Dampak Perubahan Iklim Makin Terasa, Krisis Pangan Mengancam
Selasa, 04 Oktober 2022 - 16:51 WIB
loading...
Sejumlah nelayan berada di atas kapal yang ditambatkan di pelabuhan Desa Kuala Bubon, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Senin (4/7/2022). FOTO/ANTARA/Syifa Yulinnas
A
A
A
JAKARTA - Dampak perubahan iklim semakin dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Dua dari contoh bencana iklim adalah tenggelamnya desa karena banjir, serta makin sulitnya nelayan melaut.
Menurut Manajer Kampanye Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil, Eksekutif Nasional WALHI, Parid Ridwanudin, di Demak, Jawa Tengah, 4 desa sudah tenggelam. Salah satunya Desa Bendono. Sedangkan nelayan, sepanjang 2010-2019, jumlahnya makin sedikit karena banyak yang tewas saat melaut. Jumlah nelayan berkurang 330.000. Pada 2010 jumlahnya sebanyak 2,16 juta nelayan. Namun pada 2019 tinggal 1,83 juta orang.
Parid menjelaskan, nelayan terdampak langsung oleh iklim, sebab mereka melaut berdasar kondisi cuaca. Krisis iklim membuat mereka semakin sulit memprediksi cuaca. Akibatnya, waktu melaut pun sangat terbatas. Dalam setahun, mereka hanya melaut selama 180 hari.
"Pada masa yang akan datang kita akan mengalami krisis pangan laut," ujar Parid dalam acara Bedah Dokumen dan Diskusi: Menguak Elemen Keadilan Iklim dalam Aksi Iklim Global dan Penerapannya di Indonesia di Jakarta, Senin (3/10/2022).
Parid mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan, lebih dari 12.000 desa pesisir, dan lebih dari 86 pulau kecil terluar (terdepan) akan tenggelam. Imbasnya, banyak masyarakat pesisir yang akan menjadi pengungsi karena bencana iklim (climate refugee). "Lebih jauh, generasi yang hidup pada tahun 2050 akan menghadapi kenaikan air laut dan terancam krisis pangan," katanya.
Menurut Manajer Kampanye Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil, Eksekutif Nasional WALHI, Parid Ridwanudin, di Demak, Jawa Tengah, 4 desa sudah tenggelam. Salah satunya Desa Bendono. Sedangkan nelayan, sepanjang 2010-2019, jumlahnya makin sedikit karena banyak yang tewas saat melaut. Jumlah nelayan berkurang 330.000. Pada 2010 jumlahnya sebanyak 2,16 juta nelayan. Namun pada 2019 tinggal 1,83 juta orang.
Parid menjelaskan, nelayan terdampak langsung oleh iklim, sebab mereka melaut berdasar kondisi cuaca. Krisis iklim membuat mereka semakin sulit memprediksi cuaca. Akibatnya, waktu melaut pun sangat terbatas. Dalam setahun, mereka hanya melaut selama 180 hari.
"Pada masa yang akan datang kita akan mengalami krisis pangan laut," ujar Parid dalam acara Bedah Dokumen dan Diskusi: Menguak Elemen Keadilan Iklim dalam Aksi Iklim Global dan Penerapannya di Indonesia di Jakarta, Senin (3/10/2022).
Parid mengatakan, jika kondisi ini dibiarkan, lebih dari 12.000 desa pesisir, dan lebih dari 86 pulau kecil terluar (terdepan) akan tenggelam. Imbasnya, banyak masyarakat pesisir yang akan menjadi pengungsi karena bencana iklim (climate refugee). "Lebih jauh, generasi yang hidup pada tahun 2050 akan menghadapi kenaikan air laut dan terancam krisis pangan," katanya.
Lihat Juga :