alexametrics

New Normal Penuh Kajian Matang untuk Membangkitkan Ekonomi

loading...
New Normal Penuh Kajian Matang untuk Membangkitkan Ekonomi
Diskusi virtual Indonesia Podcast Show 4 dengan tema New Normal Cara Efektif Membangkitkan Ekonomi, Kamis (25/6/2020). Foto/Dok. SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah terus mengkaji secara mendalam terkait pemberlakukan New Normal. Kebijakan ini tidak semata-mata melonggarkan aktivitas masyarakat namun penuh dengan perhitungan risiko yang dibahas secara matang.

"Sekarang kita lagi dalam proses berjalan. Paling utama mengikuti perkembangan di masyarakat, apakah masyarakat itu bisa untuk diajak berubah dalam hal perilaku supaya kasus ini menurun," kata Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Perekonomian, Edi Prio Pambudi dalam diskusi virtual Indonesia Podcast Show 4 dengan tema "New Normal Cara Efektif Membangkitkan Ekonomi", Kamis (25/6/2020). (Baca juga: Mau Tahu New Normal ala Real Madrid? Ini Jawabannya)

Selain Edi Prio Pambudi hadir juga narasumber lain yaitu, Deputi III KSP Bidang Perekonomian Panutan S Sulendrakusuma; Direktur Pengembangan Strategis BNPB Agus Wibowo; Sekretaris Fraksi PKB Fathan Subkhi, dan Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Canter. (Baca juga: Hadapi New Normal, Dunia Usaha Harus Lakukan Strategi 'Tiga R')



Menurut Edi, adanya penambahan kasus relevan dengan adanya peningkatan kapasitas dari sisi pemeriksaan. Hal itu sudah ditargetkan pemeriksaan ini harus mencakup luas. Tujuannya adalah menemukan orang-orang yang terinfeksi, kemudian diambil langkah secepatnya supaya menghindari penyebaran.

"Apakah karena dengan pelonggaran kemudian terjadi seperti ini, tidak. Tapi juga bisa karena adanya, apa, target pemeriksaan yang diperluas, yah, itu. Yang pasti kita juga menjaga jangan sampai karena semakin lama kegiatan usaha dihentikan, kemudian menimbulkan ketidakpastian, itu nanti bisa panjang eksesnya," ungkapnya. (Lihat grafis: 5 Provinsi Dengan Angka Kematian Covid-19 Terbesar di Indonesia)

Yang Edi khawatir dari ekonomi, kemudian pergerakan sosial dan lain sebagainya. "Kita akan coba, jangan sampai kemudian pada saat sudah mulai pulih lagi, tapi ternyata ada masalah dengan kegiatan usahanya. Karena tiga bulan ditutup itu tidak mudah yah. Nah inilah yang kemudian kita, apa ibaratnya itu, dilakukan secara simultan, secara pararel, bersamaan dan kemudian kita evaluasi. Jangan lupa, proses evaluasi ini terus berjalan," paparnya.

Wakil Ketua Fraksi PKB, Fathan Subkhi mengatakan, pihaknya mendukung langkah-langkah pemerintah untuk segera menggerakkan sektor riil. Menurutnya, lahirnya Perppu yang disetujui DPR sebagai itikad baik agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu. (Lihat foto: Produksi Roti Rumahan Alami Penurunan Drastis Akibat Covid-19)

"Langkah-langkah strategis harus segara diambil oleh pemerintah, agar kita terjadi kemerosotan ekonomi. Ketika pemerintah mengeluarkan stimulus perekonomian 908 triliun. Kami DPR memberikan catatan-catatan penting," kata Fathan.

Fathan menilai saat ini tidak bisa berbicara soal Covid-19 jika ekonomi melemah. Pemerintah harus cepat karena jika terlambat maka ekonomi akan memburuk.

"New Normal ini sebagai salah satu cara untuk membangkitkan ekonomi baik sektor real dan beberapa sektor-sektor lain. Dan tidak kalah penting adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Karena pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh daya beli masyarakat," ujarnya.

Deputi III KSP, Panutan S mengimbau agar masyarakat tetap mengikuti anjuran pemerintah yang tentunya berdasarkan pendapat para ahli kesehatan. Paling tidak yang harus dipatuhi yakni memakai masker, menjaga 1,5 meter, menjaga kebersihan, dan mencuci tangan.

"Bukan untuk pemerintah, tapi untuk kita semua, untuk kebaikan kita semua. Lakukan hal itu, maka Insya Allah adaptasi menuju masyarakat yang produktif tapi aman dan sehat itu akan terjalin," kata Panutan.

Direktur pengembangan strategi PB BNPB Agus Wibowo mengatakan, peran keluarga dianggap sangat sentral dalam penanganan krisis pandemi Covid-19. Selain memberikan layanan kesehatan dan bantuan ekonomi pemerintah dianggap perlu memberikan dorongan untuk menguatkan ketahanan keluarga di masa sulit.

“Kiat menghadapi New Normal adalah 4 sehat 5 sempurna, yaitu pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, olahraga dan tidur teratur, serta makan makanan bergizi,” jelasnya.

Pengamat dari Universitas Al Azhar, Zaenal Budiyono mengatakan New Normal ini harus berhasil. Jika tidak maka akan terjadi kemunduran. Jika memang situasinya memburuk, maka otomatis, harus mengambil plan B plan C dan sebagainya.
(poe)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak