Catatan Penting 30 Tahun Persahabatan Indonesia-Ukraina
Selasa, 14 Juni 2022 - 15:45 WIB
loading...
A
A
A
Mungkin pernyataan ini adalah pernyataan yang pertama kali dijelaskan di hadapan publik internasional, dan tidak banyak diketahui sebelumnya. Status ini penting untuk diketahui dan dipahami oleh bangsa Indonesia, sebagai literasi bahwa Ukraina dan Indonesia adalah sama-sama negara yang berdaulat dan merdeka, yang tidak menganut paham blok mana pun. Bahwa apa yang dilakukan oleh Ukraina saat ini adalah merupakan kepentingan untuk bertahan hidup (survival interest), antara hidup dan mati, antara hidup merdeka atau dijajah bangsa lain. Kesamaan nilai dan cara pandang inilah yang seharusnya menjadi pijakan masyarakat Indonesia dalam memandang inti persoalan dari krisis yang terjadi di Ukraina.
Tahun 2022 ini, Indonesia didaulat menjadi ketua dalam ajang klub elite bergengsi dunia G20. Meski berbasiskan pada kerja sama dan kolaborasi dalam bidang ekonomi, besar harapan agar ajang G20 nanti juga bisa menghasilkan pemikiran dan gagasan yang konkret pada upaya perdamaian bagi krisis Ukraina-Rusia. Hal itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Merujuk pada pertemuan G20 di St Petersburg pada 2013, kepala-kepala negara dari 20 negara anggota G20 berhasil membahas isu Syiria, sesuatu yang awalnya dirasa tabu dan tidak mungkin dilakukan, namun akhirnya bisa dilakukan.
Saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berani menyuarakan pandangannya meski saat itu harus berbeda pendapat dengan Presiden Obama yang duduk bersebelahan. Langkah aktif Indonesia yang telah dilakukan untuk berkontribusi pada perdamaian Ukraina-Rusia oleh Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi sudah baik dilakukan, namun masih bisa ditingkatkan.
Besar harapan agar peran penting Keketuaan Indonesia pada KTT G20 pada November nanti, Indonesia bisa berkontribusi aktif bagi persahabatan Indonesia dan Ukraina, pada asas kemanusiaan, serta ketertiban dan perdamaian di dunia. Tentunya hal ini akan menjadi catatan penting bagi 30 tahun persahabatan Indonesia dan Ukraina.
Baca berita selengkapnya di e-paper koran-sindo.com
Tahun 2022 ini, Indonesia didaulat menjadi ketua dalam ajang klub elite bergengsi dunia G20. Meski berbasiskan pada kerja sama dan kolaborasi dalam bidang ekonomi, besar harapan agar ajang G20 nanti juga bisa menghasilkan pemikiran dan gagasan yang konkret pada upaya perdamaian bagi krisis Ukraina-Rusia. Hal itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Merujuk pada pertemuan G20 di St Petersburg pada 2013, kepala-kepala negara dari 20 negara anggota G20 berhasil membahas isu Syiria, sesuatu yang awalnya dirasa tabu dan tidak mungkin dilakukan, namun akhirnya bisa dilakukan.
Saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berani menyuarakan pandangannya meski saat itu harus berbeda pendapat dengan Presiden Obama yang duduk bersebelahan. Langkah aktif Indonesia yang telah dilakukan untuk berkontribusi pada perdamaian Ukraina-Rusia oleh Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi sudah baik dilakukan, namun masih bisa ditingkatkan.
Besar harapan agar peran penting Keketuaan Indonesia pada KTT G20 pada November nanti, Indonesia bisa berkontribusi aktif bagi persahabatan Indonesia dan Ukraina, pada asas kemanusiaan, serta ketertiban dan perdamaian di dunia. Tentunya hal ini akan menjadi catatan penting bagi 30 tahun persahabatan Indonesia dan Ukraina.
Baca berita selengkapnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :