Perekat Nusantara: Masyarakat Jangan Dicekoki Berita Menyesatkan Seputar Kematian Brigadir J

Minggu, 24 Juli 2022 - 15:01 WIB
loading...
Perekat Nusantara: Masyarakat Jangan Dicekoki Berita Menyesatkan Seputar Kematian Brigadir J
Koordinator Perekat Nusantara Petrus Selestinus menilai pengacara keluarga Brigadir J terlalu banyak berspekulasi. Foto/ist
A A A
JAKARTA - Pergerakan Advokat (Perekat) Nusantara menyayangkan informasi yang disampaikan pengacara keluarga Brigadir J mengenai spekulasi kematiannya di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo beberapa waktu lalu. Banyak fakta dan informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kejadian. Informasi tersebut mendorong publik banyak berspekulasi. Padahal proses penyidikan masih berlangsung.

Koordinator Perekat Nusantara Petrus Selestinus menilai, narasi yang menjurus kepada berita bohong atau hoaks terus diproduksi. Bahkan didaur ulang dari sumber yang tidak dipertanggung jawabkan. Akibatnya, kata Petrus, masyarakat dicekoki oleh informasi yang tidak berdasar dan mengendalikan arah pemberitaan hingga kinerja Polisi.

"Karena sudah digiring Irjen Ferdy sebagai pelaku, dan terlibat pembunuhan berencana. Padahal, Polri belum menetapkan tersangkanya," kata Petrus dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/7/22).



"Jangan sampai pemberitaan di medsos ini sudah menghakimi Irjen Ferdy dan institusi Polri," sambung Petrus.

Meski demikian Petrus mengapresiasi atas kontrol kuat masyarakat terhadap kinerja Polri di media sosial. Namun, dia khawatir, jika berlebihan atau kebablasan bisa berujung pada peradilan sesat.

"Ini bahaya, seandainya Ferdy Sambo tidak terbukti sebagai pelaku, siapa yang bertanggung jawab ini nanti? Ini bisa masuk fitnah dan mencemarkan nama baik orang,"ungkapnya.

Petrus meminta, semua pihak agar menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Termasuk pengacara keluarga Brigadir J. Dia berharap, agar pengacara menyerahkan bukti-bukti ke penyidik bukan dibeberkan ke publik.

"Kekhawatiran kami terjadi peradilan sesat. Pegangan kita kan peradilan hukum. Biarkan penyidik bekerja," lanjutnya.



Petrus menjelaskan, polisi sudah sangat terbuka dan akomodatif terhadap setiap permintaan pihak keluarga. Termasuk, menggali kembali kuburan Brigadir J untuk melakukan autopsi ulang.

Namun demikian Petrus mengingatkan, agar sikap akomodatif berlebihan justru malah mengesankan pihak Kepolisian didikte.

"Biarkan Polisi bekerja dibawah norma hukum yang berlaku, jangan dibawah tekanan opini,"pinta Petrus.

Selain itu, saat ini sudah ada tim yang dibentuk secara berlapis untuk mengawal kasus ini. Mulai dari tim dari pihak Polri, Kompolnas hingga Komnas HAM.



Advokat lainnya Erick S Paat meminta, publik mempercayakan kasus ini kepada penyidik Polri. Apalagi, sudah ada tim yang dibentuk secara berlapis untuk mengawal kasus tersebut. Mulai dari tim dari pihak Polri, Kompolnas hingga Komnas HAM. "Sudah berlapis begitu masak tidak percaya sih," katanya.

Erick menambahkan, rencananya Perekat Nusantara akan menghadap Kapolri untuk memberikan dukungan agar bekerja profesional sesuai KUHAP. "Kita atur minggu depan," tambahnya.

Untuk diketahui ada sekitar 12 orang advokat hadir dalam konferensi pers ini. Selain Petrus dan Erick, tampak juga Pieter Singkali, H. Moh. Satu Pali, Daniel T. Masiku, Antonius M. Safendi, Piterson Tanos, Berechmans M. Ambardi, Vincent Rante Alo, Juanita Valeri Tanamal dan Gideon Tarigan. Kemudian Robertus Mujiono, Brodus, Albertus, Carrel Ticualu dan Posma G. Siahaan.
(muh)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2042 seconds (0.1#10.140)