Sosok KH Azhar Basyir, ‘Kiai Terakhir’ Muhammadiyah Putra Santri Pendiri NU
Jum'at, 24 Juni 2022 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
Seperti kebanyakan pemimpin Muhammadiyah, Azhar Basyir juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Dia tak ingin posisi tingginya merepotkan banyak orang dan membuat bengkak anggaran.
Dikisahkan dalam buku Anekdot Tokoh-Tokoh Muhammdiyah (Nur Cholis Huda, 2012) yang dikutip dari laman pwmu.co, suatu ketika Azhar Basyir menghadiri acara salah satu Ranting di Panceng, Gresik, sekitar 50 kilometer dari Surabaya. Acara ternyata baru selesai leps tengah malam.
Panitia pun mengantar Azhar Basyir kembali ke Surabaya dan diinapkan di sebuah hotel di tengah kota. Tetapi sesampainya di hotel, Azhar Basyir bertanya.
Baca juga: Jejak Muhammadiyah Membantu Palestina
“Mengapa saya diinapkan di hotel? Apa sekarang sudah tidak ada warga Muhammadiyah yang rumahnya bersedia diinapi ketua PP,” tanya Azhar Basyir tersenyum.
Setelah dijawab bahwa niat panitia hanya menyediakan tempat istirahat yang nyaman dan bebas, Azhar Basyir kembali tersenyum.
“Kalau Ranting harus mengeluarkan biaya besar tiap kali pengajian, bisa mati pengajian di Ranting. Padahal, itu penting sekali. Pengajian di Ranting itu salah satu nafas kehidupan Persyarikatan,” katanya.
28 Juni 1994, Kiai Azhar Basyir wafat pada usia 66 tahun setelah dirawat di RSUP dr. Sarjito, Yogyakarta karena mengalami radang usus, gula, komplikasi jantung. Dia Dimakamkan di pemakaman umum Karangkajen, Yogyakarta.
Dikisahkan dalam buku Anekdot Tokoh-Tokoh Muhammdiyah (Nur Cholis Huda, 2012) yang dikutip dari laman pwmu.co, suatu ketika Azhar Basyir menghadiri acara salah satu Ranting di Panceng, Gresik, sekitar 50 kilometer dari Surabaya. Acara ternyata baru selesai leps tengah malam.
Panitia pun mengantar Azhar Basyir kembali ke Surabaya dan diinapkan di sebuah hotel di tengah kota. Tetapi sesampainya di hotel, Azhar Basyir bertanya.
Baca juga: Jejak Muhammadiyah Membantu Palestina
“Mengapa saya diinapkan di hotel? Apa sekarang sudah tidak ada warga Muhammadiyah yang rumahnya bersedia diinapi ketua PP,” tanya Azhar Basyir tersenyum.
Setelah dijawab bahwa niat panitia hanya menyediakan tempat istirahat yang nyaman dan bebas, Azhar Basyir kembali tersenyum.
“Kalau Ranting harus mengeluarkan biaya besar tiap kali pengajian, bisa mati pengajian di Ranting. Padahal, itu penting sekali. Pengajian di Ranting itu salah satu nafas kehidupan Persyarikatan,” katanya.
28 Juni 1994, Kiai Azhar Basyir wafat pada usia 66 tahun setelah dirawat di RSUP dr. Sarjito, Yogyakarta karena mengalami radang usus, gula, komplikasi jantung. Dia Dimakamkan di pemakaman umum Karangkajen, Yogyakarta.
(muh)
Lihat Juga :