Pandemi, Rasisme, dan Pemilu Presiden di AS

Selasa, 16 Juni 2020 - 06:27 WIB
loading...
A A A
Selanjutnya opini tentang hubungan rasial dan bagaimana Presiden Trump menangani isu tersebut juga negatif. Sekitar 58% menyatakan bahwa hubungan rasial di AS masih buruk. Sekitar 56% memandang bahwa Presiden Trump membuat hubungan rasial semakin buruk; hanya 15% yang menyatakan bahwa Trump telah membawa perubahan dalam hubungan rasial dan sekitar 13% menyatakan bahwa Trump sudah mencoba, namun gagal membawa kemajuan dalam isu rasial. Lebih lanjut, 65% menyatakan bahwa ungkapan rasis menjadi hal biasa sejak Trump menjadi presiden. Karena itu, bukan hal yang mengejutkan bahwa kasus kematian Floyd menjadi katalisator aksi unjuk rasa dan kerusuhan di AS mengingat bila dikaitkan dengan hasil survei di atas, menjelaskan rasa frustrasi dan keputusasaan komunitas kulit hitam atas rasisme sistemik yang telah lama mereka alami ditambah dengan pandemi Covid-19 yang berdampak besar terhadap kondisi ekonomi dan kesehatan mereka.

Pemilu Presiden

Aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang melanda Amerika Serikat pascakematian Floyd kemudian menjadi tes bagi dua calon presiden, yakni petahana Donald Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat, yang akan bertarung dalam pemilu presiden November mendatang. Jika melihat hasil survei Pew Research Center terkait kepercayaan terhadap Trump dalam isu hubungan rasial, pandangan publik cenderung negatif terhadap Trump. Selain itu, Trump dinilai gagal dalam mengatasi pandemi Covid-19 di Amerika yang mencapai lebih dari 1,8 juta kasus. Dalam polling yang dilakukan beberapa media di AS, seperti CNN, menunjukkan popularitas Biden (51%) melebihi Trump (41%), sementara polling dari Fox News menunjukkan keunggulan Biden (49%) atas Trump (40%).

Hasil polling juga menunjukkan bahwa Partai Demokrat akan meraih suara terbanyak dari pemilih kulit hitam yang merupakan kelompok pendukung penting. Namun, hal ini tidak menjamin bahwa warga kulit hitam akan sepenuhnya mendukung Biden. Di Colombia, kota di mana Biden mendeklarasikan kemenangan setelah South Carolina, para pengunjuk rasa menyatakan bahwa mereka menuntut lebih dari apa yang dijanjikan calon presiden dalam pemilu. Tidak hanya keadilan bagi kematian Floyd, namun lebih dari itu, perubahan kekuatan politik dan ekonomi yang akan mencegah kematian warga kulit hitam lainnya di masa mendatang.

Dalam wawancara dengan New York Times (31/5), aktivis hak sipil seperti Stacey Abrams dan mantan calon presiden Jesse Jackson menyatakan bahwa jika Demokrat menginginkan warga kulit hitam memberikan suara sepenuhnya dalam pemilu presiden, para pemimpin partai harus mendengarkan alasan mengapa mereka marah. Hal ini tidak hanya cukup dengan ketiadaan Trump. Dalam konteks ini, Biden tidak akan mampu mengatasi rasisme tanpa menggarisbawahi ketidaksetaraan sistemik yang terjadi hanya dengan kembali ke masa pra-Trump. Menurut Jackson, untuk memenangkan pemilu presiden November mendatang dan menepati janjinya untuk mempersatukan Amerika, Biden membutuhkan lebih dari sekedar koalisi yang memenangkannya dalam konvensi Partai Demokrat. Selanjutnya, untuk meraih dukungan pemilih muda, Biden harus menawarkan sesuatu yang lebih besar dari janji mengalahkan Trump sebagai jawaban atas keputusasaan warga kulit hitam. Jika performa Biden mampu menawarkan janji lebih besar bagi warga kulit hitam, bukan mustahil polling yang telah dilakukan beberapa media di AS akan menjadi kenyataan. (*)
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Menhan Ungkap Asal Muasal...
Menhan Ungkap Asal Muasal Amerika Serikat Ajukan Overflight Access ke Indonesia
Menkomdigi Tegaskan...
Menkomdigi Tegaskan Pertukaran Data dengan AS Bukan Data Kependudukan
Amerika Serikat di Persimpangan...
Amerika Serikat di Persimpangan Damai Pada Perang Iran
ART RI-AS Dinilai Tidak...
ART RI-AS Dinilai Tidak Mencerminkan Prinsip Timbal Balik, Indonesia Tanggung Beban Lebih Besar
AS Bohong, Kapal Induk...
AS Bohong, Kapal Induk Gerald R Ford Ternyata Rusak Parah saat Perang Lawan Iran, Ini Buktinya!
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
AS Batal Kirim Rudal...
AS Batal Kirim Rudal Tomahawk ke Jerman Diduga Khawatir dengan Pembalasan Rusia
Rekomendasi
BYD Umumkan Akan Jualan...
BYD Umumkan Akan Jualan Robot Humanoid lewat Dealer Mobil
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
Berita Terkini
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
3 Pati dan Pamen Dimutasi...
3 Pati dan Pamen Dimutasi Kapolri ke Kortastipidkor, Ada Irjen hingga Kombes Pol
7 Terdakwa Kasus Suap...
7 Terdakwa Kasus Suap Sertifikasi K3 Kemnaker Dihukum 4 hingga 6,5 Tahun Penjara
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved