Ada 68.000 Kasus, Waspadai Wabah DBD di Tengah Pandemi Covid-19
Selasa, 23 Juni 2020 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
Nadia mengatakan, karena masyarakat banyak berada di rumah, adalah penting untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah secara mandiri. “Kalau kita lihat di hotel terutama di Bali itu kasus DBD untuk kabupaten/kota adalah 3 terbesar dan NTB juga 3 terbesar," katanya. Hal itu diduga karena sudah terlalu lama aktivitas wisata berhenti. (Baca juga: Ombudsman Ungkap Tiga Faktor Biaya Rapid test Dikeluhkan)
Dia mengatakan pencegahan penularan DBD paling sederhana dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk yakni Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak digunakan di rumah.
Ahli Infeksi dan Pediatri Tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti mengingatkan tujuh tanda bahaya demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19.
Meskipun DBD dan Covid-19 penyebarannya sama-sama berasal dari virus. Namun, Karyanti mengatakan virus DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang disertai dengan keluhan yang berbeda. “Untuk kasus DBD perjalannya memang satu minggu penyebabnya virusnya,” katanya .
Masyarakat harus cermat dan mengetahui bahwa gejala DBD dan Covid-19 berbeda. “Tidak seperti Covid yang lebih ke sistem pernapasan atas. DBD lebih mengarah ke demam dan perdarahan kulit. Juga mimisan, gusi berdarah atau memar itu harus diwaspadai,” tegasnya. (Baca juga: Jumlah Polisi di Rembang yang Positif Covid-19 Bertambah)
Selain itu, DBD biasanya keluhannya demam tinggi mendadak kadang disertai dengan muka merah dan nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan bisa disertai dengan perdarahan. “Itu yang tidak ada pada Covid. Perdarahan spontan, mimisan, gusi berdarah atau timbul bintik-bintik merah di kulit,” kata Karyanti.
Dia mengatakan pencegahan penularan DBD paling sederhana dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk yakni Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang barang-barang yang sudah tidak digunakan di rumah.
Ahli Infeksi dan Pediatri Tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti mengingatkan tujuh tanda bahaya demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19.
Meskipun DBD dan Covid-19 penyebarannya sama-sama berasal dari virus. Namun, Karyanti mengatakan virus DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang disertai dengan keluhan yang berbeda. “Untuk kasus DBD perjalannya memang satu minggu penyebabnya virusnya,” katanya .
Masyarakat harus cermat dan mengetahui bahwa gejala DBD dan Covid-19 berbeda. “Tidak seperti Covid yang lebih ke sistem pernapasan atas. DBD lebih mengarah ke demam dan perdarahan kulit. Juga mimisan, gusi berdarah atau memar itu harus diwaspadai,” tegasnya. (Baca juga: Jumlah Polisi di Rembang yang Positif Covid-19 Bertambah)
Selain itu, DBD biasanya keluhannya demam tinggi mendadak kadang disertai dengan muka merah dan nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan bisa disertai dengan perdarahan. “Itu yang tidak ada pada Covid. Perdarahan spontan, mimisan, gusi berdarah atau timbul bintik-bintik merah di kulit,” kata Karyanti.