alexametrics

Orang dengan Penyakit Tidak Menular Rentan Tertular COVID-19

loading...
Orang dengan Penyakit Tidak Menular Rentan Tertular COVID-19
Prang dengan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, jantung, kanker, diabetes, ginjal, PPOK, penyakit napas lainnya, gangguan imunologi, turut mempermudah seseorang terpapar COVID-19. FOTO/ILUSTRASI/DOK.SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Cut Putri Ariene mengungkapkan orang dengan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, jantung, kanker, diabetes, ginjal, PPOK, penyakit napas lainnya, gangguan imunologi, turut mempermudah seseorang terpapar COVID-19. Bahkan jika terinfeksi virus berbahaya ini, kondisinya akan semakin berat.

"Orang-orang kelompok penyakit tidak menular adalah orang yang rentan terinfeksi (COVID-19). Ini sangat terkait dengan imunitas tubuh, karena yang pasti kondisinya berbeda dengan orang normal," kata Cut dalam diskusi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (4/7/2020).

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Eka Ginanjar mengatakan, orang dengan PTM mudah tertular COVID-19. Jika tertular, maka kondisinya semakin buruk.(Baca juga: Kalung Eucalyptus Disebut Antivirus Covid-19, Ini Tanggapan Pakar Kesehatan)

"Contohnya hipertensi, pembuluh darahnya sudah tidak baik, kekuatan mukosa (lapisan tubuhnya) itu sudah tidak terlalu bagus lagi, jadi mudah tertular. Daya tahan tubuh bukan hanya imunitas tapi daya tahan tubuh secara nonspesifik, jadi kekuatan tubuh kita melawan virus itu," kata Eka.



Eka berharap di masa pandemi ini, orang dengan PTM lebih menjaga kesehatan dan daya tahan tubuhnya dengan rutin cek kesehatan, menjaga indeks masa tubuh, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mengubah gaya hidupnya menjadi lebih bersih dan sehat.

Selain mencegah faktor risiko, Cut mengingatkan masyarakat untuk berperan aktif melakukan deteksi sedini mungkin. Deteksi dini penting untuk mengetahui status kesehatan seseorang, sehingga bisa dilakukan pengobatan sedini mungkin.(Baca juga: Ahli Epidemiologi: Haruskah COVID-19 Menang?)



"Jangan lupa deteksi dini, untuk orang sehat merasa dirinya tidak memiliki keluhan, belum tentu tetap sehat. Lakukanlah skrining minimal 6 bulan sampai 1 tahun sekali," ujar Cut.

Deteksi dini dapat dilakukan dengan mengukur tekanan darah, gula darah, indeks masa tubuh, dan lingkar perut. Skrining bagi orang dengan faktor risiko minimal 1 sampai 3 bulan sekali, untuk yang sudah penyandang sebaiknya lebih rutin lagi, minimal satu kali sebulan.
(abd)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak