Genting Stunting, Masalah Penting!

Selasa, 20 September 2022 - 18:42 WIB
loading...
Genting Stunting, Masalah Penting!
Norvi Handayati, Pranata Humas Muda, Badan Informasi Geospasial. Foto/Istimewa
A A A
Norvi Handayati
Pranata Humas Muda, Badan Informasi Geospasial

Kehadiran media sosial di tengah kehidupan masyarakat, memberi tawaran berbagai kemudahan. Informasi ditansformasikan secara cepat dan luas. Masyarakat dengan mudah menjangkau berbagai peristiwa dalam waktu nyata. Namun di sisi lain, keberadaan media sosial tak selalu bermanfaat. Tak jarang isinya bercampur baur dengan kabar bohong. Sehingga posisi media sosial bak pisau bermata dua. Terlebih ketika media ini digunakan untuk memuat konten, di luar batas keadaban. Munculnya ujaran kebencian yang berujung konflik, jadi warna keberadaannya.

Fenomena tak beruntung saat mengonsumsi informasi di media sosial, juga dialami para ibu. Manakala para ibu menggunakan platform ini untuk mencari berbagai informasi terkait kesehatan, parenting, tumbuh kembang anak, tak jarang malah harus menerima komentar nyinyir yang merendahkan, dari ibu lain. Bahkan juga dari kerabat terdekatnya. Hujatan ini dikenal sebagai mom shaming. Tanpa disadari, mom shaming kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Di tengah dampaknya yang sangat serius bagi kesehatan mental, fenomena ini tak selalu memperoleh perhatian yang cukup. Stres dan depresi adalah gejala umum yang dialami para ibu.

Salah satu pemicu mom shaming adalah perihal berat badan anak. Angka timbangan balita sering menghantui para Ibu. Manakala jarum timbangan tak beranjak atau malah bergeser ke kiri, para ibu cemas. Ia menstigma dirinya tidak becus mengurus anak. Benar memang berat badan jadi indikator penting dalam tumbuh kembangnya, di 1000 hari pertama kehidupan. Ini menjadikan fokus para ibu semata pada berat badan, seraya melupakan tinggi badannya.

Tinggi badan anak juga merupakan faktor penting. Mengacu pada aturan Menteri Kesehatan tentang Standar Antropometri, yang menilai status gizi dan tren pertumbuhan anak Indonesia, tak hanya berdasar pada berat badan, tetapi juga tinggi badan anak. Kedua hal ini punya pengaruh besar bagi tumbuh kembang dan kecerdasan anak kelak.

Stunting, Tak Idealnya Indikator Tumbuh Kembang

Berdasar parameter berat badan dan tinggi badan, dihasilkan beberapa indeks dalam menentukan status gizi dan pertumbuhan. Indeks itu menyangkut Berat Badan menurut Umur, Tinggi Badan menurut Umur, Berat Badan menurut Tinggi Badan, dan Indeks Massa Tubuh menurut Umur.

Baca juga: Optimalisasi Program “Stunting”

Indeks Berat Badan menurut Umur digunakan untuk menilai anak dengan berat badan kurang (underweight) atau sangat kurang (severely underweight). Jika nilai indeks ini rendah, kemungkinan anak mengalami masalah pertumbuhan. Namun indikator ini harus dikonfirmasi dengan tiga indeks lainnya. Sementara untuk indeks Tinggi Badan menurut Umur digunakan untuk mengidentifikasi anak yang pendek (stunted) atau sangat pendek (severely stunted). Hal ini disebabkan oleh faktor gizi yang kurang dalam waktu lama atau sering sakit. Sebuah keadaan yang bisa berujung pada kondisi stunting .

Menurut WHO, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita, akibat buruknya asupan gizi. Ini juga rawan terjadi pada balita yang terkena infeksi berulang, di periode 1.000 hari pertama kehidupan. Hitungan 1000 hari pertama, dimulai dari anak masih dalam bentuk janin, hingga berusia 23 bulan. Indikator stunting bisa dilihat dari perbandingan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan teman-teman sebayanya. Tentu saja dengan kategori usia dan jenis kelaminnya.

Di Indonesia, persoalan stunting mendapat perhatian serius. Berdasar hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, angka stunting di Indonesia adalah sebesar 24,4 persen. Ini artinya, hampir seperempat balita Indonesia mengalami stunting. Angka ini memang berangsur-angsur turun dari 30,8 persen di tahun 2018, namun masih tergolong tinggi. Angka itu ada di atas standar yang ditetapkan WHO, 20 persen.

