Pemilu yang Membebaskan
Rabu, 24 Agustus 2022 - 16:11 WIB
loading...
Masudi (Foto: Ist)
A
A
A
Masudi
Anggota KPU provinsi Banten 2018-2023
PEMILU merupakan sarana untuk melaksanakan kedaualatan rakyat. Kedaulatan itu diwujudkan dalam bentuk menentukan pengisian dan penggantian jabatan di legislatif dan eksekutif. Dengan demikian, mereka yang terpilih adalah orang yang diberi amanah dan kepercayaan menjalankan pemerintahan guna menghadirkan kesejahteraan, keadilan, kebebasan, keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan warga negara.
Pemilu adalah bahasa lain dari kontrak politik dan moral di antara warga negara dengan wakilnya. Antara pemilih dengan yang dipilih. Setiap lima tahun sekali kontrak itu diperbaharui. Hasilnya bisa berupa perpanjangan, ini berarti rakyat tetap memberi kepercayaan dengan memilih kembali. Bisa juga diakhiri, artinya rakyat tidak lagi menghendaki dengan tidak memberikan suara kepada orang yang akan mewakilinya.
Dengan demikian, rakyat memiliki hak istimewa berupa kebebasan menentukan dengan siapa mereka akan melakukan kontrak politik lima tahunan. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalanginya. Baik oleh sekelompok golongan bersenjata atau sekumpulan politikus. Konstitusi telah berkata bahwa kedaualatan berada di tangan rakyat.
Kebebasan dalam pemilu merupakan hal paling mendasar. Undang-undang pemilu menyebutnya dengan istilah asas. Asas ini tercermin dalam seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu. Jika sebuah penyelenggaraan pemilu ingin disebut demokrati atau berintegritas maka pelaksanaanya harus taat pada seluruh asas yang ada.
Tulisan ini tidak secara spesifik mengurai tentang bebas sebagai salah satu pondasi dari pemilu yang demokratis. Tetapi bagaimana pemilu sebagai satu tolok ukur demokrasi bisa memberi ruang kebebasan kepada semua yang terlibat baik langsung atau tidak di dalamnya. Bahkan lebih jauh, pemilu sepatutnya memberi dampak pada penguatan ruang kebebasan demokrasi yang dalam beberapa tahun belakangan ini ternyata mengalami penyempitan. Di beberapa hal nyaris tersumbat.
Anggota KPU provinsi Banten 2018-2023
PEMILU merupakan sarana untuk melaksanakan kedaualatan rakyat. Kedaulatan itu diwujudkan dalam bentuk menentukan pengisian dan penggantian jabatan di legislatif dan eksekutif. Dengan demikian, mereka yang terpilih adalah orang yang diberi amanah dan kepercayaan menjalankan pemerintahan guna menghadirkan kesejahteraan, keadilan, kebebasan, keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan warga negara.
Pemilu adalah bahasa lain dari kontrak politik dan moral di antara warga negara dengan wakilnya. Antara pemilih dengan yang dipilih. Setiap lima tahun sekali kontrak itu diperbaharui. Hasilnya bisa berupa perpanjangan, ini berarti rakyat tetap memberi kepercayaan dengan memilih kembali. Bisa juga diakhiri, artinya rakyat tidak lagi menghendaki dengan tidak memberikan suara kepada orang yang akan mewakilinya.
Dengan demikian, rakyat memiliki hak istimewa berupa kebebasan menentukan dengan siapa mereka akan melakukan kontrak politik lima tahunan. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalanginya. Baik oleh sekelompok golongan bersenjata atau sekumpulan politikus. Konstitusi telah berkata bahwa kedaualatan berada di tangan rakyat.
Kebebasan dalam pemilu merupakan hal paling mendasar. Undang-undang pemilu menyebutnya dengan istilah asas. Asas ini tercermin dalam seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu. Jika sebuah penyelenggaraan pemilu ingin disebut demokrati atau berintegritas maka pelaksanaanya harus taat pada seluruh asas yang ada.
Tulisan ini tidak secara spesifik mengurai tentang bebas sebagai salah satu pondasi dari pemilu yang demokratis. Tetapi bagaimana pemilu sebagai satu tolok ukur demokrasi bisa memberi ruang kebebasan kepada semua yang terlibat baik langsung atau tidak di dalamnya. Bahkan lebih jauh, pemilu sepatutnya memberi dampak pada penguatan ruang kebebasan demokrasi yang dalam beberapa tahun belakangan ini ternyata mengalami penyempitan. Di beberapa hal nyaris tersumbat.
Lihat Juga :