Deteksi Penyelundupan Narkoba dari Timteng, Maksimalkan Peran Atase Polri
Senin, 22 Juni 2020 - 15:42 WIB
loading...
A
A
A
“Ketika kita bicara fungsi atase baru dari perwakilan di luar negeri, tentu ada konsekuensi dan kebijakan yang muncul. Ada alokasi anggaran dan resource. Perwakilan Indonesia di luar yang ada fungsi atase polisi hanya di Arab Saudi, ketika ada potensi suplai baru misalnya Iran? Itu yang kemudian harus di-excercise, apakah menjadi bagian dari sistem deteksi dini. Apakah dengan adanya fungsi atase bisa mengantisipasi ketegangan diplomasi politik,” kata perempuan yang akrab disapa Icha ini. (Baca juga: Komisi III Sebut Satgasus Merah Putih Proteksi Bangsa dari Ancaman Narkoba)
Dalam kesempatan yang sama Shiskha mengingatkan Polri dan instansi terkait untuk tak lengah terhadap penyelundupan narkoba. Terlebih di tengah pandemi, di mana seluruh negara di dunia tengah berupaya menstabilkan ekonomi yang terpuruk, termasuk Timur Tengah. “Perlu antisipasi (penyelundupan memanfaatkan momentum pandemi). Saat ini yang sudah bisa dilakukan Indonesia adalah mencegat. Trennya meningkat, hampir menyentuh 1,7 ton sabu dari Iran beberapa waktu terakhir,” tandas Shiskha.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irine Gayatri,MA, menyebutkan selama ini perempuan rentan menjadi korban dalam industri narkoba, baik digunakan sebagai kurir hingga sasaran penyalahgunaan agar pangsa pasar tetap besar. “Perempuan rentan menjadi korban. Tidak hanya di Asia, tapi juga Eropa dan Amerika Latin. Mereka (Wanita) menjadi transporter,” tegas kandidat doktor dari Monash University, Australia ini.
Sementara psikolog yang juga menjadi Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Tia Rahmania,MPsi memberikan pesan pentingnya penanganan lanjutan (after care) bagi para pecandu yang telah menjalani rehabilitasi agar tak terjerumus kembali ke lingkaran setan narkoba. Pemulihan ditekankannya bukan hanya pada pecandu, namun juga pihak keluarga yang turut terdampak.
Dalam kesempatan yang sama Shiskha mengingatkan Polri dan instansi terkait untuk tak lengah terhadap penyelundupan narkoba. Terlebih di tengah pandemi, di mana seluruh negara di dunia tengah berupaya menstabilkan ekonomi yang terpuruk, termasuk Timur Tengah. “Perlu antisipasi (penyelundupan memanfaatkan momentum pandemi). Saat ini yang sudah bisa dilakukan Indonesia adalah mencegat. Trennya meningkat, hampir menyentuh 1,7 ton sabu dari Iran beberapa waktu terakhir,” tandas Shiskha.
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irine Gayatri,MA, menyebutkan selama ini perempuan rentan menjadi korban dalam industri narkoba, baik digunakan sebagai kurir hingga sasaran penyalahgunaan agar pangsa pasar tetap besar. “Perempuan rentan menjadi korban. Tidak hanya di Asia, tapi juga Eropa dan Amerika Latin. Mereka (Wanita) menjadi transporter,” tegas kandidat doktor dari Monash University, Australia ini.
Sementara psikolog yang juga menjadi Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Tia Rahmania,MPsi memberikan pesan pentingnya penanganan lanjutan (after care) bagi para pecandu yang telah menjalani rehabilitasi agar tak terjerumus kembali ke lingkaran setan narkoba. Pemulihan ditekankannya bukan hanya pada pecandu, namun juga pihak keluarga yang turut terdampak.
(cip)
Lihat Juga :