Ketidakpuasan Hidup Bernegara dan Klaim Manusia Tidak Sempurna
Kamis, 20 Oktober 2022 - 16:30 WIB
loading...
A
A
A
Pemahaman akan kesempurnaan ilmu itu tentu mengantarkan kita pada pemahaman bahwa semua yang turun dari langit dan apa pun yang naik kepada-Nya seluruhnya bergerak dengan sempurna. Begitupun yang keluar dari bumi dan apa pun yang masuk ke dalamnya. Tak terkecuali benda-benda semesta lainnya dan apalagi manusia.
Sang pencipta, menjadikan manusia dalam berbagai ras, etnis, dan atau suku seluruhnya mutlak telah dirancang secara sempurna hidup manusia. Bahkan kesempurnaan manusia melebihi semua makhluk lain dengan alasan karena dianugerahinya “akal dan rasa”.
Jika demikian, kenapa kegagalan itu ada dan tercipta atas dorongan apa? Sebelum berbicara lebih jauh, ada hal mendasar yang harus dipahami terlebih dahulu mengenai kepastian jatuhnya sanksi hidup, ia akan menimpa siapa saja yang melanggar aturannya tanpa pandang bulu. Dengan kata lain, azab akan menimpa suatu bangsa secara otomatis persis seperti halnya barang siapa yang menyantap empedu maka cepat atau lambat pasti akan mendapatkan rasa pahit.
Hal di atas bermakna bahwa proses itu 100% merupakan penentu takdir. Tentunya proses yang dimaksud tidak ditujukan pada upaya individu semata tapi lebih pada apa yang dilakukan kekuasaan yang sekarang ini disebut sistem negara.
Jika diumpamakan, ada individu masyarakat yang bercocok tanam dengan berharap mendapat keuntungan dari tanamannya, maka sampai kapanpun harapan itu tetap akan tergantung pada kebijakan negara yang jauh lebih memiliki dominasi untuk disebut sebagai "sebab" dibanding upaya individu yang bersifat parsial. Tidak heran kalaulah seorang Presiden sekalipun, tidak akan bisa menggunakan rasa kemanusian yang bersumber dari dirinya jika berseberangan dengan watak sistem yang notabene melekat dalam tupoksi jabatannya.
Kenyataan di atas akan memunculkan pertanyaan, mengapa negara dapat jadi penghalang bagi kesempurnaan manusia? Sejujurnya, kendatipun masyarakat dunia tidak mendeklarasikan diri secara terbuka menganut paham materialisme, tetapi secara "de facto" semua negara telah menjadikan materialisme sebagai alat dan dasar dalam mengatur kehidupannya. Hal tersebut adalah fakta dari terbatasnya kemampuan nalar manusia saat ini dalam “menemukan” sistem untuk mengantur kehidupannya.
Materialisme adalah suatu paham kebendaan yang hanya menggunakan kekuatan materi sebagai alat untuk pengaturan hidup. Suatu negara disebut kuat atau lemah ukuranya dari kekuatan APBN-nya. Itulah yang mendasari semua negara di dunia ini saling berlomba mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya. Dan paham ini bukanlah paham manusia, tapi merupakan paham kekuasaan yang dianut oleh semua lembaga negara yang ada di dunia saat ini.
Sang pencipta, menjadikan manusia dalam berbagai ras, etnis, dan atau suku seluruhnya mutlak telah dirancang secara sempurna hidup manusia. Bahkan kesempurnaan manusia melebihi semua makhluk lain dengan alasan karena dianugerahinya “akal dan rasa”.
Jika demikian, kenapa kegagalan itu ada dan tercipta atas dorongan apa? Sebelum berbicara lebih jauh, ada hal mendasar yang harus dipahami terlebih dahulu mengenai kepastian jatuhnya sanksi hidup, ia akan menimpa siapa saja yang melanggar aturannya tanpa pandang bulu. Dengan kata lain, azab akan menimpa suatu bangsa secara otomatis persis seperti halnya barang siapa yang menyantap empedu maka cepat atau lambat pasti akan mendapatkan rasa pahit.
Hal di atas bermakna bahwa proses itu 100% merupakan penentu takdir. Tentunya proses yang dimaksud tidak ditujukan pada upaya individu semata tapi lebih pada apa yang dilakukan kekuasaan yang sekarang ini disebut sistem negara.
Jika diumpamakan, ada individu masyarakat yang bercocok tanam dengan berharap mendapat keuntungan dari tanamannya, maka sampai kapanpun harapan itu tetap akan tergantung pada kebijakan negara yang jauh lebih memiliki dominasi untuk disebut sebagai "sebab" dibanding upaya individu yang bersifat parsial. Tidak heran kalaulah seorang Presiden sekalipun, tidak akan bisa menggunakan rasa kemanusian yang bersumber dari dirinya jika berseberangan dengan watak sistem yang notabene melekat dalam tupoksi jabatannya.
Kenyataan di atas akan memunculkan pertanyaan, mengapa negara dapat jadi penghalang bagi kesempurnaan manusia? Sejujurnya, kendatipun masyarakat dunia tidak mendeklarasikan diri secara terbuka menganut paham materialisme, tetapi secara "de facto" semua negara telah menjadikan materialisme sebagai alat dan dasar dalam mengatur kehidupannya. Hal tersebut adalah fakta dari terbatasnya kemampuan nalar manusia saat ini dalam “menemukan” sistem untuk mengantur kehidupannya.
Materialisme adalah suatu paham kebendaan yang hanya menggunakan kekuatan materi sebagai alat untuk pengaturan hidup. Suatu negara disebut kuat atau lemah ukuranya dari kekuatan APBN-nya. Itulah yang mendasari semua negara di dunia ini saling berlomba mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya. Dan paham ini bukanlah paham manusia, tapi merupakan paham kekuasaan yang dianut oleh semua lembaga negara yang ada di dunia saat ini.
Lihat Juga :