Stunting Harus Diatasi secara Konsisten untuk Mewujudkan Indonesia Emas
Rabu, 06 April 2022 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
"Pembangunan SDM harus jadi super prioritas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab waktunya terbatas untuk mewujudkan pravelensi stunting yang lebih baik harus memperkuat konvergensi sejumlah sektor," katanya.
Pakar Ilmu gizi yang juga Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal berpendapat upaya untuk mencegah stunting memerlukan asupan gizi yang cukup dalam waktu lama, perilaku pengasuhan yang baik, dan ketersediaan pangan yang memadai di tingkat rumah tangga. Fasli menilai kondisi saat ini 22% bayi mengalami stunting sejak lahir, bisa dipangkas lewat intervensi gizi di tingkat remaja putri dan ibu hamil.
"Dengan langkah itu, ada peluang penurunan angka stunting 10%-12% bila dilakukan intervensi di fase sebelum kelahiran ini," katanya.
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem, Amelia Anggraini berpendapat mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi stunting, maka semua pihak harus terlibat dalam upaya perbaikan ke arah yang lebih baik. Menurut Amelia, perlu sinergi antarlembaga yang lebih baik dan pemutakhiran data agar upaya menekan angka stunting tepat sasaran.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah 2016-2020, Dyah Puspitarini menilai masalah stunting di Indonesia erat dengan budaya yang ada di Tanah Air. Pendekatan dari sisi intervensi budaya, menurut Diah, juga sangat diperlukan.
Wartawan senior, Saur Hutabarat menilai solusi program untuk mengatasi stunting sudah sangat jelas. Yang belum jelas, menurut Saur, adalah intervensi skala mikro di tingkat desa karena belum ada gambaran terkait desa dengan jumlah penderita stunting. Selain itu, perlu imbauan atau larangan iklan susu untuk bayi 0-6 bulan agar memaksimalkan pemberian ASI eksklusif.
"Upaya lain yang harus dilakukan adalah mencegah pernikahan dini, karena ketidaksiapan ibu untuk melahirkan merupakan salah satu penyebab bayi lahir dengan stunting," katanya.
Pakar Ilmu gizi yang juga Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal berpendapat upaya untuk mencegah stunting memerlukan asupan gizi yang cukup dalam waktu lama, perilaku pengasuhan yang baik, dan ketersediaan pangan yang memadai di tingkat rumah tangga. Fasli menilai kondisi saat ini 22% bayi mengalami stunting sejak lahir, bisa dipangkas lewat intervensi gizi di tingkat remaja putri dan ibu hamil.
"Dengan langkah itu, ada peluang penurunan angka stunting 10%-12% bila dilakukan intervensi di fase sebelum kelahiran ini," katanya.
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP Partai NasDem, Amelia Anggraini berpendapat mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi stunting, maka semua pihak harus terlibat dalam upaya perbaikan ke arah yang lebih baik. Menurut Amelia, perlu sinergi antarlembaga yang lebih baik dan pemutakhiran data agar upaya menekan angka stunting tepat sasaran.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah 2016-2020, Dyah Puspitarini menilai masalah stunting di Indonesia erat dengan budaya yang ada di Tanah Air. Pendekatan dari sisi intervensi budaya, menurut Diah, juga sangat diperlukan.
Wartawan senior, Saur Hutabarat menilai solusi program untuk mengatasi stunting sudah sangat jelas. Yang belum jelas, menurut Saur, adalah intervensi skala mikro di tingkat desa karena belum ada gambaran terkait desa dengan jumlah penderita stunting. Selain itu, perlu imbauan atau larangan iklan susu untuk bayi 0-6 bulan agar memaksimalkan pemberian ASI eksklusif.
"Upaya lain yang harus dilakukan adalah mencegah pernikahan dini, karena ketidaksiapan ibu untuk melahirkan merupakan salah satu penyebab bayi lahir dengan stunting," katanya.
(abd)
Lihat Juga :