Setelah Harga BBM Naik, Apalagi?
Senin, 05 September 2022 - 10:11 WIB
loading...
A
A
A
Pertanyaannya, benarkah beragam subsidi itu bisa mengerem kenaikan harga-harga barang? Pasalnya, sebelum harga BBM dinaikkan saja harga sejumlah barang di pasaraan sudah naik. Lihat saja harga cabai, telur, dan sebelumnya minyak goreng. Apalagi dengan alasan kenaikan harga BBM, rasanya akan sulit mencegah kenaikan harga-harga yang membebani rumah tangga.
Ihwal kenaikan harg BBM ini, pemerintah punya argumen tersendiri karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dianggap sudah kewalahan menanggung beban subsidi. Perhitungan terakhir yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, total subsidi dan kompensasi akibat harga minyak dunia yang bertahan di atas USD90 per barel mencapai Rp502,4 triliun. Angka ini jauh di atas anggaran subsidi yang pada awalnya hanya dipatok sekitar Rp152 triliun.
Bahkanm bendahara negara itu menyampaikan bahwa angka subsidi dan kompensasi BBM itu bisa lebih besar lagi yakni di angka Rp653 triliun jika harga minya dunia terus berhatan di atas USD99 per barel.
Selanjutnya, untuk tahun 2023, menurut Sri Mulyani, pemerintah telah mengajukan anggaran subsidi BBM sebesar Rp336 triliun. Jika dilihat nilainya, angka itu memang cenderung menurun dibanding tahun ini. Namun, kita belum akan mengtahui secara pasti sejauh mana APBN tahun depan bisa dikatakan sehat seperti yang didengung-dengungkan pemerintah.
Pasalnya, subsidi tersebut harus dipastikan tepat sasaran, jangan seperti sebelumnya di mana penikmat subsidi adalah golongan masyarakat mampu. Di sinilah perlunya membuat mekanisme yanga tepat agar subsidi pada APBN leih tepat sasaran dan benar-benar dinikmati oleh golongan masyarakat miskin yang membutuhkan.
Ihwal kenaikan harg BBM ini, pemerintah punya argumen tersendiri karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dianggap sudah kewalahan menanggung beban subsidi. Perhitungan terakhir yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, total subsidi dan kompensasi akibat harga minyak dunia yang bertahan di atas USD90 per barel mencapai Rp502,4 triliun. Angka ini jauh di atas anggaran subsidi yang pada awalnya hanya dipatok sekitar Rp152 triliun.
Bahkanm bendahara negara itu menyampaikan bahwa angka subsidi dan kompensasi BBM itu bisa lebih besar lagi yakni di angka Rp653 triliun jika harga minya dunia terus berhatan di atas USD99 per barel.
Selanjutnya, untuk tahun 2023, menurut Sri Mulyani, pemerintah telah mengajukan anggaran subsidi BBM sebesar Rp336 triliun. Jika dilihat nilainya, angka itu memang cenderung menurun dibanding tahun ini. Namun, kita belum akan mengtahui secara pasti sejauh mana APBN tahun depan bisa dikatakan sehat seperti yang didengung-dengungkan pemerintah.
Pasalnya, subsidi tersebut harus dipastikan tepat sasaran, jangan seperti sebelumnya di mana penikmat subsidi adalah golongan masyarakat mampu. Di sinilah perlunya membuat mekanisme yanga tepat agar subsidi pada APBN leih tepat sasaran dan benar-benar dinikmati oleh golongan masyarakat miskin yang membutuhkan.
Lihat Juga :