Heboh Isu Penyelewengan Dana Umat, ACT Harus Sungguh-sungguh Perbaiki Diri
Selasa, 05 Juli 2022 - 15:20 WIB
loading...
CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan, Firsan Novadi. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Polemik penyalahgunaan dana oleh lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) dinilai bisa berdampak signifikan terhadap pengumpulan dana umat Islam ke depan. Untuk itu, manajemen ACT disarankan merespons persoalan ini secara responsif dengan melibatkan para stakeholders terkait.
"Sebaiknya ACT menyiapkan tim komunikasi krisis yang standby setiap saat supaya tetap responsif terhadap perkembangan isu dan pemberitaan media yang cenderung negatif," kata CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan, Firsan Novadi di Jakarta, Selasa (5/7/2022).
Firsan melihat munculnya dua tagar bertendensi negatif, #AksiCepatTilep dan #JanganPercayaACT menjadi bentuk nyata kekuatan publik dalam merespons polemik ini. Ia mengatakan permintaan maaf yang sudah disampaikan oleh manajemen ACT belum akan mampu menurunkan tensi kekecewaan publik, khususnya umat muslim di Indonesia.
"Harus segera dilakukan sinergi dengan banyak pihak dan mereka juga harus bersungguh-sungguh melakukan perbaikan. Jadi permintaan maaf saja belum cukup untuk meredam amarah publik," katanya.
Lebih lanjut Firsan menyarankan dalam merespons masalah ini perlu dipikirkan cara mengisolasi isu negatif ini menjadi tidak bergerak liar. "Di antaranya jangan kaitkan masalah ini dengan tahun politik. Justru hal tersebut akan semakin membuat blunder," ujarnya.
"Secara digital, ACT sebenarnya sudah memiliki fondasi yang bagus. Maksimalkan konten website dan optimalkan usaha untuk membangun narasi penyeimbang melalui media sosial internal," ujar Firsan.
"Sebaiknya ACT menyiapkan tim komunikasi krisis yang standby setiap saat supaya tetap responsif terhadap perkembangan isu dan pemberitaan media yang cenderung negatif," kata CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication Firsan, Firsan Novadi di Jakarta, Selasa (5/7/2022).
Firsan melihat munculnya dua tagar bertendensi negatif, #AksiCepatTilep dan #JanganPercayaACT menjadi bentuk nyata kekuatan publik dalam merespons polemik ini. Ia mengatakan permintaan maaf yang sudah disampaikan oleh manajemen ACT belum akan mampu menurunkan tensi kekecewaan publik, khususnya umat muslim di Indonesia.
"Harus segera dilakukan sinergi dengan banyak pihak dan mereka juga harus bersungguh-sungguh melakukan perbaikan. Jadi permintaan maaf saja belum cukup untuk meredam amarah publik," katanya.
Lebih lanjut Firsan menyarankan dalam merespons masalah ini perlu dipikirkan cara mengisolasi isu negatif ini menjadi tidak bergerak liar. "Di antaranya jangan kaitkan masalah ini dengan tahun politik. Justru hal tersebut akan semakin membuat blunder," ujarnya.
"Secara digital, ACT sebenarnya sudah memiliki fondasi yang bagus. Maksimalkan konten website dan optimalkan usaha untuk membangun narasi penyeimbang melalui media sosial internal," ujar Firsan.
Lihat Juga :