Stunting Harus Diatasi secara Konsisten untuk Mewujudkan Indonesia Emas
Rabu, 06 April 2022 - 20:42 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Erna Mulati mengungkapkan Indonesia mengalami double burden terkait kekurangan gizi baik secara mikro maupun makro nutrisi. Erna menilai ancaman stunting akan semakin besar pascabalita mendapat makanan tambahan.
Baca juga: BKKBN: Faktor Lingkungsn Penyebab Tingginya Stunting di 5 Daerah Ini
Untuk mengatasi kondisi itu, menurut Erna, Kementerian Kesehatan telah berupaya melakukan intervensi gizi sebelum kelahiran dan setelah bayi lahir. Intervensi sebelum kelahiran, ujar Erna, ditujukan bagi para remaja putri dan Ibu hamil antara lain lewat pemberian tablet tambah darah dan tambahan asupan gizi. Sedangkan intervensi gizi setelah kelahiran, lewat pemberian ASI eksklusif dan makanan pelengkap ASI.
"Sasaran intervensi gizi saat ini tercatat 12 juta remaja putri dan 4,8 juta ibu hamil," katanya.
Ketua Komisi IX DPR Felly Estelita Runtuwene mengungkapkan upaya mengatasi stunting merupakan hal yang penting, karena kekurangan gizi dapat menekan PDB sebesar 3% per tahun. Felly memaparkan keberhasilan Peru yang mampu menekan angka stunting sebesar 14% dalam 8 tahun. Menurutnya, upaya yang serius dari semua pihak harus dilakukan dan perlu program yang spesifik terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi.
"Sangat diperlukan program spesifik yang punya daya angkat, sehingga harus ada konvergensi antarsektor untuk mewujudkan Indonesia dengan pravelensi stunting yang lebih baik," ujarnya.
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menegaskan kualitas SDM harus menjadi perhatian bersama, karena hari ini perbaikan kualitas keluarga memerlukan kualitas SDM anggota keluarga yang baik. Menurut Hasto, kalau kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik, Indonesia akan kehilangan peluang mendapat bonus demografi.
Baca juga: BKKBN: Faktor Lingkungsn Penyebab Tingginya Stunting di 5 Daerah Ini
Untuk mengatasi kondisi itu, menurut Erna, Kementerian Kesehatan telah berupaya melakukan intervensi gizi sebelum kelahiran dan setelah bayi lahir. Intervensi sebelum kelahiran, ujar Erna, ditujukan bagi para remaja putri dan Ibu hamil antara lain lewat pemberian tablet tambah darah dan tambahan asupan gizi. Sedangkan intervensi gizi setelah kelahiran, lewat pemberian ASI eksklusif dan makanan pelengkap ASI.
"Sasaran intervensi gizi saat ini tercatat 12 juta remaja putri dan 4,8 juta ibu hamil," katanya.
Ketua Komisi IX DPR Felly Estelita Runtuwene mengungkapkan upaya mengatasi stunting merupakan hal yang penting, karena kekurangan gizi dapat menekan PDB sebesar 3% per tahun. Felly memaparkan keberhasilan Peru yang mampu menekan angka stunting sebesar 14% dalam 8 tahun. Menurutnya, upaya yang serius dari semua pihak harus dilakukan dan perlu program yang spesifik terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi.
"Sangat diperlukan program spesifik yang punya daya angkat, sehingga harus ada konvergensi antarsektor untuk mewujudkan Indonesia dengan pravelensi stunting yang lebih baik," ujarnya.
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menegaskan kualitas SDM harus menjadi perhatian bersama, karena hari ini perbaikan kualitas keluarga memerlukan kualitas SDM anggota keluarga yang baik. Menurut Hasto, kalau kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik, Indonesia akan kehilangan peluang mendapat bonus demografi.
Lihat Juga :