Mendidik Generasi Milenial dengan Pendekatan Baru
Jum'at, 28 Oktober 2022 - 16:27 WIB
loading...
A
A
A
Sebenarnya, sekitar dua dekade sebelum era millennium, Edward L Deci dan Richard M Ryan dua orang peneliti dari Universitas Rochester Amerika Serikat telah mewanti-wanti para pendidik untuk tidak tergantung pada paradigma reward dan punishment dalam memotivasi peserta didik.
Menurut pandangan dua peneliti tersebut, reward dan punishment memang dapat memotivasi seseorang untuk bertindak seperti yang diinginkan, tetapi efeknya hanya jangka pendek dan motivasi seseorang untuk melakukannya relatif lemah seiring perjalanan waktu. Memberikan punishment ketika peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu memang akan membuat mereka takut dan berusaha memenuhi deadline. Tetapi secara tidak langsung 'menghindari hukuman' akan menjadi motif atau dorongan utama peserta didik untuk belajar dan hal ini akan mendistorsi tujuan utama belajar. Mereka juga akan menjadi tergantung pada punishment, jika tidak ada punishment maka mereka tidak perlu belajar. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap perilaku dan kehidupan mereka di masa depan, karena reward dan punishment menjadi penggerak utama dalam bertindak.
Deci dan Ryan mengajak para pendidik untuk memahami motivasi dari dalam individu atau motivasi intrinsik. Mereka memperkenalkan teori motivasi yang revolusioner sekitar tahun 1970an yang mereka namakan self-determination theory (SDT). Menurut teori ini individu pada hakikatnya memiliki dorongan untuk tumbuh, serta secara alami individu memiliki rasa ingin tahu, mengembangkan pengetahuan, dan bertindak.
Dorongan ini didasarkan pada tiga kebutuhan psikologis mendasar, yaitu: (1) otonomi (bertindak atas kehendak kita sendiri); (2) kompetensi (kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dan menguasai tugas); dan (3) keterkaitan (rasa memiliki dan keterhubungan). Berbeda dengan paradigma behaviorisme yang menyatakan bahwa tindakan individu ditentukan oleh kontingensi eksternal seperti reward dan punishment, sebaliknya paradigma SDT menyatakan bahwa tindakan individu ditentukan oleh tiga pemenuhan kebutuhan intrinsik tersebut.
Menurut self-determination theory (SDT), motivasi intrinsik inilah yang menghasilkan perilaku yang lebih konsisten dan bertahan lama. Motivasi intrinsik dapat ditingkatkan melalui pemenuhan tiga kebutuhan psikologis di atas. Berdasarkan ketiga kebutuhan tersebut, di mana menurut hasil riset yang perlu ditekankan adalah kebutuhan otonomi pada peserta didik. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan memberikan kesempatan peserta didik mengajukan project sesuai minat mereka. Selain itu peserta didik juga dapat dimintai pendapat tentang deadline dan progress tugas yang mereka inginkan.
Menurut pandangan dua peneliti tersebut, reward dan punishment memang dapat memotivasi seseorang untuk bertindak seperti yang diinginkan, tetapi efeknya hanya jangka pendek dan motivasi seseorang untuk melakukannya relatif lemah seiring perjalanan waktu. Memberikan punishment ketika peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu memang akan membuat mereka takut dan berusaha memenuhi deadline. Tetapi secara tidak langsung 'menghindari hukuman' akan menjadi motif atau dorongan utama peserta didik untuk belajar dan hal ini akan mendistorsi tujuan utama belajar. Mereka juga akan menjadi tergantung pada punishment, jika tidak ada punishment maka mereka tidak perlu belajar. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap perilaku dan kehidupan mereka di masa depan, karena reward dan punishment menjadi penggerak utama dalam bertindak.
Deci dan Ryan mengajak para pendidik untuk memahami motivasi dari dalam individu atau motivasi intrinsik. Mereka memperkenalkan teori motivasi yang revolusioner sekitar tahun 1970an yang mereka namakan self-determination theory (SDT). Menurut teori ini individu pada hakikatnya memiliki dorongan untuk tumbuh, serta secara alami individu memiliki rasa ingin tahu, mengembangkan pengetahuan, dan bertindak.
Dorongan ini didasarkan pada tiga kebutuhan psikologis mendasar, yaitu: (1) otonomi (bertindak atas kehendak kita sendiri); (2) kompetensi (kemampuan untuk mengembangkan keterampilan dan menguasai tugas); dan (3) keterkaitan (rasa memiliki dan keterhubungan). Berbeda dengan paradigma behaviorisme yang menyatakan bahwa tindakan individu ditentukan oleh kontingensi eksternal seperti reward dan punishment, sebaliknya paradigma SDT menyatakan bahwa tindakan individu ditentukan oleh tiga pemenuhan kebutuhan intrinsik tersebut.
Menurut self-determination theory (SDT), motivasi intrinsik inilah yang menghasilkan perilaku yang lebih konsisten dan bertahan lama. Motivasi intrinsik dapat ditingkatkan melalui pemenuhan tiga kebutuhan psikologis di atas. Berdasarkan ketiga kebutuhan tersebut, di mana menurut hasil riset yang perlu ditekankan adalah kebutuhan otonomi pada peserta didik. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan memberikan kesempatan peserta didik mengajukan project sesuai minat mereka. Selain itu peserta didik juga dapat dimintai pendapat tentang deadline dan progress tugas yang mereka inginkan.
Lihat Juga :