Bijak Menyikapi Konten Horor Resesi di Media Sosial
Kamis, 20 Oktober 2022 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun di beberapa negara, kebijakan menurunkan suku bunga tersebut tak mampu meredam dampak keganasan virus asal Wuhan China itu terhadap perekonomian negaranya.
Prediksi-prediksi maupun riset yang dilakukan oleh beberapa negara, kebanyakan menggunakan data-data kondisi perekonomian Amerika Serikat. Dimana, pada 2023 pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam itu diperkirakan berada di bawah 2%. Namun demikian, yang perlu menjadi catatan, sejak pemerintahan Joe Biden, posisi Amerika Serikat tak lagi sebagai kekuatan dominan di perekonomian global.
Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya belanja dan konsumsi negara-negara Eropa dan China. Spanyol misalnya, masih akan meningkatkan belanjanya tahun depan, dengan porsi belanja militer naik 25% dibandingkan tahun ini. Jerman masih menyiapkan anggaran yang besar untuk tahun depan dalam rangka stabilisasi perekonomian domestiknya, yakni sebesar 445 miliar Euro. Sedangkan China tetap meningkatkan anggaran belanjanya untuk menjaga pertumbuhan ekonominya berada di kisaran 4-5%.
Meskipun kondisi ekonomi global tak seperti yang dinarasikan oleh berbagai lenbaga riset, namun isu resesi dunia berhasil menghadirkan fear mongering di banyak negara khususnya di negara berkembang. Di Dalam negeri misalnya, sejatinya daya beli masyarakat mulai pulih dan investasi mulai masuk dengan adanya sejumlah insentif yang masih diberikan oleh pemerintah.
Sayangnya, di era digital saat ini, literasi masyarakat terkait ekonomi makro masih rendah, sehingga mudah dipengaruhi oleh isu-isu ataupun konten yang dinarasikan pihak-pihak yang tak berkompeten.
Di media sosial, banyak yang menyebut dirinya influencer membuat konten mengenai resesi. Mereka semua menyampaikan pesan yang sama, masyarakat harus takut dan waspada. Sehingga bagi masyarakat yang ingin “selamat” dari resesi, perlu mengikuti saran yang mereka berikan.
Meski banyak yang terpengaruh dan menganggap teredukasi, namun bagi sebagian lainnya hal tersebut patut diwaspadai sebagai strategi untuk menjual jasa yang mereka tawarkan.
Prediksi-prediksi maupun riset yang dilakukan oleh beberapa negara, kebanyakan menggunakan data-data kondisi perekonomian Amerika Serikat. Dimana, pada 2023 pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam itu diperkirakan berada di bawah 2%. Namun demikian, yang perlu menjadi catatan, sejak pemerintahan Joe Biden, posisi Amerika Serikat tak lagi sebagai kekuatan dominan di perekonomian global.
Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya belanja dan konsumsi negara-negara Eropa dan China. Spanyol misalnya, masih akan meningkatkan belanjanya tahun depan, dengan porsi belanja militer naik 25% dibandingkan tahun ini. Jerman masih menyiapkan anggaran yang besar untuk tahun depan dalam rangka stabilisasi perekonomian domestiknya, yakni sebesar 445 miliar Euro. Sedangkan China tetap meningkatkan anggaran belanjanya untuk menjaga pertumbuhan ekonominya berada di kisaran 4-5%.
Meskipun kondisi ekonomi global tak seperti yang dinarasikan oleh berbagai lenbaga riset, namun isu resesi dunia berhasil menghadirkan fear mongering di banyak negara khususnya di negara berkembang. Di Dalam negeri misalnya, sejatinya daya beli masyarakat mulai pulih dan investasi mulai masuk dengan adanya sejumlah insentif yang masih diberikan oleh pemerintah.
Sayangnya, di era digital saat ini, literasi masyarakat terkait ekonomi makro masih rendah, sehingga mudah dipengaruhi oleh isu-isu ataupun konten yang dinarasikan pihak-pihak yang tak berkompeten.
Di media sosial, banyak yang menyebut dirinya influencer membuat konten mengenai resesi. Mereka semua menyampaikan pesan yang sama, masyarakat harus takut dan waspada. Sehingga bagi masyarakat yang ingin “selamat” dari resesi, perlu mengikuti saran yang mereka berikan.
Meski banyak yang terpengaruh dan menganggap teredukasi, namun bagi sebagian lainnya hal tersebut patut diwaspadai sebagai strategi untuk menjual jasa yang mereka tawarkan.