Puncak Kezuhudan Ilmuwan

Rabu, 22 Juni 2022 - 14:50 WIB
loading...
A A A
Dia konsisten membangun nalar akademik yang bisa diamati di banyak karyanya. Di antara karayanya ada: Masa Depan Pendidikan Islam di Tengah Kompleksitas Tantangan Modernitas (2003); Pijar-pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur (2004) , Membogkar Keracuan Pemikiran Nurcholish Madjid: Seputar Isu Sekularisasi dalam Islam (2010); Rekam Jejak Kebangsaan dan Kemanusiaan (2011); Republik Bhineka Tunggal Ika: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya (2012); Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Analisis Historis (2014); Membongkar Absurditas Ide-ide Ahmad Wahib (2014); Islam Konstitusionalisme dan Pluralisme (2019), NU, Moderatisme dan Pluralisme (2020) serta puluhan karya-karya lainnya termasuk ontologi puisi.

Bahkan menjelang wafat, Prof Faisal sedang menyelesaikan satu naskah buku yang belum diterbitkannya. Ini seolah menjadi pesan mendalam bahwa seorang intelektual akan terus berkarya hingga akhir hayatnya. Mungkin ini seperti yang digambarkan oleh Ali Shariati dalam tulisannya On The Sociology of Islam (1980), bahwa proses perjalanan hidup manusia memilih untuk terus berjuang tanpa henti. Sebuah perjalanan menuju satu tujuan, yakni menyatukan jiwa dengan Sang Pamilik.

Tema-tema utama pemikiran Prof Faisal Ismail yang menjadi warisan intelektualnya membentang seputar sejarah peradaban Islam, ideologi, modernisasi, westernisasi, sekularisasi, multikulturalisme, pluralisme, toleransi, kebebasan beragama, dialog dan kerukunan antarumat beragama. Tema-tema tersebut sangat kuat, menggema dan menjadi alur pemikiran Prof Faisal terutama dalam konteks keislaman dan keindonesiaan. Di berbagai karyanya tersebut alur pemikiran Prof Faisal konsisten melakukan kritik terhadap “Barat”, baik Barat sebagai “bangsa” dan “intelektual”, maupun “bangsa dan intelektual muslim yang terbaratkan”.

Sebagai ilmuwan yang gelar master dan doktornya di selesaikan di Barat yakni Amerika dan Kanada, Faisal Ismail justeru memahami lebih dekat dan mendalam sejumlah fenomena, teori dan konseptualisasi yang menjadi fokus kritiknya. Penguasaan ilmu agama yangmendalam, karena tumbuh kembang dari Sekolah Dasar Negeri (SDN; dulu disebut SRN/Sekolah Rakyat Negeri), ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), ke IAIN Sunan Kalijaga telah memberi pondasi yang kokoh bagi pemikirannya. Fase pematangan diri sebagai intelektual terbangun di Kajian Sejarah Islam Departement of Middle East Languages and Cultures, Columbia University, New York dengan tesis tentang The Nahdlatul Ulama: Its Early History and Religious Ideology (1988).

Program Doktornya di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada dengan disertasi Islam, Politics, and Ideology in Indonesia: A Study of The Process of Muslim Acceptance of the Pancasila (1995). Peripurnanya strata pendidikan perpaduan Barat-Timur, tradisional-modern, tak lantas membuat Faisal menjadi Barat atau terbaratkan. Narasi-narasi pemikirannya justru lugas dan tegas banyak mengkritik Barat meskipun tidak anti Barat.

Pribadi Asketis
Kezuhudan atau asketisme melekat kuat pada kesehariannya. Meskipun sejumlah jabatan di kampus (dekan dan direktur pascasarjana), di birokrasi Kementrian Agama (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Sekretaris Jenderal dan Staf Ahli Menteri Agama bidang Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia) maupun sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Kuwait merangkap Kerajaan Bahrain telah dicapainya, tetapi Prof Faisal tetaplah hidup sederhana. Nyaris sulit membedakan antara beliau sebelum menjadi pejabat dan setelahnya. Saat ke Jakarta untuk menengok anak, menantu dan cucu-cucunya Prof Faisal masih sering menggunakan kereta api. Jika pun naik pesawat, dari bandara ke rumah anak-menantunya, tak segan menggunakan bus/Damri bersambung ojek.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
Pribumi Islam Gus Dur,...
Pribumi Islam Gus Dur, Realitas Islam Indonesia
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Kang Sobary Sebut Roy Suryo Cs Sedang Jalankan Peran Intelektual
ICA 2025, Menginspirasi...
ICA 2025, Menginspirasi Negeri lewat Kreatif
Ary Ginanjar: Penting...
Ary Ginanjar: Penting Pemimpin Berkarakter Seimbang Intelektual, Emosional, dan Spiritual
Pentingnya Visi Misi...
Pentingnya Visi Misi Lembaga untuk Lahirkan Cendekiawan Muslim
FITK UIN Sunan Kalijaga...
FITK UIN Sunan Kalijaga Borong 6 Penghargaan Bergengsi di PD-PGMI Indonesia Award 2026
Bikin Momen Kumpul Keluarga...
Bikin Momen Kumpul Keluarga di Rumah Makin Seru dengan Inspirasi Kegiatan ala Shopee
Sukses Bangun Personal...
Sukses Bangun Personal Branding, Kreator M. Ridho Bagikan Strategi Konten Visual Estetik
Rekomendasi
Balogun Bebas, Tuchel:...
Balogun Bebas, Tuchel: Mungkin Trump Bisa Selamatkan Quansah?
Balogun Diselamatkan...
Balogun Diselamatkan FIFA, Belgia: Ini April Mop?
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Berita Terkini
Prabowo: Indonesia-Singapura...
Prabowo: Indonesia-Singapura Sepakat Jaga Keamanan Selat Malaka
Kasus Suap Bupati Suhardiman...
Kasus Suap Bupati Suhardiman Amby, KPK Geledah Sejumlah Lokasi di Kuansing
Hakim Tolak Praperadilan...
Hakim Tolak Praperadilan Asrul Azis di Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Prabowo ke PM Singapura:...
Prabowo ke PM Singapura: Kalau Ada Salah Paham, Kita Selesaikan Terbuka
Roy Suryo Gugat Praperadilan...
Roy Suryo Gugat Praperadilan Lagi, Kuasa Hukum Jokowi: Tidak Logis, Statusnya Sudah Terdakwa
Nadiem Makarim Laporkan...
Nadiem Makarim Laporkan 4 Hakim Kasus Chromebook ke KY, Singgung Dugaan Manipulasi Fakta Sidang
Infografis
Ilmuwan Klaim Temukan...
Ilmuwan Klaim Temukan Bukti Peradaban Kuno di Planet Mars
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved