alexametrics

Keringat Deras dan Waswas di Ruas yang Terbatas

loading...
Keringat Deras dan Waswas di Ruas yang Terbatas
Warga bersepeda di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto/SINDOnews/Isra Triansyah
A+ A-
HAMPIR 15 menit Theo Yonathan (33) mengayuh sepeda dari Polda Metro Jaya menuju kantornya di kawasan Palmerah, Jakarta Pusat. Meskipun udara menjelang siang itu cukup panas, Theo seolah tak risau. Keringat yang mengucur di pipinya justru membuatnya semakin bersemangat di atas sepeda lipat oranyenya.

Lelaki yang tinggal di Depok, Jawa Barat, ini memang gandrung sepeda. Bahkan sudah dua tahun terakhir dia melakoni setiap hari bersepeda dari Depok ke Palmerah. Tak kurang 25 kilometer jauhnya dia bersepeda tiap hari. “Hitung-hitung ngurangi berat badan,” ujar bapak dua anak tersebut.

Selama bekerja menggunakan sepeda Theo selalu membawa tiga setel baju dan satu celana untuk ganti setiba di kantor. Dia sadar bersepeda membuat keringat keluar lebih deras. Namun, dia tetap bahagia karena hobinya ini membuat tubuhnya makin bugar dan sehat.



Sama seperti Theo, meningkatnya kesadaran akan kesehatan inilah yang membuat ribuan warga Jakarta kini menyukai olahraga bersepeda. Tak hanya waktu akhir pekan atau libur, jalan-jalan di Jakarta setiap hari dipenuhi pesepeda. Bahkan hobi baru warga Jakarta di tengah pandemi Covid-19 ini juga tampak ramai hingga tengah malam. Umumnya para pesepeda ini berkeliling kota beramai-ramai. (Baca: Sri Mulyani: Pedarang dagang AS-CHina Bisa Berdampak ke Pemulihan Ekonomi)

Di pinggiran Gelora Bung Karno (SUGBK), tiap sore juga dipenuhi pesepeda. Tua, muda, hingga anak-anak beredar di kawasan itu. Lingkaran sebelum masuk ke kawasan GBK menjadi lokasi favorit mereka. Sebagian lagi memilih menggerakkan rodanya dengan memilih kawasan yang lebih jauh seperti sekitar GBK, antara lain Gerbang Pemuda, Asia Afrika, Gerbang Senayan, hingga Jalan Sudirman. Usai magrib pengguna sepeda di kawasan ini tampak jauh lebih banyak.

Namun, bagi Theo bersepeda di tengah pandemi membuatnya justru kian terbatas. Sebab, banyaknya warga Jakarta yang berolahraga sepeda tak diimbangi dengan jalur sepeda yang memadai. Akibatnya jalur khusus yang telah dibuat oleh Pemprov DKI padat.

Sekalipun kendaraan dalam beberapa hari terakhir belum banyak, Theo enggan berisiko menggunakan jalur kendaraan lantaran takut celaka. “Empat bulan lalu sebelum Covid-19 (merebak), kawasan Sudirman-Thamrin sangat nyaman untuk bersepeda, tapi sekarang sangat padat,” ujarnya. (Baca juga: Pria Lebih Suka Wanita yang Pandai Masak, Ini Alasannya)

Bersepeda di malam hari pun, kata Theo, saat ini kurang nyaman. Gambaran ini kontras sekitar satu bulan lalu. Kala itu, saat pulang, dia selalu bersepeda dari kantornya menuju Stasiun Cawang untuk nyambung naik KRL. Dia biasanya bersepeda pukul 22.00 WIB. Suasana lalu lintas kota pun masih sangat sepi sehingga tidak membahayakan bagi pesepeda. “Dulu cukup aman kalaupun jalanan ramai. Kita aman, tapi sekarang bahaya,” ucapnya.

Hana Suryani (35) pehobi sepeda lain berharap Pemprov DKI segera membenahi fasilitas seperti jalur khusus untuk sepeda. Sebab, seiring meningkatkan warga berolahraga sepeda saat pandemi, jalur khusus seperti di Sudirman-Thamrin menjadi sangat padat. Hana juga menyoroti masih minimnya fasilitas parkir sepeda di gedung pemerintahan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan yang ada di Ibu Kota.

Bahkan akibat kurangnya fasilitas parkir itu Hana mengaku kerap terlibat cekcok dengan sejumlah orang mulai dari petugas keamanan hingga pemilik tempat. Keributan tak lain karena banyak fasilitas sepeda yang belum tersedia. “Seperti hari ini, masa pesepeda harus parkir di lantai basement,” keluhnya. (Lihat videonya: Ibu Tiri Aniaya Balita dengan Pulpen hingga Tewas)

Hana mengaku bersepeda sudah menjadi bagian hidupnya yang sulit dilepaskan. Sejak gadis dia suka bersepeda. Hampir setiap hari Hana pun besepeda dari rumahnya di Depok menuju tempat kerjanya di Blok M. Namun, Hana memanfaatkan KRL untuk memperlancar perjalanannya. “Apalagi sekarang KRL agak sepi, jadi enggak perlu berdesak desakan saat bawa sepeda,” katanya.

Setiap sore, sebelum perjalanan pulang, Hana berkeliling Jakarta terlebih dulu. Dengan mengayuh sepeda Brompton, dia biasa bersepeda hingga menjelang tengah malam. Namun, di saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSSB) saat ini, Hana justru waswas jika harus bersepeda di atas pukul 22.00 WIB. Apalagi, harga sepedanya tergolong tidak murah. Menjamurnya minat warga bersepeda, menurut Hana, harus diimbangi peningkatan keamanan agar mereka tidak menjadi korban kejahatan. (Yan Yusuf)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak