Titik Nol Peradaban
Selasa, 19 Juli 2022 - 08:57 WIB
loading...
A
A
A
Tokoh-tokoh kedua organisasi ini merupakanspeakerpaling lantang mencegah gerakan ekstrem kelompok teroris, menjaga Pancasila, dan UUD ’45, merawat NKRI, dan membangun kebersamaan.
Paham moderat tidak hanya diserukan oleh NU dan Muhammadiyah. Sejumlah kampus Islam seperti UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Surabaya, dan lainnya juga melakukan penguatan institusi Islam tingkat atas (MA/SMA) dan mahasiswa-mahasiswanya untuk mencegah infiltrasi gerakan dan ide terorisme.
Muazin lain yang sama sekali tidak boleh dilupakan adalah KH Mustofa Bisri, KH Solahuddin Wahid, Ahmad Syafii Ma’arif, Azyumardi Azra, dan Komaruddin Hidayat, yang di antaranya merespons dengan keras peristiwa bom mengatasnamakan agama.
Selama 1980-an dan 1990-an para peneliti telah mengingatkan seluruh pihak untuk mewaspadai gerakan ini dan fenomena bergesernya gerakan keagamaan ini dari Islam dakwah ke Islam politik. Misalnya, James J Fox dalamCurrents in Contemporary Islam in Indonesia(2004), menjelaskan puncak gerakan Islam ini dimulai pada 1998, ketika bangsa memasuki kebebasan berpendapat dan berserikat.
Situasi ini memberikan kesempatan untuk mendirikan ormas keagamaan dan organisasi politik, mendorong para aktivis dan pemikir kelompok ini masuk birokrasi, anggota Polri dan TNI, dan jadi kekuatan baru di kampus-kampus umum dan Islam di luar HMI, PMII, dan IMM. Lembaga yang didirikannya, misalnya di lembaga-lembaga dakwah kampus (LDK), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Himpunan Mahasiswa Muslim Antar Kampus (HAMMAS).
Dalam penelitian ini Fox menggambarkan sebagai “board spectrum”, yang memperlihatkan bahwa gerakan ini telah memiliki spektrum yang luas dalam konteks keragaman historis di Indonesia. Kelompok ini tidak hanya memperkuat jangkauan wilayah gerakan, tetapi juga pada saat bersamaan meneguhkan kekuatan gerakan yang mampu menembus (penetrasi) ke paham-paham keagamaan lain yang selama ini mengakar di Indonesia.
Lahirnya simbol keagamaan berada di ruang publik semakin massif dan sulit dikendalikan. Akibatnya, mengidentifikasi antara kelompok Islam ekstrem dan Islam moderat dalam konteks masa kini tidak mudah.
Paham moderat tidak hanya diserukan oleh NU dan Muhammadiyah. Sejumlah kampus Islam seperti UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Surabaya, dan lainnya juga melakukan penguatan institusi Islam tingkat atas (MA/SMA) dan mahasiswa-mahasiswanya untuk mencegah infiltrasi gerakan dan ide terorisme.
Muazin lain yang sama sekali tidak boleh dilupakan adalah KH Mustofa Bisri, KH Solahuddin Wahid, Ahmad Syafii Ma’arif, Azyumardi Azra, dan Komaruddin Hidayat, yang di antaranya merespons dengan keras peristiwa bom mengatasnamakan agama.
Selama 1980-an dan 1990-an para peneliti telah mengingatkan seluruh pihak untuk mewaspadai gerakan ini dan fenomena bergesernya gerakan keagamaan ini dari Islam dakwah ke Islam politik. Misalnya, James J Fox dalamCurrents in Contemporary Islam in Indonesia(2004), menjelaskan puncak gerakan Islam ini dimulai pada 1998, ketika bangsa memasuki kebebasan berpendapat dan berserikat.
Situasi ini memberikan kesempatan untuk mendirikan ormas keagamaan dan organisasi politik, mendorong para aktivis dan pemikir kelompok ini masuk birokrasi, anggota Polri dan TNI, dan jadi kekuatan baru di kampus-kampus umum dan Islam di luar HMI, PMII, dan IMM. Lembaga yang didirikannya, misalnya di lembaga-lembaga dakwah kampus (LDK), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Himpunan Mahasiswa Muslim Antar Kampus (HAMMAS).
Dalam penelitian ini Fox menggambarkan sebagai “board spectrum”, yang memperlihatkan bahwa gerakan ini telah memiliki spektrum yang luas dalam konteks keragaman historis di Indonesia. Kelompok ini tidak hanya memperkuat jangkauan wilayah gerakan, tetapi juga pada saat bersamaan meneguhkan kekuatan gerakan yang mampu menembus (penetrasi) ke paham-paham keagamaan lain yang selama ini mengakar di Indonesia.
Lahirnya simbol keagamaan berada di ruang publik semakin massif dan sulit dikendalikan. Akibatnya, mengidentifikasi antara kelompok Islam ekstrem dan Islam moderat dalam konteks masa kini tidak mudah.
Lihat Juga :