Bentuk Mujahid Digital, MUI: Satgas Pemantau Hoaks hingga Kontra Narasi

Kamis, 15 September 2022 - 16:49 WIB
loading...
Bentuk Mujahid Digital, MUI: Satgas Pemantau Hoaks hingga Kontra Narasi
Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi mengatakan pihaknya menginisiasi pembentukan mujahid digital. Foto/tangkapan layar
A A A
JAKARTA - Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) KH. Mabroer MS mengatakan pihaknya menginisiasi pembentukan mujahid digital. Mujahid digital merupakan satgas pemantau kontra narasi dan akun-akun yang berisi informasi hoaks dengan melibatkan seluruh ormas se-Indonesia dan mahasiswa.

"Kita membentuk mujahid digital agar ada akselerasi nilai-nilai kehidupan nyata, kehidupan sosial beragama yang notabene didominasi Islam yang mayoritas Islam moderat, wasatiyah, Rahmatan Lil Alamin dan lain lain,"katanya saat membuka Kongres Mujahid Digital secara daring, Kamis (15/9/2022)

Kiai Mabroer menjelaskan dunia digital telah membuat sebuah planet baru dengan penduduk mayoritasnya adalah generasi milenial. Sementara imigran visitor (kaum kolonial) yang belum masuk menjadi kaum mayoritas di dunia digital ingin melakukan akselerasi agar kehidupan yang baik menurut Islam dapat dibawa ke dunia digital.

Baca juga: Polemik Cuitan Eko Kuntadhi, Ini Nasihat Kiyai Yusuf Aman

"Itu salah satu tugas utama dari mujahid digital. Saya kira MUI punya tanggung jawab moral yang besar terhadap ini sekaligus punya legitimasi moral dan akademik bahwa nilai-nilai Islam wasatiyah ini adalah pengemban utama dari MUI,"ujar dia.

Baca juga: Waketum MUI Paparkan Piagam Madinah di Forum R20

Walaupun MUI telah memiliki atensi khusus melalui fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Namun, pada kongres tersebut juga akan menghasilkan Pedoman Etika Sosial (Code of Conduct) dalam dunia digital.

"Harapannya ke depan ini jadi satu bahan pertimbangan untuk menjadi masukan-masukan bahan peraturan pemerintah terkait dengan undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008. Kami sebagai ormas terbesar di Indonesia harus ikut hadir dalam menemani pergulatan dan kemajuan teknologi informasi ini yang kita kenal dengan dunia digital," ujarnya.

"Saya kira MUI harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Dunia digital benar-benar menjadi dunia yang nyaman untuk kita tinggali bersama baik yang pribumi, native netizen yakni kaum milenial, juga kaum kolonial," tuturnya.
(cip)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1824 seconds (10.177#12.26)