R20 dan Ujian Prasangka Baik Moderatisme
Jum'at, 14 Oktober 2022 - 12:26 WIB
loading...
A
A
A
Kegelisahan Popper terhubung dengan perlunya menyikapi konektivitas dan inter-relasi berbagai agama. Pada titik ini, bahkan sikap toleran saja bisa dianggap belum utuh untuk memastikan keberadaan dan keberlangsungan relasi antaragama yang guyub dan rukun. Keseluruhan relasi untuk membangun harmoni bumi dengan nilai penghargaan terhadap keragaman dan keberagamaan adalah toleran, inklusif, dan plural.
Dalam perspektif John S Dunne, seseorang yang ingin memperkuat wawasn keagamannya sebaiknya memberanikan diri untuk melakukan passing over atau crossing over (melintas batas) ke agama lainnya dan kemudian kembali lagi (coming back) kepada agamanya sendiri dengan perspektif baru yang memperkuat agamanya sendiri dengan wawasan penghargaan terhadap agama lain (Media Z Bahri, 2011).
Dunne mendorong inisiatif untuk melakukan perjumpaan spiritual dengan agama lain dalam forum dialogis yang pada akhirnya mampu memperkuat wawasan kegamaannya sendiri. Upaya melintas batas itu, di awalnya, sudah diberikan rambu-rambu untuk tidak menjadi sesuatu yang keblablasan dengan meninggalkan identitas agamanya sendiri.
Hal ini menjadi mungkin dilakukan karena beberapa hal. Pertama, kedewassan beragama. Beragama yang dewasa adalah beragama yang kokoh dalam pemahaman agamanya sendiri, menjauhkan diri dari kemungkinan dan ketakutan terpengaruh ajaran agama lain.
Kedua, pada dasarnya semua agama memiliki titik pijak (common ground) yang sama dalam menyuarakan kebaikan dan nilai kemanusiaan. Dalam berbagai kesempatan, Hans Kung dan Paul Knitter, pemerhati dialog antariman, menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antariman yang harus lebih tajam dalam merumuskan langkah dan tindak lanjut yang langsung terkorelasi dengan problem kemanusiaan dan kegamaan umat itu sendiri. Dalam kaitan ini, peran pendidikan sangat penting untuk dilibatkan.
Berkaca dari problem intoleransi dan kekerasan berbasis agama, salah satu tantangan besar dari upaya menjaga kedamaian dan kaitannya dengan toleransi beragama adalah menumbuhkan kesadaran toleransi di kalangan warga. Di dalamnya, pendidikan dipandang menempati garis terdepan dalam upaya menumbuhkembangkan sekaligus turut menjaga keberlangsungan toleransi beragama.
Jangan sampai upaya penting dan mulia untuk menguatkan kerukunan umat beragama secara global ini hanya berhenti di meja-meja pembahasan dan mikrofon para pembicara di forum R20 nantinya.
Dalam perspektif John S Dunne, seseorang yang ingin memperkuat wawasn keagamannya sebaiknya memberanikan diri untuk melakukan passing over atau crossing over (melintas batas) ke agama lainnya dan kemudian kembali lagi (coming back) kepada agamanya sendiri dengan perspektif baru yang memperkuat agamanya sendiri dengan wawasan penghargaan terhadap agama lain (Media Z Bahri, 2011).
Dunne mendorong inisiatif untuk melakukan perjumpaan spiritual dengan agama lain dalam forum dialogis yang pada akhirnya mampu memperkuat wawasan kegamaannya sendiri. Upaya melintas batas itu, di awalnya, sudah diberikan rambu-rambu untuk tidak menjadi sesuatu yang keblablasan dengan meninggalkan identitas agamanya sendiri.
Hal ini menjadi mungkin dilakukan karena beberapa hal. Pertama, kedewassan beragama. Beragama yang dewasa adalah beragama yang kokoh dalam pemahaman agamanya sendiri, menjauhkan diri dari kemungkinan dan ketakutan terpengaruh ajaran agama lain.
Kedua, pada dasarnya semua agama memiliki titik pijak (common ground) yang sama dalam menyuarakan kebaikan dan nilai kemanusiaan. Dalam berbagai kesempatan, Hans Kung dan Paul Knitter, pemerhati dialog antariman, menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antariman yang harus lebih tajam dalam merumuskan langkah dan tindak lanjut yang langsung terkorelasi dengan problem kemanusiaan dan kegamaan umat itu sendiri. Dalam kaitan ini, peran pendidikan sangat penting untuk dilibatkan.
Berkaca dari problem intoleransi dan kekerasan berbasis agama, salah satu tantangan besar dari upaya menjaga kedamaian dan kaitannya dengan toleransi beragama adalah menumbuhkan kesadaran toleransi di kalangan warga. Di dalamnya, pendidikan dipandang menempati garis terdepan dalam upaya menumbuhkembangkan sekaligus turut menjaga keberlangsungan toleransi beragama.
Jangan sampai upaya penting dan mulia untuk menguatkan kerukunan umat beragama secara global ini hanya berhenti di meja-meja pembahasan dan mikrofon para pembicara di forum R20 nantinya.
(bmm)
Lihat Juga :