Misi Strategis Jokowi Damaikan Rusia-Ukraina
Rabu, 29 Juni 2022 - 13:30 WIB
loading...
Invasi Rusia atas Ukraina sudah berlangsung lebih dari 100 hari. Kedua negara diharapkan menemukan kesepakatan damai untuk mencegah dampak buruk perang pada kemanusiaan maupun terhadap perekonomian global. (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A
A
A
HARI-HARI ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah disibukkan dengan berbagai agenda kunjungan di Eropa. Namun kunjungan kenegaraan kali ini tampak istimewa. Selain menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 G7 di Jerman, keberangkatan Jokowi juga mengemban misi yang sangat strategis. Yakni perdamaian antara Ukraina-Rusia.
Misi ini begitu penting sebab perang antara Ukraina dan Rusia yang berlangsung sejak akhir Februari 2022 lalu faktanya telah berimplikasi luas terhadap berbagai tatanan dunia, wabilkhusus ekonomi. Kendati tidak menjadi bagian dari Group of Seven atau lebih dikenal dengan sebutan G7, namun Indonesia sejatinya tengah berada pada posisi yang istimewa.
KTT di Scholls Elmau, Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman itu, Jokowi merepresentasikan Indonesia yang berpredikat sebagai partner country dari G7. Lebih dari itu, posisi Indonesia yang saat ini tengah mengemban amanah sebagai presidensi G20 membuat hadirnya Jokowi lebih bermakna. Di beberapa forum internasional seperti G20 misalnya, Jokowi juga memanfaatkan betul sebagai sarana mengetuk kesadaran masyarakat internasional. Bahkan pada KTT G20 di Roma, Italia 31 Oktober 2021, Jokowi pernah dengan lantang berani mengkritik pembahasan isu tentang perubahan iklim yang selalu mengawang-awang.
G7 adalah komunitas negara-negara maju dan menyatakan dirinya terbuka. Negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada Prancis, Jerman, Italia dan Jepang. Sedang semua anggota G7 juga tergabung di G20. Bahkan di komunitas pemerintahan ini, terdapat Rusia yang saat ini tengah berseteru dengan Ukraina.
Praktis, G7 dan G20 ini berkelindan. Sejak awal, Indonesia pun tak ingin menyia-nyiakan forum penting ini. Selain datang langsung ke Jerman untuk bersama-sama dengan negara G7 mencari solusi atas isu terkini seperti krisis pangan dan energi global, Jokowi juga mengemban misi besar nan mulia, yakni mendorong perdamaian segera antara Ukraina dan Rusia.
Misi ini begitu penting sebab perang antara Ukraina dan Rusia yang berlangsung sejak akhir Februari 2022 lalu faktanya telah berimplikasi luas terhadap berbagai tatanan dunia, wabilkhusus ekonomi. Kendati tidak menjadi bagian dari Group of Seven atau lebih dikenal dengan sebutan G7, namun Indonesia sejatinya tengah berada pada posisi yang istimewa.
KTT di Scholls Elmau, Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman itu, Jokowi merepresentasikan Indonesia yang berpredikat sebagai partner country dari G7. Lebih dari itu, posisi Indonesia yang saat ini tengah mengemban amanah sebagai presidensi G20 membuat hadirnya Jokowi lebih bermakna. Di beberapa forum internasional seperti G20 misalnya, Jokowi juga memanfaatkan betul sebagai sarana mengetuk kesadaran masyarakat internasional. Bahkan pada KTT G20 di Roma, Italia 31 Oktober 2021, Jokowi pernah dengan lantang berani mengkritik pembahasan isu tentang perubahan iklim yang selalu mengawang-awang.
G7 adalah komunitas negara-negara maju dan menyatakan dirinya terbuka. Negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada Prancis, Jerman, Italia dan Jepang. Sedang semua anggota G7 juga tergabung di G20. Bahkan di komunitas pemerintahan ini, terdapat Rusia yang saat ini tengah berseteru dengan Ukraina.
Praktis, G7 dan G20 ini berkelindan. Sejak awal, Indonesia pun tak ingin menyia-nyiakan forum penting ini. Selain datang langsung ke Jerman untuk bersama-sama dengan negara G7 mencari solusi atas isu terkini seperti krisis pangan dan energi global, Jokowi juga mengemban misi besar nan mulia, yakni mendorong perdamaian segera antara Ukraina dan Rusia.
Lihat Juga :