Temui Moeldoko, Masyarakat Adat Perbatasan Curhat soal Pembangunan SDM
Selasa, 26 Juli 2022 - 14:04 WIB
loading...
Sebanyak 15 orang perwakilan masyarakat adat dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat menyambangi Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak 15 orang perwakilan masyarakat adat dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat menyambangi Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko terkait pembangunan sumber daya manusia (SDM) di kawasan perbatasan.
Secara khusus, masyarakat adat yang tinggal di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sungai Kelik di Kabupaten Sintang ini meminta agar pemerintah memberikan pelatihan kepada anak-anak muda perbatasan agar bisa memiliki daya saing. “Masyarakat adat tidak menentang pembangunan PLBN Sungai Kelik dan infrastrukturnya, tapi kami harap sumber daya manusianya juga disiapkan untuk mengiringi pembangunan tersebut. Kalau negara tidak hadir menyiapkan SDM di perbatasan, selamanya mereka akan dianggap kurang untuk memenuhi kualifikasi,” kata Igas, salah satu perwakilan masyarakat Suku Dayak Sintang.
Igas mengungkapkan, jumlah institusi pendidikan yang terbatas dan jarak tempuhnya yang sangat jauh sering menjadi hambatan bagi anak-anak muda di kawasan perbatasan untuk mengakses pendidikan secara layak. Kehadiran fasilitas penunjang seperti internet yang juga masih sangat terbatas.
Baca juga: 6 Pelaku Spionase Diamankan TNI, Moeldoko: Kita Tunggu Saja Hasil Penyelidikannya
Secara khusus, masyarakat adat yang tinggal di sekitar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sungai Kelik di Kabupaten Sintang ini meminta agar pemerintah memberikan pelatihan kepada anak-anak muda perbatasan agar bisa memiliki daya saing. “Masyarakat adat tidak menentang pembangunan PLBN Sungai Kelik dan infrastrukturnya, tapi kami harap sumber daya manusianya juga disiapkan untuk mengiringi pembangunan tersebut. Kalau negara tidak hadir menyiapkan SDM di perbatasan, selamanya mereka akan dianggap kurang untuk memenuhi kualifikasi,” kata Igas, salah satu perwakilan masyarakat Suku Dayak Sintang.
Igas mengungkapkan, jumlah institusi pendidikan yang terbatas dan jarak tempuhnya yang sangat jauh sering menjadi hambatan bagi anak-anak muda di kawasan perbatasan untuk mengakses pendidikan secara layak. Kehadiran fasilitas penunjang seperti internet yang juga masih sangat terbatas.
Baca juga: 6 Pelaku Spionase Diamankan TNI, Moeldoko: Kita Tunggu Saja Hasil Penyelidikannya
Lihat Juga :