Urgensi Vaksin Covid-19 dan Peluang Bio Farma Indonesia
Kamis, 18 Juni 2020 - 07:29 WIB
loading...
A
A
A
Strategi penemuan atau pencarian vaksin membutuhkan kerja sama global dalam upaya pencegahan dan pengobatan dengan menggunakan vaksin Covid-19. Dasar pengembangan ini meliputi program pengembangan vaksin yang dilaporkan dan dikoordinasikan dengan WHO. Berdasarkan laporan WHO sejauh ini telah dilaporkan 115 kandidat vaksin Covid-19. Dari 115 tersebut, 78 di antaranya dikonfirmasi sedang dalam pengujian praklinis/klinis, sedangkan 37 tidak dikonfirmasi. Dari 78 proyek aktif yang dikonfirmasi, 73 saat ini berada pada tahap eksplorasi atau praklinis. Sementara selebihnya sudah masuk uji klinis, yaitu mRNA-1273 dari Moderna, Ad5-nCoV dari CanSino Biologicals, INO-4800 dari Inovio, LV-SMENP-DC, dan aAPC khusus patogen dari Shenzhen Geno-Immune Medical Institute.
Demikian pula sejumlah kandidat vaksin lain telah mengindikasikan untuk memulai pengujian pada manusia (Uji Klinis) tahun 2020 ini. Keragaman platform teknologi dalam pengembangan dan pembuatan vaksin Covid-19 dilakukan berdasarkan beberapa jenis teknologi, seperti teknologi asam nukleat (DNA dan RNA), teknologi partikel atau peptida dari virus, teknologi protein rekombinan, atau plasmid virus yang dilemahkan. Bahkan, dewasa ini juga telah ditemukan jenis platform baru yang didasarkan pada DNA atau mRNA sehingga memberikan fleksibilitas lebih luas dalam hal manipulasi antigen dan potensi kecepatan.
Sebagai contoh, perusahaan farmasi Moderna memulai pengujian klinis vaksin berbasis mRNA-1273 hanya dua bulan setelah identifikasi urutan RNA virus Covid-19. Vaksin ini berdasarkan vektor virus menawarkan ekspresi protein tingkat tinggi dan stabilitas jangka panjang sehingga memicu respons imun yang kuat.
Dari beberapa kandidat vaksin aktif yang dikonfirmasi, ada 56 (72%) sedang dikembangkan oleh pengembang swasta/industri sehingga sisanya 22 (28%) proyek dipimpin oleh akademik, sektor publik, dan organisasi nirlaba lainnya. Meskipun sejumlah pengembang vaksin multinasional besar (seperti Janssen, Sanofi, Pfizer dan GlaxoSmithKine) telah terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19, banyak pengembang utama kecil dan/atau tidak berpengalaman dalam pembuatan vaksin skala besar.
Jadi, yang terpenting adalah memastikan adanya koordinasi dalam pembuatan vaksin dan kapabilitas pasokan serta kapasitas untuk memenuhi permintaan. Sebagian besar kegiatan pengembangan vaksin COVID-19 berada di Amerika Serikat, sebanyak 36 (46%) pengembang kandidat vaksin aktif yang dikonfirmasi dibandingkan dengan 14 (18%) di China, 14 (18%) di Asia (tidak termasuk China) dan Australia, dan 14 (18%) di Eropa.
Peluang “Bio Farma” Indonesia
Perjuangan mengembangkan vaksin sangat penting karena keharusan untuk adanya upaya mempercepat, ada indikasi bahwa vaksin bisa tersedia dalam penggunaan darurat minimal akhir tahun ini. Mengingat penyakit Covid-19 ini sudah menjadi pandemi dan memiliki tingkat penularan dan fatalitasnya yang tinggi.
Demikian pula sejumlah kandidat vaksin lain telah mengindikasikan untuk memulai pengujian pada manusia (Uji Klinis) tahun 2020 ini. Keragaman platform teknologi dalam pengembangan dan pembuatan vaksin Covid-19 dilakukan berdasarkan beberapa jenis teknologi, seperti teknologi asam nukleat (DNA dan RNA), teknologi partikel atau peptida dari virus, teknologi protein rekombinan, atau plasmid virus yang dilemahkan. Bahkan, dewasa ini juga telah ditemukan jenis platform baru yang didasarkan pada DNA atau mRNA sehingga memberikan fleksibilitas lebih luas dalam hal manipulasi antigen dan potensi kecepatan.
Sebagai contoh, perusahaan farmasi Moderna memulai pengujian klinis vaksin berbasis mRNA-1273 hanya dua bulan setelah identifikasi urutan RNA virus Covid-19. Vaksin ini berdasarkan vektor virus menawarkan ekspresi protein tingkat tinggi dan stabilitas jangka panjang sehingga memicu respons imun yang kuat.
Dari beberapa kandidat vaksin aktif yang dikonfirmasi, ada 56 (72%) sedang dikembangkan oleh pengembang swasta/industri sehingga sisanya 22 (28%) proyek dipimpin oleh akademik, sektor publik, dan organisasi nirlaba lainnya. Meskipun sejumlah pengembang vaksin multinasional besar (seperti Janssen, Sanofi, Pfizer dan GlaxoSmithKine) telah terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19, banyak pengembang utama kecil dan/atau tidak berpengalaman dalam pembuatan vaksin skala besar.
Jadi, yang terpenting adalah memastikan adanya koordinasi dalam pembuatan vaksin dan kapabilitas pasokan serta kapasitas untuk memenuhi permintaan. Sebagian besar kegiatan pengembangan vaksin COVID-19 berada di Amerika Serikat, sebanyak 36 (46%) pengembang kandidat vaksin aktif yang dikonfirmasi dibandingkan dengan 14 (18%) di China, 14 (18%) di Asia (tidak termasuk China) dan Australia, dan 14 (18%) di Eropa.
Peluang “Bio Farma” Indonesia
Perjuangan mengembangkan vaksin sangat penting karena keharusan untuk adanya upaya mempercepat, ada indikasi bahwa vaksin bisa tersedia dalam penggunaan darurat minimal akhir tahun ini. Mengingat penyakit Covid-19 ini sudah menjadi pandemi dan memiliki tingkat penularan dan fatalitasnya yang tinggi.
Lihat Juga :