Korona dan Tahun Ajaran Baru di Pesantren
Kamis, 18 Juni 2020 - 15:09 WIB
loading...
A
A
A
Ada pesantren yang membuat SOP lebih ketat untuk pencegahan korona. Misalnya, pondok pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran. Sebelum kedatangan ke pesantren, santri diwajibkan mengisolasi diri secara mandiri selama 14 hari. Ketika berangkat, santri sudah mengantongi surat sehat dari dokter, menanda-tangani surat pernyataan telah isolasi mandiri, dan surat screening mandiri korona. Proses kedatangan santri di pesantren ini dilakukan secara bertahap dan bergelombang. Jarak kedatangan antara santri yang dijadwalkan tiba pada gelombang pertama, kedua dan seterusnya adalah 14 hari.
Jumlah hari ini menggunakan rumus masa inkubasi korona. Jadi, ketika santri yang gelombang pertama datang, mereka tidak langsung masuk kamar mereka, melainkan diarahkan menuju kamar isolasi secara berkelompok di ruangan khusus dengan partisi dan jarak, selama 14 hari lagi. Para santri gelombang pertama selesai masa isolasi, mereka diarahkan masuk kamar masing-masing. Lalu, berangkatlah santri dengan jadwal gelombang kedua dengan proses dan prosedur yang sama.
Untuk mencegah penyebaran sedemikian rupa, santri harus membawa masker, handsanitizer, sajadah, piring, dan sendok makan secara pribadi. Walisantri juga tidak diperbolehkan melakukan kunjungan selama masa pandemi ini.
Tentu pesantren berbeda dengan sekolah yang tanpa pesantren. Interaksi setelah masa isolasi berakhir secara protokol lebih terjamin tidak terjadinya penyebaran dan terpapar korona. Protokol yang ketat diharapkan menjadi upaya pencegahan. Di sinilah mungkin perlu dimaklumi dan dipahami oleh semua pihak, bahwa pesantren dalam hal ini bukan menentang kebijakan pemerintah. Karena sistem pembelajaran dan interaksi antar penghuni pesantren tidak terkontaminasi dengan pihak luar. Sekolah non pesantren, dengan siswa yang pulang pergi, tentu sudah tepat mengikuti kebijakan Nadiem dengan pembelajaran online.
Terhadap beberapa pesantren, misalnya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Ishlah Sendangagung Lamongan, dan lain-lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengapresiasi upaya pesantren ini. Pemerintah Jawa Timur membuat program kerjasama bertajuk Pesantren Tangguh Semeru Covid-19. Yaitu, sebuah program apresiasi terhadap pesantren yang benar-benar siap menerapkan protokol pencegahan korona, terutama menghadapi tahun ajaran baru.
Kepedulian terhadap Santri dan Pendidik
Semua pelaku pendidikan pasti berpikir bahwa kebijakan terbaik yang diambil adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa atau santri dan juga pendidik. Bagi sekolah non pesantren dengan segala resiko yang dihadapi, pembelajaran online merupakan kebijakan paling safe untuk melindungi siswa dan pendidik dari penyebaran korona. Pembelajaran tetap berjalan, siswa tetap mendapatkan hak belajar, dan pendidik tetap memiliki aktifitas yang lancar untuk penghasilannya.
Jumlah hari ini menggunakan rumus masa inkubasi korona. Jadi, ketika santri yang gelombang pertama datang, mereka tidak langsung masuk kamar mereka, melainkan diarahkan menuju kamar isolasi secara berkelompok di ruangan khusus dengan partisi dan jarak, selama 14 hari lagi. Para santri gelombang pertama selesai masa isolasi, mereka diarahkan masuk kamar masing-masing. Lalu, berangkatlah santri dengan jadwal gelombang kedua dengan proses dan prosedur yang sama.
Untuk mencegah penyebaran sedemikian rupa, santri harus membawa masker, handsanitizer, sajadah, piring, dan sendok makan secara pribadi. Walisantri juga tidak diperbolehkan melakukan kunjungan selama masa pandemi ini.
Tentu pesantren berbeda dengan sekolah yang tanpa pesantren. Interaksi setelah masa isolasi berakhir secara protokol lebih terjamin tidak terjadinya penyebaran dan terpapar korona. Protokol yang ketat diharapkan menjadi upaya pencegahan. Di sinilah mungkin perlu dimaklumi dan dipahami oleh semua pihak, bahwa pesantren dalam hal ini bukan menentang kebijakan pemerintah. Karena sistem pembelajaran dan interaksi antar penghuni pesantren tidak terkontaminasi dengan pihak luar. Sekolah non pesantren, dengan siswa yang pulang pergi, tentu sudah tepat mengikuti kebijakan Nadiem dengan pembelajaran online.
Terhadap beberapa pesantren, misalnya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Ishlah Sendangagung Lamongan, dan lain-lain, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengapresiasi upaya pesantren ini. Pemerintah Jawa Timur membuat program kerjasama bertajuk Pesantren Tangguh Semeru Covid-19. Yaitu, sebuah program apresiasi terhadap pesantren yang benar-benar siap menerapkan protokol pencegahan korona, terutama menghadapi tahun ajaran baru.
Kepedulian terhadap Santri dan Pendidik
Semua pelaku pendidikan pasti berpikir bahwa kebijakan terbaik yang diambil adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa atau santri dan juga pendidik. Bagi sekolah non pesantren dengan segala resiko yang dihadapi, pembelajaran online merupakan kebijakan paling safe untuk melindungi siswa dan pendidik dari penyebaran korona. Pembelajaran tetap berjalan, siswa tetap mendapatkan hak belajar, dan pendidik tetap memiliki aktifitas yang lancar untuk penghasilannya.