Mengutip pernyataan pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak, Damayanti Rusli Sjarif, dampak stunting bukan sekadar tentang tinggi badan anak, melainkan juga tentang pertumbuhan otaknya. Jika seorang anak tergolong pendek, masih ada kesempatan menaikkan tinggi badannya, saat menginjak usia remaja. Namun jika anak sudah mengalami stunting, fungsi kognitifnya sudah terganggu dan tak bisa diobati lagi. Ancaman berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung juga harus dihadapi anak yang stunting. Hal inilah yang menjadikan stunting sebagai masalah serius yang harus segera diselesaikan.

Orang tua, utamanya ibu, memegang peranan penting dalam mencegah stunting. Stunting terjadi saat anak masih dalam kandungan. Pemberian menu gizi seimbang merupakan solusi terbaik dalam mencegah terjadinya stunting. Namun pencegahan stunting sebenarnya bukan hanya tugas orang tua, melainkan perlu melibatkan berbagai pihak, salah satunya pemerintah.

BIG dan Program Percepatan Penurunan Stunting

Presiden Jokowi telah menetapkan P3S (Program Percepatan Penurunan Stunting). Ini untuk mengatasi masalah stunting di Indonesia. Presiden menunjuk Wakil Presiden sebagai Ketua Pengarah dan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai Ketua Pelaksana. Program ini punya target menurunkan angka stunting nasional, menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Terdapat 5 pilar dalam Strategi Percepatan Penurunan Stunting. Ini meliputi, peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan, peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif, peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat, serta penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi. Kelima pilar ini berlaku di kementerian maupun lembaga pemerintah. Baik di tingkat provinsi, kabupaten, kota hingga pemeritahan desa.

Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai lembaga non kementerian, turut berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting. Lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan informasi geospasial dasar ini, ikut ambil bagian pada pilar pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi, BIG menyediakan data geospasial dalam upaya pemberantasan stunting.

Berkolaborasi dengan BKKBN, BIG membangun Dashboard Stunting dan Keluarga Berisiko Stunting. Dashboard ini bisa digunakan untuk memantau pencapaian program penurunan angka stunting di Indonesia. Informasinya bisa diakses pada laman https://geoportal.big.go.id/webapp/dashboard-stunting/#

Data yang digunakan pada penyusunan dashboard tersebut, merupakan data yang dihasilkan dari kegiatan pendataan keluarga di tahun 2021, yang dilaksanakan oleh BKBBN. Sementara, pemetaan yang dilakukan oleh BIG membantu BKKBN menunjukkan lokasi penduduk yang jadi sasaran penurunan angka stunting. Dalam dashboard, statistik indikator permasalahan stunting ditampilkan dalam berbagai tingkat wilayah administrasi. Ini dimulai dari provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa. Dari dashboard terlihat pola sebaran tiap indikator terkait permasalahan stunting. Informasi tersebut dapat jadi masukan dalam penentuan wilayah yang diprioritaskan, untuk dilakukannya intervensi. Penyajian data mengusung semangat no one left behind, juga menyajikan data terkait permasalahan stunting dalam tingkat unit keluarga. Dapat diketahui lokasi tempat tinggal keluarga yang membutuhkan intervensi pencegahan stunting.

Intervensi pencegahan stunting dilakukan dengan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Intervensi gizi spesifik terdiri dari berbagai program yang bertujuan untuk menanggulangi penyebab langsung masalah stunting. Sementara intervensi gizi sensitif merupakan kelompok program yang bertujuan untuk menanggulangi berbagai penyebab tak langsung dari stunting. Adanya dashboard stunting dan keluarga berisiko stunting, diharapkan mampu menampilkan peta risiko stunting. Ini bertujuan Program Percepatan Penurunan Stunting, dapat tepat sasaran. Namun tentu saja, tanpa adanya kolaborasi terpadu dari pemerintah pusat, daerah dan seluruh masyarakat, target yang sudah ditentukan, bakal sulit tercapai.

Adanya upaya penanganan terpadu dari berbagai lembaga pemerintah maupun perhatian dari seluruh masyarakat ini, merupakan kabar baik bagi para ibu. Persoalan stunting, tak lantas jadi kecemasannya sendiri. Berbagai pihak, termasuk BIG, berupaya serius melakukan percepatan penanganan stunting, dengan program yang tepat sasaran. Para ibu berkonsentrasi mencurahkan kasih sayangnya bagi sang buah hati.
(zik)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3763 seconds (11.97#12.26)