Profil Zainal Abidin Syah, Gubernur Papua Pertama dari Kesultanan Tidore

Jum'at, 30 September 2022 - 06:01 WIB
loading...
A A A
Dalam pembicaraan dengan Belanda, Zainal Abidin diajak kerja sama dan bergabung dengan Belanda. Dia dibujuk untuk menandatangani satu pernyataan yang telah disiapkan oleh Belanda. Hal itu dimaksudkan untuk menyerahkan Irian Barat ke tangan Pemerintah Belanda.

Belanda menawarkan imbalan akan menjamin kehidupan seluruh anggota kesultanan. Akan tetapi, Sultan Zainal Abdidin Syah dengan tegas menolak tawaran Belanda tersebut.

Dalam proses perundingan itu, Sultan Zainal Abidin diingatkan oleh Panglima Perang Kesultanan Tidore Kapita Lau dengan menginjak kakinya sambil berkata ‘sango ifa (jangan menjawab), lepo ifa (jangan menandatangani). Sultan Zainal Abidin kemudian menjawab dengan tegas, “saya tidak akan berkhianat kepada rakyat,” ujarnya sambil menepuk meja.

Pada tahun 1961, Zainal Abidin Syah diperbantukan di Kementerian Dalam Negeri sampai tahun 1963. Dia juga diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar (Trikora) Perjuangan Pembebasan Irian Barat tahun 1962.

Zainal Abidin Syah wafat pada 4 Juli 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Ia meninggalkan 1 orang istri dan 5 anak. Baca juga: Dialog dengan Pendukung Lukas Enembe, Komnas HAM Minta Hormati Proses Hukum

Oleh keluarga Kesultanan Tidore, kerangka almarhum Zainal abidin Syah kemudian dipindahkan ke Soa-Sio, Tidore dan disemayamkan di Sonyine Soloka (pelataran emas) Kedaton Kie Soasio Kesultanan Tidore pada 11 Maret 1986.
(kri)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2229 seconds (10.101#12.26)