Mendidik Generasi Milenial dengan Pendekatan Baru
Jum'at, 28 Oktober 2022 - 16:27 WIB
loading...
A
A
A
Dengan demikian mereka menjadi tidak merasa didikte dan akan merasa memiliki wewenang serta tanggung jawab pada keputusan yang mereka buat. Selain itu, pemberian umpan balik juga perlu diperhatikan. Henderlong & Lepper (2002) menemukan bahwa umpan balik yang positif dan non-evaluatif dapat meningkatkan motivasi intrinsik. Sementara penilaian yang sifatnya menekan, menghukum, atau evaluasi malah akan menurunkan motivasi anak didik. Maka, sudah seharusnya lebih rajin memberi masukan konstruktif tugas anak didik ketimbang memberi kritik. Cara-cara memberikan dukungan untuk otonomi seperti ini sudah terbukti dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik di dunia akademik dan hasil belajar yang lebih baik (Roth, Assor, Niemiec, Ryan, and Deci, 2009; Chirkov & Ryan, 2001).
Oleh karena itu, perlu pendekatan baru dalam pembelajaran yang mempertimbangkan aspek self-determined learning. Pembelajaran yang memberikan otonomi (kemerdekaan) kepada peserta didik tentang bagaimana mereka belajar. Pendekatan yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan potensi, kreativitas dan self-directedness secara optimal dalam proses pembelajaran.
Pendekatan yang memosisikan pendidik sebagai pendamping, mentor dan fasilitator, sedangkan peserta didik sebagai pusat dari seluruh rangkaian proses kegiatan pembelajaran (student centered learning). Pendekatan baru ini berlandaskan pada prinsip bahwa peserta didik (learner) sebagai agen pembelajar utama yang otonom (“merdeka”) dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan, kompetensi, potensi, dan academic self-efficacy. Pendekatan pembelajaran baru ini sangat sesuai dengan karakteristik, tuntutan dan tantangan generasi milenial.
Oleh karena itu, perlu pendekatan baru dalam pembelajaran yang mempertimbangkan aspek self-determined learning. Pembelajaran yang memberikan otonomi (kemerdekaan) kepada peserta didik tentang bagaimana mereka belajar. Pendekatan yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan potensi, kreativitas dan self-directedness secara optimal dalam proses pembelajaran.
Pendekatan yang memosisikan pendidik sebagai pendamping, mentor dan fasilitator, sedangkan peserta didik sebagai pusat dari seluruh rangkaian proses kegiatan pembelajaran (student centered learning). Pendekatan baru ini berlandaskan pada prinsip bahwa peserta didik (learner) sebagai agen pembelajar utama yang otonom (“merdeka”) dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan, kompetensi, potensi, dan academic self-efficacy. Pendekatan pembelajaran baru ini sangat sesuai dengan karakteristik, tuntutan dan tantangan generasi milenial.
(abd)
Lihat Juga :