70% Temuan Positif Corona Awalnya Dirasakan sebagai Gejala Remeh
Senin, 22 Juni 2020 - 05:08 WIB
loading...
Petugas medis melakukan tes usap (swab test) COVID-19 kepada warga di kantor Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Hampir 70% kasus terkonfirmasi positif Covid-19 ditemukan dengan minim keluhan. Dengan kata lain, orang yang akhirnya diketahui terinfeksi virus Corona itu mempersepsikan diri tidak terjangkit karena merasa apa yang dialami tidak masuk dalam radar gejala Covid-19.
”Misalnya, ya saya batuk tapi jarang-jarang, ya panas tapi tidak tinggi-tinggi banget, jadi aku nggak sakit,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Nasional Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam diskusi di Media Center Graha BNPB Jakarta, Minggu (21/6/2020).
(Baca: Unik, Imam Shamsi Ali Undang Saksikan Pernikahan Putranya Lewat Zoom)
Menurut Yurianto, keluhan yang minim tersebut tidak boleh dianggap remeh. Sebab dengan menganggap apa yang dialami ringan lalu tidak menahan diri untuk beraktivitas normal alias tidak melakuan isolasi mandiri, seseorang tersebut berpotensi menjadi penyebab penularan, khususnya kepada kelompok yang lebih rentan, bila ternyata memang positif. “Itu yang harus diperhatikan,” tambah Yuri.
Memang, Yuri mengakui bahwa untuk mengonfirmasi seseorang positif atau tidak membutuhkan proses yang tidak sederhana. Uji sampel yang direkomendasikan WHO yaitu pemeriksaan antigen menggunakan real time Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Tes Cepat Molekuler (TCM).
”Misalnya, ya saya batuk tapi jarang-jarang, ya panas tapi tidak tinggi-tinggi banget, jadi aku nggak sakit,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Nasional Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam diskusi di Media Center Graha BNPB Jakarta, Minggu (21/6/2020).
(Baca: Unik, Imam Shamsi Ali Undang Saksikan Pernikahan Putranya Lewat Zoom)
Menurut Yurianto, keluhan yang minim tersebut tidak boleh dianggap remeh. Sebab dengan menganggap apa yang dialami ringan lalu tidak menahan diri untuk beraktivitas normal alias tidak melakuan isolasi mandiri, seseorang tersebut berpotensi menjadi penyebab penularan, khususnya kepada kelompok yang lebih rentan, bila ternyata memang positif. “Itu yang harus diperhatikan,” tambah Yuri.
Memang, Yuri mengakui bahwa untuk mengonfirmasi seseorang positif atau tidak membutuhkan proses yang tidak sederhana. Uji sampel yang direkomendasikan WHO yaitu pemeriksaan antigen menggunakan real time Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Tes Cepat Molekuler (TCM).
Lihat Juga :