Kurikulum dan Kompetensi Global

Sabtu, 16 April 2022 - 10:44 WIB
loading...
Kurikulum dan Kompetensi Global
Bimo Joga Sasongko. FOTO/Dok SINDO
A A A
Bimo Joga Sasongko
Lulusan FH Pforzheim Jerman. Pendiri Euro Management Indonesia.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dalam peluncuran Merdeka Belajar episode ke-19 bertajuk “Rapor Pendidikan Indonesia” menegaskan bahwa Kurikulum Merdeka hadir untuk mengatasi krisis pembelajaran di Indonesia.

Penerapan Kurikulum Merdeka diharapkan berdampak pada terciptanya generasi adaptif yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman dengan kekuatan mereka sendiri.

Pada era sekarang ini pertukaran dan pengiriman pelajar dan mahasiswa keluar negeri semakin banyak dilakukan oleh semua bangsa. Seperti, program the Road of Eurasian Civilization, di mana mahasiswa didorong untuk bepergian ke luar negeri dan mempelajari pengetahuan, orang, dan budaya baru di belahan dunia lain.

Dalam hal ini Indonesia saat ini juga menerima tamu dari negara lain. Implikasinya kurikulum dan sistem pembelajaran kita mesti adaptif dengan perkembangan dunia dan kompetensi global.

Dewan Pembina PGRI Dudung Nurullah Koswara menyampaikan, implementasi Kurikulum Merdeka memberikan perubahan besar terhadap guru dan siswa. Dengan mengedepankan proses pembelajaran yang esensial dan minat bakat, proses ini akan menjadi sebuah interaksi yang sesuai dan menciptakan ruang pembelajaran yang lebih positif.

Dampak yang terjadi dengan Implementasi Kurikulum Merdeka membuat proses pembelajaran di ruang kelas terasa lebih merdeka dan sesuai dengan perkembangan Iptek.

Kurikulum Merdeka mesti bersinergi dengan pengembangan kompetensi guru dan platform Merdeka Mengajar.

Dengan adanya program Guru Penggerak dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kemendikbudristek menunjukkan komitmennya untuk bersama-sama mendampingi para guru agar menjadi guru yang lebih kompeten serta dapat berkembang terus ke depannya.

Visi pendidikan yang perlu disepakati bersama yakni pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia merdeka, mandiri, dengan karakter dan kompetensi yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila.

Selama ini Kemendikbud melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) menggalakkan program bertajuk Gerakan Literasi untuk Mewujudkan Pelajar Pancasila. Gerakan tersebut bertujuan memberikan pemahaman tentang peran vital literasi untuk menghasilkan sumber daya manusia unggul. Yaitu, pelajar yang belajar sepanjang hayat, menguasai kompetensi global yang dicirikan oleh nilai-nilai Pancasila yaitu profil pelajar Pancasila dengan kriteria beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berakhlak, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global.

Perlu pembelajaran literasi integral yang meliputi literasi etika, literasi informasional, dan literasi fungsional. Di samping itu juga menekankan pentingnya pendekatan dan pemberdayaan ekosistem dalam mewujudkan gerakan literasi.

Dalam aspek bahasa, perlu ditekankan nilai-nilai luhur Pancasila yang berasal dari kearifan lokal bisa terus digali, ditumbuhkan dan dibiasakan dalam berbahasa sehari-hari dengan konsisten sehingga bisa menjadi pelajar Pancasila.

Selama ini Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud menjadi laboratorium kebhinekaan dalam berbahasa Indonesia. Dengan 718 bahasa lokal, Bahasa Indonesia menjadi Bahasa pemersatu di antara ratusan suku bangsa Indonesia.

Mengembalikan atau mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila kepada generasi milenial perlu metode yang lebih pas. Era Industri 4.0 dan gelombang disrupsi teknologi harus dipahami secara baik oleh generasi muda saat ini.

Metode membumikan Pancasila sebagai ideologi negara telah dilakukan beberapa dekade lalu. Namun, masalah sekarang lebih kompleks. Hal ini karena perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang sangat lengket dalam kehidupan masyarakat.

Untuk mewujudkan metode diatas dibutuhkan program yang masif berbentuk mentorship. Pada era orde baru peran mentorship dilaksanakan oleh para penatar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Di tingkat nasional para mentor itu disebut dengan istilah Manggala P4.

Menurut Lowenstein dan Bradshaw, Mentorship adalah suatu bentuk sosialisasi untuk peran profesional yang mendorong pencapaian program nasional. Karena perkembangan zaman bentuk penataran P4 tentunya berubah materi dan metodenya.

Para penatar atau mentor spesifikasi harus relevan dengan kondisi obyektif yang tengah memasuki Industri 4.0. Mentorship dalam program pembinaan ideologi Pancasila pada saat ini sebaiknya menekankan kepada pembentukan pendidikan karakter dengan pendekataan yang konkret yakni penguatan profesionalitas anak bangsa berbasis Iptek.

Mentorship kebangsaan pada saat ini bisa diperankan oleh mereka yang memiliki kapasitas pendidikan karakter dan budi pekerti. Selain itu juga didukung oleh para inovator maupun perorangan yang memiliki karya dan pengalaman luar biasa.

Gelombang disrupsi harus dipahami secara baik oleh generasi muda saat ini dalam konteks nilai-nilai Pancasila. Banyak ragam profesi yang terkubur lalu muncul jenis profesi baru. Agar generasi muda memahami fenomena diatas lebih dini, dibutuhkan program mentorship yang para pengajarnya memiliki kapasitas dan pengalaman untuk menjadi navigator.

Para siswa sekolah pada saat ini perlu menghayati dan mengamalkan Pancasila dengan metode yang lebih menarik. Yakni mengawinkan nilai Pancasila dengan aspek ragam profesi yang kelak akan digeluti oleh siswa.

Nilai-nilai Pancasila harus bisa mewanai pola dan sikap profesionalitas masyarakat. Nilai itu merupakan pupuk untuk menumbuhkan cita-cita seseorang. Untuk menumbuhkan sikap profesionalisme dan ragam profesi diperlukan sistem nilai yang bermuara kepada pranata dan persepsi masyarakat dalam kondisi kekinian.

Saatnya cakrawala kaum milenial dibuka lebar sehingga mereka sejak dini memahami berbagai jenis profesi baru yang sesuai dengan zaman. Profesi baru tersebut berstandar dunia yang tentunya membutuhkan penguasaaan bahasa asing dan budaya bangsa yang bisa mempercepat kemajuan.
(ynt)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1864 seconds (10.55#12.26)