama, belum dapat kepastian dari KPU. Kedua bagaimana bisa mengajukan calon lain yang dapat mengalahkan. ”Bohir bisa tekor di depan gak bakalan mau," kata Fahri.

Fahri menilai sistem demokrasi dalam Pemilu di Indonesia pada 2019 lalu juga merupakan buah tangan dari para bohir tersebut. Semakin banyak partai

"Jadi ini yang menyatukan, semakin banyak partai semakin kacau. Jadi bohir yang menentukan saya mau ini dan ini. Itulah yang terjadi di Pemilu lalu. Sekonyong-konyong muncul Ma'ruf Amin, dan Sandiaga Uno. Pembayaran, di sini sanggup membayar, di sini ada yang mau bayarin," ungkap Fahri.

Melihat kondisi ini, Fahri mendorong perbaikan sistem."Jadi kritik saya kritik terhadap sistem bukan figur. Saya sarankan buat sistem primary. Gak apa-apa Nasdem dan Anies mendeklarasikan. Yang kita pilih itu Presiden, misalnya Nasdem dan Anies. Kemudian dimulai debat primary. Partai lain juga sama Barulah pertarungan satu tahun ini punya makna. Media boleh mengundang, kampus boleh mengundang. Karena ini mempengaruhi elektabilitas," tuturnya.



Fahri Hamzah menilai sistem demokrasi di Indonesia selama beberapa waktu terakhir kerap terbalik. "Di Indonesia ini kacau, elektabilitas dulu baru nominasi. Padahal seharusnya tarung di nominasi dahulu baru elektabilitas," jelas Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah menilai upaya pembelahan dengan menggunakan politik identitas yang membuat masyarakat irasional juga nantinya justru malah akan membuat calon pemimpin yang terpilih tidak dapat bekerja dengan baik.

"Teori saya warisan masa marah, ada dua pihak, dari massa marah Islam memilih Anies Baswedan, dan massa marah nasionalis dari Ganjar. Semakin irasional pemilih, maka akan semakin jelek kualitas pekerjaan pemimpin yang terpilih. Apalagi 85 persen politik itu semua menikam dari belakang," tutup Fahri Hamzah.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MKD Panggil Mardani...
MKD Panggil Mardani Ali Sera Pekan Depan Buntut Laporan Simpatisan Partai Gelora
Alasan Simpatisan Partai...
Alasan Simpatisan Partai Gelora Adukan Politikus PKS Mardani Ali Sera ke MKD
Dianggap Mengolok-olok...
Dianggap Mengolok-olok Partai Gelora, Mardani PKS Akan Dilaporkan ke MKD DPR
Ganjar-Mahfud Kalah...
Ganjar-Mahfud Kalah Pilpres 2024, Megawati: Ini Rekayasa dari Mana Pelajarannya?
Setara Institute Nilai...
Setara Institute Nilai Kualitas Demokrasi Pilpres dan Pilkada 2024 Rendah
Habib Rizieq Bicara...
Habib Rizieq Bicara Hasil Pilpres dan Pilkada 2024, Ini Katanya
Momen Akrab Anies dan...
Momen Akrab Anies dan Ganjar Bertemu, Netizen: Menyala Pak!
PDIP Anggap Janggal...
PDIP Anggap Janggal Hakim PTUN Tak Menerima Gugatan Pencalonan Gibran: Kita Menang Dismissal
Ini Pertimbangan Hakim...
Ini Pertimbangan Hakim PTUN Tak Terima Gugatan PDIP soal Pencalonan Gibran
Rekomendasi
Aksi Solidaritas Jurnalis...
Aksi Solidaritas Jurnalis Kalimantan Selatan untuk Juwita
Tarif Trump 32 Persen...
Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Indonesia, Ini Langkah Mitigasi Pemerintah
Kota Kelahiran Cleopatra...
Kota Kelahiran Cleopatra Ditemukan setelah Ribuan Tahun Menghilang
Berita Terkini
Jurnalis Asing Wajib...
Jurnalis Asing Wajib Punya Surat Keterangan Kepolisian? Kapolri dan Kadiv Humas Polri Buka Suara
7 jam yang lalu
Retreat Kepala Daerah...
Retreat Kepala Daerah Gelombang Kedua Segera Digelar, Lokasinya Belum Bisa Dipastikan
10 jam yang lalu
Mega Perintahkan Kepala...
Mega Perintahkan Kepala Daerah PDIP Ikut Retreat Gelombang Kedua jika Absen pada Gelombang Pertama
11 jam yang lalu
ART Lagi Mudik, Menteri...
ART Lagi Mudik, Menteri Raja Juli Antoni Bantu Istri Beres-Beres Rumah
12 jam yang lalu
Saksikan Malam Ini di...
Saksikan Malam Ini di INTERUPSI Siapa Suruh Datang Jakarta? Bersama Ariyo Ardi, Anisha Dasuki, Chico Hakim, dan Narasumber Lainnya, Live di iNews
12 jam yang lalu
Indonesia Kirim Bantuan...
Indonesia Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Myanmar Senilai 1,2 Juta Dolar AS
14 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Islam dengan...
5 Negara Islam dengan Kekuatan Militer Terkuat di Dunia
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved