Mendobrak Batasan dalam Membaca Karya Sastra

Minggu, 26 Juni 2022 - 16:25 WIB
loading...
A A A
Penulis fiksi bekerja dengan dasar konsep what if. Gagasan-gagasan atas sebuah karya sejatinya tidak memiliki batasan. Jika ada limit yang lahir, itu atas prakarsa si penulis sendiri. Konsep what if inilah yang membuka banyak kemungkinan untuk para lakon di dalam sebuah cerita. Dengan konsep ini, penulis bisa bermain-main, membangun semesta sendiri, dan menetapkan takdir karakter-karakter ciptaannya. Hal yang lumrah, memang begitulah penulis fiksi bekerja. Lumrah juga jika pembaca sampai gemas jika apa yang mereka duga akan terjadi ternyata jauh melenceng.

Saya dulu mengira, dwilogi Saman dan Larung akan berakhir bahagia, setidaknya untuk Saman dan Yasmin, dua tokoh yang paling melekat di benak saya. Membayangkan keduanya bersatu setelah sekian banyak halangan muncul, tentu akan sangat menyenangkan. Ternyata, Ayu dengan teganya menghadirkan ketetapan berbeda untuk Saman. Sebuah akhir cerita yang menghenyak. Adegannya cukup sederhana, yaitu lepasnya peluru menuju kepala Saman, tetapi itu menciptakan efek yang cukup kurang ajar sekian hari lamanya. Saya geram. Mengapa Ayu tak menulis saja bahwa Saman dan Larung selamat, lalu Saman kembali bersatu dengan Yasmin, meskipun dengan cara yang tak biasa?

Ada juga trilogi Divergent karya Veronica Roth. Sampai pertengahan buku ketiga, saya masih memiliki harapan Tris dan Four akan hidup bahagia. Lalu, sama seperti Ayu, Roth tega menghilangkan begitu saja sosok Tris di akhir cerita. Ya, meskipun Tris tidak benar-benar lenyap, ia terus hidup dalam hati Four dan Christina.

Satu lagi novel yang cukup menampar pakem di otak saya adalah The Appeal karya John Grisham. Tokoh utamanya adalah pasangan pengacara yang sudah tak lagi muda. Mereka membantu class action sekelompok orang yang tinggal dekat sebuah pabrik yang limbah kimianya dibuang begitu saja ke sungai. Sejak awal, perjuangan pasangan pengacara ini memang tidak pernah mudah, apalagi yang mereka hadapi adalah orang-orang yang memiliki dana nyaris tak terbatas untuk sekadar membungkam beberapa mulut lapar. Dan, pada akhirnya, uanglah yang menang. Pabrik itu tetap di sana dan tetap membuang limbahnya ke sungai.

Itu baru tiga di antara banyak judul. Belum lagi segambreng cerpen koran yang rata-rata memang memberi akhir twisted atau berkebalikan, atau paling tidak, akhir ceritanya tidak terduga. Tren ini tampaknya berbeda dengan karya sastra zaman dulu. Sebut saja Jane Austen dengan segenap romansa berakhir manis. Saya bahkan lupa seperti apa tepatnya akhir cerita novel Pride and Prejudice serta Mansfield Park. Sebab, ya, memang terasa kurang memberi kesan tajam. Oh, saya tidak mengatakan bahwa karya-karya Austen tidak bagus. Justru tulisan Austen digandrungi banyak perempuan karena menggambarkan impian mereka dengan detail. Saya hanya kurang menyukai jenis kisah yang dihadirkan.

Agak paradoks sebenarnya. Di satu sisi, manusia cenderung ingin sesuatu yang positif atau akhir yang bahagia. Namun, di sisi lainnya, jika melihat sesuatu yang melenceng dan tidak sesuai pakem, mereka justru berpikir soal akhir yang buruk. Ini masuk dalam mekanisme bertahan hidup, layaknya mangsa yang menginginkan pemburunya tertimpa sial, lalu mati.

Misalnya, seorang tokoh dalam cerpen tengah kelaparan dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Ia lalu memutuskan untuk mencuri. Dalam benak kebanyakan pembaca, bisa jadi mereka berharap si tokoh ditangkap, lalu dihukum. Akan tetapi, penulis bisa menciptakan takdir lain yang mungkin dianggap tidak ideal. Penulis bisa membuat si pemilik toko memaafkan si pencuri, dan malah memberinya sejumlah uang dan makanan, juga menawari pekerjaan agar tidak perlu mencuri lagi.

Begitu pula sebaliknya. Yang sejak awal baik-baik saja, lancar menghadapai konflik, tetapi dapat berakhir malang. Ya, seperti Saman, juga pasangan pengacara tua itu. Lantas, apa yang bisa kita simpulkan dari penjabaran di atas? Ini bergantung pada seberapa lebar kita membuka pintu probabilitas dalam pikiran kita.

Membaca sebuah karya sastra memang sepantasnya tidak dibarengi dengan harapan muluk soal akhir yang bahagia. Perlu diingat bahwa penulisnya bisa melakukan apa pun terhadap karakter-karakter rekaannya, bahkan hal-hal yang tidak tidak pernah kita pikirkan bisa terjadi. Berharap lebih hanya akan membuat kita gemas tak keruan.

Dunia what if ini tidak terbatas. Ia terus berkembang selayaknya kemampuan manusia menghadapi hidup. Yang selalu menetapkan limit, mungkin akan sulit menyesuaikan diri dengan perubahan. Mereka mungkin akan meronta jika melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya. Memang, limit atau batasan tetap harus dipakai agar kita tidak berakhir terjebak dalam situasi merugikan. Namun, terkadang kita harus meletakkan pikiran sejenak agar hati bisa bekerja, agar hati bisa merasa, betapa mahaluas semesta ini. Maka, membacalah dengan bijak.
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MaxNovel Award 2025,...
MaxNovel Award 2025, Kemenbud: Sastra adalah Ingatan Kolektif Bangsa
Denny JA Dapat Penghargaan...
Denny JA Dapat Penghargaan Sastra Global untuk Pengembangan Puisi Esai
Rustini Muhaimin Tekankan...
Rustini Muhaimin Tekankan Budaya Literasi dengan Gerakan Membaca
BEM, Novel tentang Aktivis...
BEM, Novel tentang Aktivis yang Mengajak Menyelami Dunia Kepemimpinan
Angkatan Puisi Esai:...
Angkatan Puisi Esai: Sebuah Gerakan Baru Warnai Sejarah Sastra Indonesia
Puisi Esai: Gerakan...
Puisi Esai: Gerakan Sastra yang Menghubungkan ASEAN, Mesir, dan Inggris
Meja Keabadian, Potret...
Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea
Siap Syuting, Film ‘Seporsi...
Siap Syuting, Film ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Libatkan Aktor Lintas Generasi
Okky Madasari Berbagi...
Okky Madasari Berbagi Kisah Inspiratif di Gelar Wicara Kalpasastra 2025
Rekomendasi
Gold Medalist Berterima...
Gold Medalist Berterima Kasih kepada Penggemar yang Tetap Mendukung Kim Soo-hyun
Heboh Kabar Jule Hamil,...
Heboh Kabar Jule Hamil, Respons Clara Shinta Langsung Jadi Sorotan
Preview Timnas Indonesia...
Preview Timnas Indonesia vs Oman: Rizky Ridho Jadi Kapten, Calvin Verdonk Siap Tampil
Berita Terkini
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Infografis
7 Kombes Pecah Bintang...
7 Kombes Pecah Bintang Jadi Brigjen Dalam Mutasi Polri Januari 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved